24 July 2019

Muslim Lithuania, Ratusan Tahun Dimusnahkan Rezim. Tapi Survive, Selalu Dilindungi Tuhan

VILNIUS- Lithuania mungkin negara yang tak diharapkan memiliki penduduk beragama Islam, tapi Muslim telah ada di negara pecahan Uni Soviet itu sejak 600 tahun. Mereka tinggal di antara hutan dan danau, di pinggiran Vilnius -- ibu kota Lithuania. Mereka adalah living heritage toleransi abad pertengahan -- ketika perselisihan agama merajalela di sekujur Eropa Barat dan Timur. Seperti ribuan desa di kawasan Baltik, rumah-rumah permukiman Muslim di Lithuania terbuat dari kayu, dan beratap seng. Semua tampak rapi, bersih, dengan setiap sudut desa punya sejarah. Ada bangunan tinggi, dengan menara kecil dan kubah bawang seperti umumnya gereja lokal. Namun, di ujung kubah terdapat bulan sabit kecil. Itulah masjid Muslim Baltik. Arsitektur masjid mengadopsi arsitektur lokal, yang membuatnya berbeda dari kebanyakan masjid di Timur Tengah dan Asia. BBC menulis inilah masjid paling Eropa dibanding tempat ibadah serupa di benua itu. Itu bukan masjid baru, tapi telah ada sejak 1558. Anda hanya perlu berkendara 20 menit ke arah barat daya Vilnius, untuk menemukan masjid ini. Sebelum memasuki kawasan hutan dan danau tempat Muslim Baltik bermukim, Anda akan menemukan sepotong kayu bertuliskan nama desa; Keturiasdesimt Totoriu, yang artinya Empat Puluh Tatar. Empat Puluh Tatar mengacu pada jumlah keluarga Muslim Tatar yang diundang Grand Duke Vytautas 600 tahun lalu. Raja Vytautas, yang mempertahankan kepercayaan pagan Eropa, menghadapi ancaman konstan dari tetanga Kristen yang agresif; para Ksatria Teutonik. Tahun 1398, sekembali dari operasi militer di dekat Laut Hitam, Vytautas membawa sejumlah besar Muslim Tatar Semenanjung Krim dan sekelompok kecil Yahudi Karaite, untuk membantu mempertahankan wilayah Lithuania. Perkiraan Vytautas terbukti. Dua belas tahun kemudian Ksatria Teutonik menyerbu Polandia dan Lithuahia. Muslim Tatar dan Yahudi Karaites angkat senjata, dan berperang di sisi Vytautas, pada pertempuran Grunwald -- wilayah antara Warsawa dan Gdansk. Ksatria Teutonik, atau Tentara Salib, babak belur dan kocar-kacir. Vytautas pulang dengan kemenangan mengesankan. Sebagai ucapah terima kasih, Vytautas memberikan tanah permukiman dan hak kebebasan beragama kepada Muslim Tatar. Pada saat yang sama di Eropa, Yahudi Shepardic dan komunitas Muslim tertua di Eropa terusir dari Spanyol setelah kejatuhan Cordoba. "Kami sangat menghormati Vytautas, karena dia memberi kebebasan kami beragama," ujar Fatima Stantrukova, mantan guru sastra Rusia yang kini berusia 75 tahun. "Nenak moyang kami bersumpah di bawah pedang untuk mencintai Lithuania. Takdir membawa kami ke sini, dan orang Lithuania berkata; tanah dan air ini akan dibagi di antara kami," lanjut Stantrukova. Kini, 120 penduduk Keturiasdesimt Totoriu adalah Muslim Tatar. Mereka mengaku keturunan langsung 40 Tatar yang dibawa Vitautas dari Semenanjung Krim, atau Krimea. "Hari ini kami berada di sini karena Vytautas, tapi kami tahu asal kami adalah Semenanjung Krim," ujar Stantrukova. Tidak sulit mencari bukti arkeologi eksistensi Muslim Tatar. Di belakang masjid terdapat