23 May 2018

Peristiwa yang Dialami Nabi Saat Isra Mi’raj

Isra Mi’raj ialah peristiwa perjalanan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dari Masjid Haram di Makah menuju ke Masjid Al-Aqsa di Yerussalem. Kemudian dilanjutkan menuju lapisan langit tertinggi lalu ke Sidratul Muntaha dengan tujuan menerima wahyu dari Allah Ta’ala.

Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-10 dari Nubuwah, atau tepatnya pada tahun 621 M. Banyak riwayat menyebutkan bahwa peristiwa ini termasuk di antara cara Allah menghibur hati Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam setelah dua tahun ditinggal wafat sang istri, Ummul Mukminin Khadijah dan paman beliau, Abu Thalib.

Selain untuk membangkitkan semangat dalam berdakwah, isra mi’raj juga menjadi mukjizat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menaklukkan hati masyarakat Quraisy yang saat itu masih mengingkari dakwah beliau. Sebagai bentuk mukjizat, isra mi’raj menjadi sebuah rentetan peristiwa yang terjadi di luar kebiasaan hukum alam yang ada. Sehingga kejadian ini benar-benar di luar nalar manusia. Di sinilah kemudian keimanan orang-orang Islam diuji. Sejauh mana ia meyakini kabar yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Secara singkat dalam kitab Sirah Nabiwiyah, Syaikh Shafiurrahman al-Mubarakfuri merekam tentang apa saja yang dialami oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selama perjalanan beliau dari Masjid Haram menuju Masjid Al-Aqsho lalu dinaikkan ke sidratul muntaha. Di antara yang beliau alami ialah:

  1. Beliau ditawari susu dan khamar, lalu memilih susu. Kemudian dikatakan kepada beliau, ‘Engkau telah diberi petunjuk sesuai fitrah.’ Dalam lafal yang lain, ‘Engkau telah mengenai fitrah, sedangkan andaikata engkau mengambil khamar, tentu umatmu akan sesat.’
  2. Beliau melihat empat sungai di surga; dua sungai tampak dan dua lagi tersembunyi. Dua sungai yang tampak ini adalah sungai Nil dan Eufrat, yakni unsur keduanya. Adapun yang tidak nampak adalah dua sungai di surga. Barangkali makna melihat sungai Nil dan Eufrat tersebut adalah sebagai isyarat atas eksistensi Islam pada kedua wilayah di mana kedua sungai tersebut berada. Wallahu a’lam.
  3. Beliau melihat Malaikat Malik, penjaga neraka yang tidak pernah tertawa, di wajahnya tidak terpancar kegembiraan dan keceriaan.
  4. Beliau juga melihat surga dan neraka.
  5. Beliau melihat para pemakan harta-harta anak yatim secara zalim. Mereka memiliki bibir seperti bibir unta, mulut-mulut mereka dilempari dengan sepotong api dari neraka seperti batu sebesar genggaman tangan, lalu keluar dari dubur-dubur mereka.
  6. Beliau melihat para pemakan riba yang memiliki perut-perut yang buncit. Karena kondisi ini, mereka tidak mampu untuk beranjak dari tempat mereka. Mereka dilintasi oleh keluarga pengikut Fir’aun saat akan disodorkan ke neraka lalu mereka diinjak-injak.
  7. Beliau melihat para pezina, di antara tangan-tangan mereka terdapat daging yang gemuk dan segar dan di sampingnya terdapat daging yang bernanah dan membusuk. Mereka memakan yang bernanah dan membusuk tersebut dan membiarkan yang gemuk dan segar.
  8. Beliau melihat wanita-wanita yang suka membawa masuk para lelaki asing. Beliau melihat mereka sedang bergelantungan pada payudarapayudara mereka.
  9. Beliau melihat rombongan dari penduduk Mekkah sepulangnya dan ketika pergi. Beliau telah menunjukkan kepada mereka tentang unta yang melarikan diri dan meminum air milik mereka. Air minum ini ada di dalam wadah yang tertutup saat mereka tertidur, lantas si unta tersebut meninggalkan wadah tersebut dalam posisi tertutup. Hal itu telah menjadi petunjuk akan kebenaran pengakuan beliau pada pagi hari dari malam Isra`.

    Ibnul Qayyim berkata, “Tatkala pagi datang, Rasulullah sudah berada di tengah kaumnya, beliau memberitahukan kepada mereka tentang ayat-ayat Allah yang Agung yang telah diperlihatkan kepadanya. Hal ini membuat pendustaan, penyiksaan dan kesadisan mereka terhadap beliau semakin menjadi. Mereka memintanya agar menyebutkan kriteria Baitul Maqdis kepada mereka, lalu Allah menampakkannya kepada beliau, sehingga seakan melihatnya dengan mata telanjang. Beliau mulai menceritakan kepada mereka tentang tanda-tanda kebesaran-Nya. Mereka tidak mampu menyanggahnya dengan sesuatu pun.

    Kemudian beliau memberitahukan kepada mereka tentang rombongan ketika beliau masih dalam perjalanan pergi dan sekembali darinya. Beliau juga memberitahukan kepada mereka tentang waktu kedatangan rombongan tersebut. Bahkan, beliau memberitahukan kepada mereka tentang rombongan sebelumnya yang mendahului rombongan tersebut. Memang demikianlah realitasnya, seperti yang beliau ucapkan. Sayangnya, mereka malah bertambah menghindar. Demikianlah tipikal orang-orang zalim yang hanya menginginkan kekufuran.

    Dari peristiwa ini lah kemudian Abu Bakar dijuluki sebagai Ash-Shiddiq (Orang yang Benar) karena dia membenarkan peristiwa Isra`dan Mi’raj ketika orang-orang mendustakannya.

______________________________________

Oleh: Fakhruddin

Sumber: Sirah Nabawiyah, Karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfur, Penerbit Ummul Qura, Jakarta Timur.(jft/Kiblat)

 

Category: 
Loading...