11 December 2017

Menipu Orang Awam?

Oleh: Luthfi Bashori

Dewasa ini, terasa sangat ironis jika melihat perkembangan Islam di tanah air. Sekalipun jumlah umat Islam masih tetap sebagai penduduk mayoritas di Indonesia. Namun praktek di lapangan, umat Islam sangat mudah diombang-ambingkan oleh kepentingan non muslim.

Bukan sekedar kalangan awam saja yang termakan oleh strategi non muslim, bahkan sudah banyak tokoh-tokoh berlabel Islam SEPILIS, ikut terbawa arus mengikuti program-program pendangkalan aqidah yang dilakukan oleh pihak non muslim terhadap umat Islam.

Sebenarnya, umat Islam itu harus lebih pandai daripada non muslim. Apalagi Al-Islam ya’lu wa la yu’la alaihi, ajaran Islam itu selalu teratas dan tidak ada yang dapat mengunggulinya. Jika setiap umat Islam belajar menjadi pribadi-pribadi yang pandai, tegar dan istiqamah dalam memegang ajaran agamanya, niscaya akan dapat mematahkan strategi non muslim, bahkan akan mampu mengalahkan serangan musuh-musuh Islam siapapun adanya.

Namun sayangnya, umat Islam tampaknya semakin terlena dengan buaian indah yang dihembuskan oleh pihak musuh, walaupun di dalamnya mengandung racun yang mematikan.  

Jika umat Islam justru merasa cukup dan enjoy dengan keterpurukan dan nasib buruk yang kerap kali menimpa mereka, serta menganggap tidak merasa penting menambah ilmu syariat Islam secara baik dan benar, terutama untuk bekal dalam menghadapi rongrongan pihak non muslim, maka Allah tidak akan merubah apa yang terjadi pada nasib umat Islam.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka,” (Arti QS. Ar Raad : 11).

Sy. Jabir RA menuturkan, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak pantas bagi orang bodoh itu mendiamkan kebodohannya. Juga tidak pantas orang yang berilmu itu mendiamkan ilmunya.” (HR. Thabrani, Ibnu Sunni dan Abu Nu’aim).

Saat ini, mayoritas kalangan awam dalam ilmu agama, seringkali menjadi sasaran empuk bagi para oknum ‘setan gundul’ (meminjam istilah Pak Harto) yang berbaju sebagai tokoh Islam, namun sengaja melancarkan tipu daya dalam mengelabuhi masyarakat awam, dan menjadikan mereka sebagai sasaran tembak, demi memenuhi hasrat pribadi.

Baik itu dalam dunia partai politik, rebutan jabatan di pemerintahan, dunia keormasan, bahkan dalam dunia dakwah yang berkonotasi keduniaan, maka, kalangan awamlah yang akan dimanfaatkan,  

Sy. Jabir RA mengutarakan, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Janganlah kamu belajar (dengan tujuan) untuk membanggakan diri di hadapan para ulama, atau untuk mengelabuhi orang-orang bodoh (awam), atau untuk mencari kedudukan (pangkat). Barangsiapa yang melakukan (salah satu dari ketiga) hal itu, maka tempat yang utama baginya adalah neraka.” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban). 

Nabi Muhammad SAW juga bersabda, “Barangsiapa mempelajari suatu ilmu bertujuan memperoleh kekayaan dunia, padahal seharusnya dengan ilmu itu mencari ridha Allah, maka pada hari Qiamat kelak dia tidak akan mencium bau sorga. “ (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad dan Ibnu Hibban).

Di sisi lain, patut disayangkan, masih banyak di kalangan awam yang justru merasa cukup untuk berkiblat dan mengikut secara pasrah bongkokan kepada tokoh figur publik, seakan hidupnya apa kata sang tokoh idola, namun tanpa mau mempelajari background tokoh yang menjadi panutan hidupnya itu, apakah aqidahnya sudah benar sesuai standar syariat, atau justru menyimpang jauh dari ajaran Islam.

Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa Sy. Anas bin Malik RA mengatakan, sungguh Rasulullah SAW bersabda, “Menutut ilmu (belajar) adalah kewajiban bagi setiap muslim. Sedangkan mengajarkan ilmu (kepada yang) bukan ahlinya adalah seperti mengalungi babi dengan batu berlian, mutiara dan emas.” (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Majah).[]

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...