24 February 2018

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (16

Episode  16

Aceh – Dunia Yang Sedang Dicari Kaphe Belanda 

Bagian Pertama

16

 

Adanya sebuah kemelut dari sebuah kesultanan di Aceh, ternyata memberi berkah tersendiri bagi berkiprahnya kaum perempuan dalam dunia kepemimpinan di negeri Serambi Makah ini.

Lahir dari hasil pernikahan Sultan Iskandar Muda dan Puteri Kamaliah, pada 1612, namanya Puteri Seri Alam. Saat lahirnya ayahnya sedang melakukan pembersihan terhadap kuku-kuku kekuasaan Portugis yang ingin bercokol di Pahang, penanjung Malaya. Perubahan lingkungan dan pergeseran budaya telah mempengaruhi dinamika kepemimpinan perempuan di Aceh pada abad ke 16. Secara hukum, banyak pengamat mempermasalahkan kepemimpinan perempuan. Mereka melihatnya dari segi hokum yang  terlalu kaku. Akan tetapi, dari konteks zaman Nabi Muhammad Saw, siapapun perempuan yang mampu untuk mengelola sebuah ranah yang jarang digeluti perempuan, nabi tidak melarang. Mungkin ini pula yang ditafsirkan oleh ulama Aceh serta Tarekat aliran Ibnu Arabi yang dikenal sebagai aliran Wujudiyah tak menyetujui opsi kepemimpinan perempuan.

Akan tetapi Ulama Besar dari Rander, India, Nurudin Ar Raniri  memberi opsi membolehkan kepemimpinan perempuan, sehingga naiklah Putri Seri Alam ke tampuk kekuasaan dengan alas an-alasan dan argumen-argumen yang sangat kuat dari Syekh Nurudin Ar-Raniri. Sejak itu,putri Mahkota yang bernama Putri Seri Alam itu diangkat sebagaiSultanat (Sultan Perempuan) dengan gelar  Sultana Safiatuddin.  

Sultanah Safiatuddin diberi gelar  Paduka Sri Sultanah Ratu Safiatuddin Tajul-’Alam Syah Johan Berdaulat Zillu’llahi fi’l-’Alam binti al-Marhum Sri Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Syah ini adalah anak tertua dari Sultan Iskandar Muda. Dilahirkan pada titimangsa  1612 dengan nama Putri Sri Alam, lalu diberi gelar  Safiatud-din Tajul-’Alam yang  artinya “Perempuan yang memiliki kemurnian iman, mahkota dunia.” Safiatud-din Tajul-’Alam  memerintah pada titimangsa 1641-1675. Safiatud-din Tajul-’Alam sejak masa remaja sangat suka menulis sajak, menulis esay (cerita) dan ikut pula memajukan tradisi literasi (membaca dan menulis) di Tanoh Aceh pada masa pemerintahannya.

 

Sultan Iskandar Tsani (1637-1641)yang menjadi suaminya wafat pada titimangsa 1641 pihak kesultanan sangat sulit mencari pengganti dari kaum laki-laki yang memiliki kemampuan dan kriteria untuk diangkat sebagai sultan dari kelangan keturunan Raja Iskandar Muda.   Sedikit keributan dari para ulama yang menentang dan pro atas diangkatnya Safiatud-Din mencuat. Pada akhirnya Safiatud-Din ditabalkan sebagai sultan perempuan. Pada masa pemerintahannya kemajuan ilmu pengetahuan, sastra dan kesusasteraaan mengalami kemajuan yang sangat mengejutkan. Digambarkan sosok perempuan Aceh pertama yang menginspirasi naiknya perempuan-peremnpuan hebat Aceh lainnya ke tampuk kegemilangan sebagai raja (sultanat), sebagai ahli pendidik, sebagai pendekar perang, sebagai ahli agama dan banyak bidang lainnya,  Safiatud-din juga dikenal sebagai pribadi yang sangat cerdas dan  aktif dalam eksplorasi ilmu pengetahuan  dan sastra serta yang berkaitan dengan dunia ilmiah di Aceh.

Tentu saja ini jauh berbeda dengan raja-raja (Sultan)yang perkembangan ilmu dan kesusasteraan) tidaki semaju pada zaman Safiatud-din. Safiatud-din juga dikenal menguasai  bahasa dan sastra  Aceh dan Melayu. Bahasa asing yang dia kuasai tercata bahasa Arab, bahasa Persia, bahkan bahasa  Spanyol dan Urdu. Di masa Safiatuddin inilah lahirnya buku-buku karya besar sykeh  Nuruddin ar-Raniry, Abdur Rauf As-Sumantrani, Hamzah Fanshuri.Walaupun di zamannya terjadi cedera intelektual, berupa terjadinya pertentangan sengit antara Tarekat Ibnu Arabi (Hamzah Fanshuri, Hamzah fanshuri dan Syamsudin As-Sumatrani)  yang dikenal Sebagai Tarekat Wujudiyah dan Tarekat  yang dianut oleh Sykeh Nuruddin Ar-raniri. Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh Namun dari segi kekuatan Negara, sultanat Safiatud-Din, memiliki kelemahan.

 

Sultanah Safiatudin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengatetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa pemerintahannyalah lahir karya-karya besar dari Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf al-Singkili atau Syamsudin A--Sumatrani. Ia juga berhasil menolak dengan tegas usaha  kaphe-kaphe  Belanda untuk meminta/ meminjam sepotong tanah  di tanoh  Aceh. Kaphe-kaphe Belanda akhirnya gigit jari,  monopoli  perdagangan untuk pertambangan timah, minyak bumi, tembaga dlsbnya langsung ditolak mentah oleh Sultanan Safiatuddin.

