20 August 2019

Renungan Surah As-Shoff Bagian 4: Musa AS dan Umatnya

Oleh: Imam Shamsi Ali
Presiden Nusantara Foundation

Bagian ketiga dari renungan ini membahas tentang urgensi ummat membangun "SHAF"(barisan) yang solid. Tentu shaf atau barisan yang dimaksud adalah kesatuan, kebersamaan dan persaudaraan dalam anyaman "keragaman" yang ada.

Kesatuan itu digambarkan bagaikan "bun-yaan" (bangunan) yang kokoh. Tentu ilustrasi ini bukan sekedar penyebutan. Tapi juga punya makna yang dalam. Bahwa kesatuan umat itu bagaikan gedung, yang tentunya dalam proses pembangunan itu melibatkan banyak unsur. Ada fondasi, tiang, dinding, lantai, saluran air, atap, pintu, jendela, dan seterusnya. Bahkan bahan dari bangunan itu juga ragam. Ada pasir, semen, air, besi, batu, kayu, dan seterusnya.

Maknanya bahwa keragaman dalam kesatuan itu adalah keniscayaan. Adanya berbagai perbedaan dalam tubuh kesatuan umat itu sifatnya alami. Bahkan memang menjadi bagian dari "sunnatullah" (aturan Allah) dalam kehidupan.

Musa AS dan umatnya

Selanjutnya Allah SWT mengingatkan tantang interaksi seorang rasul dan umatnya. Kisah rasulullah Musa AS dan umatnya Bani Israel adalah kisah yang terbanyak disebutkan dan diulang dalam Al-Qur'an.

Firman Allah: "Dan ingat ketika Musa berkata kepada kaumnya: wahai kaumku! Kenapa kamu menyakiti aku? Sedangkan kamu tahu jika saya adalah rasul Allah kepadamu. Dan di saat mereka menyeleweng Allah menyelewengkan hati-hati mereka. Dan Allah tidak akan memberikan petunjukNya kepada mereka yang fasiq".

Ada apa dan kenapa dengan kisah Musa dan kaumnya?

Jawabannya tentu ragam. Tapi salah satu yang terpenting adalah jikalau umat yang seharusnya melanjutkan misi Musa dalam penyampaian risalah tauhid adalah umat Rasulullah SAW. Karena secara syriah, setelah syariah Taurah adalah Syariah Al-Qur'an was-Sunnah.

Selain itu kenyataan di lapangan mengatakan bahwa secara agama kedua kaum ini memilii kesamaan yang sangat luar biasa. Dari konsep ketuhanan, hukum-hukum, hingga kepada beberapa aspek tradisi keagaamaan di kedua umat ini.

Tentu di balik dari kesamaab kedua umat itu dalam hal-hal positif, penyebutan kisah Musa dan kaumnya berulang kali juga dimaksudkan sebagai ingatan agar prilaku umat Musa yang negatid itu jangan sampai terjadi pada umat ini.

Al-Qur'an sendiri memang banyak mengeritik Bani Israel, yang kemudian lebih dikenal dengan Yahudi. Tapi perlu disadari kritikan-kritikan itu justeru dialamatkan kepada mereka yang masuk dalam kategori ayat ini. Yaitu mereka yang sadar atau tahu jika Musa itu rasul, tapi justeru menyakitinya.

Di antara bentuk-bentuk menyakiti Musa AS itu adalah menerima ajaran tauhid dengan lisan, tidak tertanam kokoh dalam hati. Umat seperti ini dengan mudah goyah dengan godaan. Itulah yang terjadi ketika Musa meninggalkan kaumnya untuk menerima wahyu. Mereka justeru tergoda untuk menyembah sapi emas buatan.

Jangan-jangan umat ini juga dalam keimanannya tidak jauh-jauh dari umat nabi Musa. Iman di lisan yang mudah diinjak-injak oleh kepentingan dan godaan duniawi. Di sinilah kita lihat betapa umat ini mudah tergiur, bahkan menjual keyakinan demi kepentingan dunia. Termasuk di antaranya betapa mudah umat ini terbeli oleh kepentingan-kepentingan pemburu kekuasaan.

Hal lain yang menyakitkan Musa adalah ketidak seriusan dalam menerima aturan itu. Bahkan di saat aturan itu mereka yang minta sendiri. Kisah hukuman kepada mereka di saat melanggar aturan Sabbath misalnya menankan ketidak seriusan itu.

Ketidak seriusan itu digambarkan dalam bentuk prilaku hewan tertentu. Karena hewan itu memang selalu bermain-main bahkan dalam suasana serius sekalipun. Ketidak sensitifan mereka juga digambarkan dengan prilaku hewan lain. Karean realitanya hewan yang satu ini adalah hewan yang paling tidak sensitif.

Khawatirnya tidak sedikit pula di kalangan umat ini yang selalu bermain-main dengan aturan agama. Mencona mencari celah agar yang jelas menjadi remang sehingga bisa menemukan tempat pelarian. Jangankan yanh remang. Yang jelas haram saja bisa dihalalkan demi memenuhi hawa nafsu manusia yang tiada akhir.

Tentu banyak lagi peringatan-peringatan yang ingin disampaikan melalui kisah Musa AS ini. Tapi pada intinya apa yang pernah dilakukan oleh Bani Istael dan menyakitkan rasul mereka jangan sampai justeru terjadi pada umat ini.

Di sini saya sering katakan jangan sampai keritikan-keritikan itu menjadi dasar bagi umat ini untuk membangun negativiti kepada orang lain. Padahal Al-Qur'an ditujukan kepada umat ini sendiri sebelum disampaikan kepada umat lain. Jangan sampai kita bertepuk tangan seolah kesalahan-kesalahan itu nampak pada orang lain. Tapi kesalahan yang ada di pelupuk mata sendiri tidak nampak.

Di sinilah kita diingatkan oleh Al-Qur'an, seperti juga yang pernah diingatkan kepada Bani Israel: "Apakah kamu menyeru manusia kepada kebajikan dan melupakan diri sendiri? Sedangkan kamu membaca Al-Kitab. Tidakkah kami berpikir?".

Semoga tidak!

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...
Selasa, 20 Aug 2019 - 14:26
Selasa, 20 Aug 2019 - 14:23
Selasa, 20 Aug 2019 - 14:09
Selasa, 20 Aug 2019 - 11:03
Selasa, 20 Aug 2019 - 10:59
Selasa, 20 Aug 2019 - 10:55
Selasa, 20 Aug 2019 - 10:52
Selasa, 20 Aug 2019 - 10:47
Selasa, 20 Aug 2019 - 10:41
Selasa, 20 Aug 2019 - 10:36
Selasa, 20 Aug 2019 - 10:32
Selasa, 20 Aug 2019 - 10:29