kuburan kuno. Salah satu makam, dengan nama Allahberdi, bertahun 1621. Kini, Muslim Tatar keluar dari wilayah pusakanya dan menyebar ke selatan dan barat kawasan Baltik. Ada puluhan, mungkin ratusan, masjid di desa-desa antara Vilnius, Minsk -- ibu kota Belarusia -- dan Bialystok di Polandia. Pada awal Perang Dunia I, ada 25 masjid tua Muslim Tatar di Lithuania. Kini hanya ada tiga; Keturiasdesimt Totoriu dan desa Raizai dan Nemesis. Di Polandia, ada dua masjid tua Muslim Tatar, yaitu di Desa Kruszyniani dan Bohoniki. Dua lainnya berada di kota-kota Belarusia; Navahrudak dan Iwie. Muhammad Murad al-Ramzi, orientalis Tatar-Rusia, mengatakan Muslim Tatar kehilangan bahasa, tradisi, dan pengetahua akan agama, karena terputus sedemikian jauh dengan induknya di Krimea. "Namun, mereka tidak pernah kehilangan iman Islam," ujar Al Ramzi. Ramadhan Yaqoob, grand mufti Lithuania, mengatakan abad ke-20 adalah masa paling sulit bagi Muslim Tatar di Lithuania. "Periode Soviet yang terburuk," kata Yaqoob. "Semua pemimpin agama, dan orang-orang yang memiliki pengetahuan agama, dibunuh atau dikirim ke pengasingan di Siberia." Tidak hanya itu, tentara Uni Soviet juga membakar semua buku, kitab, dan arsip. Masjid ditutup atau dihancurkan. Komunitas keagamaan dibubarkan. Muslim dilarang mempraktekan ajarannya. Yaqoob, keturunan Muslim Tatar Krimea yang dibawa Vytautas, tumbuh di tengah ketidak-tahuan tentang Islam. Setelah Uni Soviet runtuh, dan Lithuania menjadi negara merdeka, Yaqoob mencari jalan pulang ke pangkuan nenek moyang; belajar tentang Islam. Ia meninggalkan Lithuania untuk belajar Islam di Libya, dan dilanjutkan di Lebanon. Di negeri multikultur Lebanon, Yaqoob mendapat banyak pengalaman sempurna untuk memimpin komunitas Muslim Tatar di Lithuania. Kendati banyak anak muda Tatar mulai belajar agama, masjid tidak terbuka untuk shalat lima waktu. Masjid relatif hanya untuk shalat Jumat, dan acara keagamaan tertentu. Orang Tatar lebih suka shalat lima waktu di rumah. Alasan lain, trauma masa Uni Soviet belum benar-benar pulih. Di luar Baltic, Muslim Tatar dari Baltic juga membangun masjid kayu di New York, tepatnya di 104 Powers Street Brooklyn. Masjid Brooklyn, demikain bangunan itu disebut, dibangun tahun 1927. Alyssa Ratkewitch, wakil ketua Masjid Lipka Tatar di New York, mengatakan; "Dulu saya biasa pergi ke masjid saat Idul Adha. "Salah satu kenangan saya paling awal terhadap masjid ini adalah panel kayu yang menghiasi interior masjid," ujar Ratkewitch. "Saya ingin menyingkirkannya, tapi seorang tetua mengatakan panel itu untuk mengingatkan orang Tatar di New York bahwa masjid ini identik dengan yang mereka tinggalkan di Baltik." Masjid itu tidak digunakan lagi, tapi dipertahankan sebagai simbol kehadiran masyarakat kecil Muslim Tatar di New York. Fatima Stantrukova mengatakan masjid Muslim Tatar Baltik di mana pun sama. Di era Uni Soviet, katanya, Muslim Tatar tidak membiarkan seluruh masjid ditutup atau dibongkar. "Iman anak-anak yang lahir tahun 1940-an menjaga masjid ini. Kami akan terus menjaganya untuk anak-anak kami di masa depan," demikian Stantrukova.
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...