21 April 2018

Kyai dan Penceramah Selebritis

Dikisahkan ada seorang pelacur yang datang menghadap kyai Abdul Djalil Mustaqim, pengasuh pesantren PETA Tungagung. Sang pelacur minta doa ke Kyai Djalil agar dirinya laris. Kyai Djalil mendoakan pelacur tersebut. Selang beberapa minggu pelacur tersebut kembali sowan dan menyatakan diri mau taubat.

Kepada kyai Djalil pelacur tersebut bercerita, setelah didoakan dia mendapat banyak tamu bahkan dirinya hampir tidak pernah berhenti melayani tamu, sehingga tidak bisa istirahat. Si pelacur merasa tidak kuat lagi menjalani profesinya sehingga memutuskan untuk berhenti dan tobat.

Dalam kisah yg lain disebutkan mengenai kearifan kyai Chudlori, pengasuh pesantren API Tegalrejo, Magelang yg lebih mendahulukan membeli gamelan daripada  membangun mesjid. Dengan keputusan ini seolah kyai Chudori memenangkan kelompok pecinta gamelan daripada membela kepentingan Islam. Padahal semua itu dikakukan justru untuk menjaga kerukunan dan ketentraman sebagai wujud kemuliaan ajaran Islam dan tingginya akhlak kaum muslimin.

Kisah-kisah seperti ini banyak dijumpai dalam kehidupan kyai dengan berbagai versi. Inilah yg menyebabkan masyarakat selalu merasa terayomi dan terselesaikan masalahnya setelah menghadap kyai. Hati mereka terasa tenang dan jiwanya tentram setelah mendengar wejangan kyai.

Mengapa kyai bisa bersikap seperti itu? Karena kyai hidup bersama masyarakat, selalu berada di tengah masyarakat sehingga bisa mengerti, memahami dan emphati terhadap berbagai problem dan kesulitan hidup masyarakat. Seorang kyai selalu dituntut mencari solusi alternatif untuk memecahkan persoalan ummat secara kongkrit. Bukan sekedar menjadi penceramah yg memberikan khotbah normatif atau menjadi hakim moral yg sama sekali tidak menyelesaikan masalah.

Laku hidup yg seperti inilah yg membuat seorang kyai memiliki sikap dan pandangan keagamaan yang arif. Kearifan ini menjadi dasar dalam mengamalkan dan mengajarkan agama dalam realitas yg sangat rumit dan kompleks. Kearifan ini pula yg membuat kyai tdk sembarangan menerapkan teks dan ayat2 agama yg membuat mereka mudah menjadi hakim moral terhadap masyarakat. Mereka sangat hati2 dalam menggunakan simbol2 agama, tidak mudah mengobral ayat. Semua ini dilakukan demi menjaga sakralitas agama itu sendiri.

Dalam pikiran para kyai,  membuat rakyat hidup rukun, damai dan  bahagia jauh lebih penting daripada meceramahi rakyat tentang syariah. Karena bagi kyai inilah cara terbaik mengajarkan dan mengamalkan ajaran agama. Artinya agama hrs hadir secara nyata dalam kehidupan masyarakat. Bukan sekedar retorika di medsos atau di mimbar2 khotbah.

Meski banyak kyai yg py keahlian ceramah, tapi ceramah2 mereka penuh dengan kesejukan yg mententramkan. Tidak bikin resah, gelisah karena berbagai caci maki yg menebatkan kebencian dan permusuhan.

Kapasitas dan moralitas kyai yg seperti ini berbeda dengan para penceramah jaman now yg cenderung lebih mementingkan kemampuan orasi dan ketrampilan menarik perhatian massa meski dengan ilmu agama yg pas pasan. Semakin trampil berorasi dan menyampaikan ajaran agama secata tekstual retorik sehingga mampu membuat ummat berdecak kagum, maka dia akan semakin populer dan banyak mendapat pengikut. Kearifan dan kesantunan seolah bukan menjadi suatu yg diperlukan bagi penceramah zaman now.

Seorang penceramah tidak perlu memikirkan apakah kebenaran yg disampaikan itu bisa memacing kegaduhan atau tdk, menyebabkan keretakan sosial atau tidak. Bagi mereka kebenaran agama (tentunya yg sesuai dengan pikiran mereka) harus disampaikan. Kalo perlu dengan caci maki dan hujatan agar audience yakin atas kebenaran yg disampaikan. Semakin bisa menghakimi org lain dan semakin bisa bikin kegaduhan, memancing kontroversi maka akan semakin dianggap pemberani dan hebat.