Dalam pemerintahan Sultana Safiatuddin, ada dua orang ulama yang berseberangan, akan tetapi Sultana mampu menjadikan keduanya sebagai dua bilah sayap untuk menjalankan kesultanan Aceh. Syekh Nurudin Ar-raniri sebagaisayap kanan, dan Abdur-Raufal-Singkili sebagaisayap kiri. Mereka menjadi penasehat sultana dalam menjalankan pemeritahan.  Syekh Abdurrauf Singkil yang bergelar Teungku Syiah Kuala diminta oleh  Sultana (Ratu) untuk menulis kitab: “Mir'at al-Thullab fî Tasyil Mawa'iz al-Badî'rifat al-Ahkâm al-Syar'iyyah li Malik al-Wahhab”,  sebagai pedoman untuk para  hakim (qadhi) dalam menjalankan tugas msebagai hakim Negara.

Sedangkan Sykeh Nuruddin menulis buku berjudul “Hidayatul Imam” yang dimaksudkan untuk panduan keagamaan danhukum-hukum Negara bagi  kepentingan rakyat Aceh.   Karena memerintah dalam waktu cukup panjang, pada titimangsa 1644-1675, semua halyang berkenaan dengan kebudayaan, peradaban Islam di Aceh mendapat perhatian sehingga mencapaikemajuan sebagaimana kita mengenal adanya kemajuan dalam kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad dan kekhalifahan Umayya di Cordova,  Spanyol (Andalusia).Sultana Safiatuddinlah yang menjadi pelopor terbentuknya barisan perempuan pembela tanah air, yang banyak berkiprah sebagai prajurit marinir bahkan menjadi admiral (Laksamana) yang memimpin kapal perang Aceh baik dimasa Safiatuddin, maupun setelahnya.

Catatan para musafir Portugis,  Inggris dan BelandadanPerancis menuliskan tentang kesan-kesannya tentang Ratu Safiatuddin. Rata-rata mereka / parapengamat dari Barat itu menulis:  Ia (Ratu Safiatuddin)  sangat bijak dalam menjalankan pemerintahan, cakap dan cerdas. Pada pemerintahannya hukum, adat dan sastra berkembang dengan sangat baik baik. Bahkan, pada masa Ratu inilah, pembentukan dasar-dasar bahasa Melayu dengan melahirkan karya-karya sastra berupa puisi, kisah dan buku-buku ilmiah dan agama sehingga dapat menjadi acuan kemajuan bahasa Melayu ke depan yang akhirnya menjadi bahasa Indonesia kini. Walaupun Ratu Safiatuddin memegang tampuk pemerintahan  di saat-saat  paling sulit disebabkan semenanjung  Malaka sedang jadi rebutan kaphe-kaphe dan  Portugis. Namun demikian, Ratu Safiatuddin sangat  dihormati oleh rakyatnya dan sangat disegani kaphe-kaphe Belanda, kafir Portugis, Inggris, danpenguasa India dan Arab.

Pada masa Sultana Safiatuddin inilah kerajaan Aceh mencapai kemakmuran yang tinggi, sehingga setiap rakyat hidup dalam keadaan sejahtera dan sentosa. Demikian sebut ulama besar Kerajaan Aceh, Nurudin Ar-Raniri.

 

Ratu Safiatuddin adalah ratu yang bersikap  adil, sehingga disayang oleh rakyatnya.  Secara kekuatan militer danpolitik memang tidak sekuat masa ayahnya. Ratu Safiatuddin lebih banyak  memperhatikan  bidang peradaban dan kebudayaan. Namun kaphe-kaphe Belanda yang tengah mencari Aceh sebagai tujuan penjajahanya tak bewgitu saja dapat mencaplok Aceh, sebagaimana merekamulaipada tahun 1873 dimana JenderalJHR Kohler menemuiajalnya di depan mesjidAbdur-Rahman, Banda Aceh, pada 26 Maret 1873.  Hal ini dapat dilihat dari pengantar seluruh kitab yang menuliskan bahwa atas anjuran Sri Ratu lah kitab itu ditulis.

Jasa-jasa lain yang dibuat oleh Ratu Safiatuddin adalah  meningkatkan kedudukan kaum wanita dengan membuat peraturan guna  melindungi kaum sebangsanya.Dengan peraturan ini pulalah, Ratu Safiatuddin memberipeluang bagi kaum perempuan Aceh berikutnya untukambilbagian dalam kekuasaan Negara,hingga ada yang menjadi menteripertahanan sepertiAdmiral Malahayati.  Ratu Safiatuddin  juga mewariskan sebuah  Cap Sikureung, sebuah cap pengesahan kenegaraan ,yaitu Negara Aceh Darussalamyang dikenal dengan (Stempel) sah Kerajaan Aceh.

 

Dengan Cab Sikureung (Cap Sembilan).

Dalam pemerintahan yang tidak terlalu panjang, terdapat 9 perempuan berprestasi yang bersifat kenegaraan baik dalam bidang kepemimpinan (kepala Negara), menteri pertahanan, Pendidik, kepala / pemimpin gerilya di masa penjajahan kaphe-kaphe Belanda, ahli agama (Ulama perempuan) dan guru/pendidik bagi anak-anak Aceh. (Bersambung)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...