21 August 2019

Menyoal Masalah Mental: Rasisme Basis Keangkuhan

Oleh: Imam Shamsi Ali*


Pada bagian yang lalu dipaparkan bagaimana kecenderungan militarisme itu, dengan segala konsekwensi yang telah diakibatkannya merupakan bagian dari fenomena penyakit mental. Orang yang masih bermental sehat akan selalu mengedepankan solusi damai dari setiap masalah yang dihadapinya. Perang hanya akan terjadi jika dipaksa oleh keadaan karena pihak lain melakukan agresi. Tapi peperangan atau kekerasan yang dilakukan dalam suasana solusi damai memungkinkan merupakan fenomena ketidak stabilan mental pelakunya.

Rasisme itu penyakit mental

Rasisme bukan barang baru dalam kehidupan. Rasisme justeru merupakan basis awal keangkuhan yang terjadi dalam kehidupan ini. Itulah yang menjadikan Iblis menolak sujud dalam penghormatan kepada Adam (alaihis salam). Dia menolak perintah Pencipta langit dengan keangkuhan rasisme seraya berkata: "apakah saya akan bersujud (hormat) kepada seorang manusia sedangkan saya lebih baik dari dia. Engkau cipatakan aku dari api. Sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah".

Memahami kemuliaan atau harga ciptaan dari "obyek fisik" inilah yang menjadi kesombongan Iblis, dan ini pulalah sejarah awal dari sikap rasis dalam sejarah kehidupan itu sendiri.

Berbagai kekeraaan dalam sejarah juga disebabkan oleh tendensi rasis dalam kehidupan manusia. Hitler misalnya membantai kaum Yahudi di Eropa, salah satunya karena Yahudi dianggap "polusi" bagi ras Eropa asli (Arian). Mereka dianggap melakukan kontaminasi terhadap warga kulit putih di Eropa. Karenanya mereka harus dieminir dari bumi Eropa.

Dalam sejarah Islam sendiri hal ini bukan sesuati yang baru. Sejak sebelum Islam datang di Mekah rasisme adalah salah satu penyakit kronis yang menggerogoti masyarakat Arab. Manusia ditimbang-ditimbang, dinilai berdasarkan ras dan warna kulit. Perbudakan juga umumnya dibangun di atas pertimbangan ras.

Maka Islam datang salah satunya untuk membawa dobrakan terhadap penyakit ini. Semua sisi ajarannya mengajarkan kesetaraan yang sejati.

Aqidah Tauhid tidak sekedar ajaran keesaan Tuhan semata. Melainkan sebuah konsep teologi yang memiki konsekwensi sosial yang tinggi. Percaya kepada Tuhan yang Maha Satu (Ahad) sekaligus mengajarkan bahwa selain yang "Satu" itu semuanya sama (ciptaan). Yang unik, yang khas, yang istimewa dan beda dari semuanya hanya Dia yang mencipta segalanya.

Oleh karenanya keyakinan tauhid yang tidak dibarengi oleh jiwa kesetaraan adalah keyakinan yang timpang. Keyakinan seperti ini berbahaya karena terancam: "barang siapa yang memiliki arogansi dalam dadanya walau sebesar zat atom maka dia tidak akan masuk syurga". Percaya kepada Tuhan yang satu tapi melebihkan diri atas orang lain, boleh karena ras, etnik, golongan sosial ekonomi, warna kulit, dan seterusnya adalah arogansi dan rasisme yang dikutuk.

Demikan halnya ibadah-ibadah dalam Islam. Semuanya mengarah ke penegakan "equalitas" yang murni. Sholat misalnya ketika sudah memasuki area kolektif (jamaah) maka semuanya sama. Semua berdiri pada barisan sama siapapun dan apapun status sosialnya. Seorang tukang sapu akan berdiri sejajar dengan seorang menteri ketika sudah menghamba kepada sang Pencipta.

Barangkali akan lebih nampak ketika umat ini melakukan ibadahnya yang paling universal, haji. Ibadah haji dimulai dengan ihram sebagai penggambaran fitrah kesucian. Bahwa yang melandasi kemanusiaan kita, kehormatan dan kemuliaan kita, bukan pada sisi material dan fisiknya. Tapi ada pada tataran fitrah kesuciannya.

Semua aspek penghambaan ibadah haji terpusat pada ketuhanan dan kemanusiaan. Tuhan yang Maha Satu dan kemanusiaan yang satu juga.

Sejak awal Rasulullah menyampaikan ajarannya di Mekah penekanan kesetaraan manusia itu menjadi perhatian besar. Bahkan Allah merencanakan pengikut-pengikutnya datang dari berbagai kalangan dan latar belakang. Ada Abu Bakar dari kalangan Quraysh, Suhaeb dari kalangan Eropa (Roma), Salman dari kalangan Persia, dan Bilal dari kalangan Afrika.

Karakteristik keumatan itu direkam dalam risalah Al-Qur'an: "Wahai manusia, sesengguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang wanita. Lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal. Yang terbaik di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sungguh maha mengetahui lagi maha sadar".

Hal yang sama kemudian dikuatkan oleh pernyataan baginda Rasul SAW: "Semua kalian berasal dari Adam dan Adam tercipta dari tanah. Tiada kelebihan orang Arab di atas non Arab, atau non Arab di atas Arab. Tiada kelebihan orang putih di atas orang hitam atau orang hitam di atas orang putih kecuali dengan ketakwaan".

Kriteria kehormatan dan kemuliaan yang dibangun di atas ketakwaan inilah kemuliaan dan kehormatan universal. Kemuliaan dan kehormatan yang tidak dibatasi oleh batasan-batasan material dan fisik. Anda hitam anda bisa jadi yang termulia. And putih anda juga bisa jadi yang termulia. Ketakwaan hanya didefenisikan oleh dua  hal yaitu "hati dan karya".

Jika hati anda dihiasi oleh keimanan yang ikhlas kepada Allah dan kepada rasulNya serta semua hal yang menjadi tuntutannya, maka anda sudah memiliki dasar (pilar) kemuliaan anda. Dan jika di atas pilar itu anda bangun bangunan karya dan karakter yang indah dan solid, maka dengan sendirinya anda telah memiliki kriteria takwa. Dan itu intisari kemuliaan dalam Islam. Anda bisa pria dan anda paling bertakwan. Maka anda terhormat dan mulia karenanya. Sebaliknya anda mungkin wanita dan anda paling bertakwa. Maka anda juga menjadi terhormat dan mulia karenanya.  

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...
Selasa, 20 Aug 2019 - 21:39
Selasa, 20 Aug 2019 - 21:33
Selasa, 20 Aug 2019 - 21:29
Selasa, 20 Aug 2019 - 21:26
Selasa, 20 Aug 2019 - 21:22
Selasa, 20 Aug 2019 - 21:14
Selasa, 20 Aug 2019 - 21:06
Selasa, 20 Aug 2019 - 21:00
Selasa, 20 Aug 2019 - 20:51
Selasa, 20 Aug 2019 - 20:16
Selasa, 20 Aug 2019 - 20:08
Selasa, 20 Aug 2019 - 20:05