Inilah yg menyebabkan seorang penceramah merasa tdk perlu bersusah payah memahami konteks sosial masyarakat. Tidak perlu mengerti perasaan dan kesulitan ummat yg mengharuskan mereka bergelut dengan realitas scr intens.

Kebutaan atas realitas dan nihilnya rasa emphati membuat mereka kehilangan kearifan sehingga mudah tergelincir masuk dalam dunia selibritis. Hanyut dalam gegap gempita tepukan massa. Selain itu sikap seperti ini mudah dimanfaatkan oleh kepentingan politik yg lbh mengedepankan syahwat kekuasaan dan ambisi2 yg bersifat profan dan sempit. Inilah yg membedakan sosok kyai dengan penceramah dan selibritis zaman now.

Kyai mendidik dan menyampaikan ajaran agama dengan menyentuh rasa batin melalui pendidikan dan pembudayaan serta laku hidup yg nyata. Sedangkan penceramah menyampaikan ajaran agama dengan menyentuh dan membakar emosi, mengabaikan rasa. Kyai mengajarkan kebenaran dengan pendekatan kemaslahatan dalam perspektif baik buruk. Sedangkan penceramah sering menggunakan perspektif benar salah dengan cara2 agitatif, shg sering memancing konflik dan kegaduhan.
 
Misalnya, ketika kyai Djalil mendoakan pelacur bukan berarti beliau tidak mengerti hukumnya zina. Demikian juga ketika kyai chudori membela kelompok gamelan sehingga lebih mendahulukan membeli gamelan daripada bangun mesjid. Ini bukan berarti beliau menganggap membangun mesjid tidak  penting. Sebagai seorang ulama beliau2 sangat faham terhadap syariat dan hukum Islam. Tetapi sebagai kyai yg kuyup dengan kenyataan hidup merka juga sangat memahami cara dan metode mendidik masyarakat agar bisa menerapkan syariat secara tepat dan akurat dan menjalankannya secara suka rela. Ini bisa terjadi karena sebagaimana dinyatakan Gus Mus: "kyai itu yandzurunal ummah bi ainin rahmah" ( melihat umat dengan kacamata kasih sayang). Dengan kaca mata ini kyai bisa menerima para pelacur dan para pendosa lainnya secara terbuka. Dan mereka2 itu merasa nyaman dan tentram ketika menghadap kyai.

Berbeda dengan kecenderungan penceramah zaman now yg hanya melihat persoalan dari sisi benar salah, sesat dan tidak sesat sesuai pemahaman mereka sendiri. Sehingga mudah marah-marah, menyesatkan dan menghakimi dengan intimidasi moral sebagaimana yg terlihat di berbagai media akhir2 ini. Bisa dikatakan penceramah yg seperti ini cenderung "yandzurunal ummah bi 'ainin ghodzob" (memandang ummat dengan kacamata marah/benci). Akibatnya ummat yg merasa berdosa bukannya jadi sadar tapi malah jadi takut dan menjauh.

Karena hidupnya yg selalu berada di tengah2 ummat maka tidak jarang kehidupan kyai luput dari perhatian dan liputan media. Tidak seperti penceramah yg setiap saat diliput media. sehingga popilaritasnnya bisa menyamai para selibritis. Bahkan lagi plesir diliout dan diunggah di medsos dilarang ceramah krn dianggap provokatif, teriak2 di medsos  hingga memancing kegaduhan, seolah Islam terancam. Padahal banyak kyai yg hidupnya diancam dan diintimadasi mereka tetap berdakwah dg ikhlas dan tenang . Tdk gaduh dan bikin fitah kesana kemari.

Alangkah baiknya jika para kyai ini bisa tampil di media agar kearifan mereka bisa menjadi teladan. Dan akan lbh baik jika penceramah bisa menjalani laku hidup spt kyai sehingga memiliki akhlak dan kearifan seperti para kyai. Jika hal ini blm bisa terwujud maka diperlukan kepekaan batin dan kejernihan hati agar tidak mudah terpukau oleh para penceramah yg sdh jadi selibriti, hanya menyampaikan kebenaran tetapi mengabaikan kemaslahatan karena penuh hujatan dan caci maki.

Semoga kita mampu membedakan mana kyai dan mana penceramah yg sdh jadi selibriti.
(Al-Sastrouw)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...