24 May 2017

Perempuan Harus Aktif di Ruang Publik dan Bangun Peradaban

KONFRONTASI -  Perempuan harus aktif di ruang-ruang publik. Perempuan harus membuka dirinya, mengambil peran di banyak bidang. Perempuan tidak menutup diri, harus ikut membangun perubahan dan peradaban, salah satunya di jalan kebudayaan.
 
Demikian pandangan Julia F. Agusta, dari Leon Agusta Institut (LAI) yang hadir sebagai salah seorang peserta Peluncuran dan Bedah Buku “Bangga Jadi Perempuan” karya Yusrina Sri yang diluncurkan Sabtu (21/3), di Gedung Serba Guna IAIN Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat.
 
Acara yang dihadiri seratusan peserta dari kalangan mahasiswa dan umum se-Sumatera Barat itu, tampil sebagai nara sumber Muhammad Subhan, Penulis dan Motivator Kepenulisan dari Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia serta Yefri Heriani, Aktivis Perempuan Kota Padang.
 
Acara yang dipandu Alizar Tanjung (Penulis dan Pimpinan Rumahkayu Group) tersebut dinilai objektif sebab panitia tidak hanya menghadirkan pembicara dari kalangan perempuan, tetapi juga laki-laki sehingga berbagai permasalahan yang dihadapi kaum perempuan menjadi pemakluman bagi laki-laki. Sebab hakikatnya, di berbagai lapangan kehidupan, aktivitas perempuan tidak dapat dilepaskan dari campur tangan laki-laki.
 
Sependapat dengan Julia F. Agusta, Muhammad Subhan menekankan pentingnya perempuan aktif di berbagai bidang kegiatan, baik sosial dan kemasyarakatan. Kehidupan perempuan tidak harus seputar 3K, yaitu kamar kost, kampus, dan kampung jika berstatus mahasiswi. Perempuan harus keluar dari lingkaran itu, dan menunjukkan kebanggaannya sebagai perempuan yang juga dapat menciptakan perubahan.
 
Di lingkungan kampus, perempuan (mahasiswi) harus aktif di lembaga-lembaga intra kampus, baik di BEM, UKM, kelompok pengajian, maupun komunitas-komunitas kepenulisan yang ada di lingkungan kampus. Keaktifan itu akan membuka diri perempuan serta melejitkan potensinya yang akhirnya dapat bermanfaat bagi banyak orang.
 
Muhammad Subhan juga membahas sisi proses kreatif kepenulisan Yusrina Sri yang telah diamatinya sejak 2011 ketika mahasiswi IAIN Imam Bonjol Padang itu masih menjadi siswa di MAN/MAPK Koto Baru Padangpanjang. Di masa itu, menurut Muhammad Subhan, Yusrina Sri cenderung ke arah penulisan fiksi, terutama puisi dan cerpen yang ditandai banyaknya karya Yusrina Sri yang terbit di koran-koran lokal.
 
“Namun kenyataannya, Yusrina Sri berani keluar dari ‘kodrat kepenulisannya’ dari fiksi ke nonfiksi dan tidak diduga terbit di penerbit konvensional (mayor),” ujar Muhammad Subhan yang pernah menjadi Manajer Rumah Puisi Taufiq Ismail (2009-2012).
 
Sementara itu, Yefri Heriani (Aktivis Perempuan) yang membedah sisi keperempuanan dalam perspektif Islam mengulas filosofi rahim yang diistilahkannya sebagai bentuk kuatnya seorang perempuan walau ia diciptakan dari tulang rusuk laki-laki yang mudah patah. “Tidak benar perempuan itu lemah, tetapi dia makhluk paling kuat, sehingga ia mampu menanggung segala beban hidup, termasuk penderitaan,” ujarnya.
 
Kebanggaan terhadap perempuan, paparnya, harus ditumbuhkan. Kebanggaan dimaksud adalah, kebanggaan bahwa perempuan memiliki potensi besar sebagai ibu bangsa. Perempuan yang baik akan melahirkan generasi terbaik, demikian juga sebaliknya.
 
Peluncuran dan bedah buku itu juga dihadiri penyair senior Sumatera Barat ‘Papa’ Rusli Marzuki Saria dan Ketua FAM Wilayah Sumatera Barat, Denni Meilizon beserta sejumlah anggota FAM Sumbar lainnya. Selain diskusi dan tanya-jawab, peserta dihibur oleh musik dan lagu seniman M. Jujur (bintang tamu Kick Andy Metro TV 2012), pembacaan puisi Hakimah Rahmah Sari, dan musikalisasi puisi dari tim Rumahkayu Group. (rel)

Category: 

loading...


News Feed

Loading...