20 May 2019

Kembali ke Alquran dan Hadits

Oleh: Syaiful Rahman

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyinggung siapa pun. Penulis hanya ingin mengungkapkan kegelisahan batin saja selama perjalanan mencari jawaban. Jadi, kepada semua pembaca harap tidak perlu emosi atau naik darah.

Belakangan ini saya digelisahkan oleh sebuah statemen yang mengatakan: "Kembali ke Alquran dan Hadis." Kalimat ini memang sederhana, sangat sederhana. Bagi orang yang memberikan statemen mungkin juga dibayangkan sangat mudah. Kayak membalikkan telapak tangan. Tinggal kembali maka urusan selesai.

Tapi, tunggu dulu sebentar, Bro. Rasanya kalimat itu hanya mudah diucapkan tapi sangat sulit direalisasikan. Satu pertanyaan dari saya adalah bagaimana cara kembali ke Alquran dan Hadis? Sampai saat ini saya masih bingung maka dari itu saya menulis ini. Melalui tulisan ini saya ingin mencoba merinci setiap detail ketidakmudahan dalam merealisasikan kalimat tersebut.

Pertama, kita semua tahu bahwa ayat-ayat dalam Alquran diturunkan ke muka bumi secara mutawatir sesuai situasi dan kondisi. Dalam bahasa agama, setiap ayat memiliki asbabun nuzul. Demikian juga dengan Hadis. Rasulullah SWT bersabda sesuai situasi dan kondisi. Jadi, andaikan Hadis itu dikatakan shahih maka kita masih perlu meneliti. Apakah sekadar shahih dalam pengertian benar-benar dari Rasulullah atau juga shahih untuk diaplikasikan dalam situasi saat ini? Karena makna shahih dalam kitab-kitab Hadis tampaknya sekadar shahih bahwa Hadis itu benar-benar dari Rasulullah. Belum tentu ketika diaplikasikan dalam situasi dan kondisi yang berbeda juga menjadi shahih.

Jadi, terhadap Hadis sekalipun, menurut saya, kita tidak bisa asal comot. Perlu ada pemahaman lebih mendalam untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, dalam situasi dan kondisi yang sudah tidak sama persis dengan era Rasulullah. Hal yang sama juga berlaku pada ayat-ayat Alquran.

Kedua, ketika dikatakan kembali ke Alquran dan Hadis, bagaimana caranya jika tanpa penafsir? Bisakah? Apakah kita langsung beli buku-buku terjemahan Alquran dan Hadis di toko buku kemudian kita baca dan aplikasikan? Semudah itukah? Apakah tidak pernah kita pikirkan bagaimana transformasi bahasa Arab ke bahasa Indonesia? Berapa  persen keakuratannya? Ini masih berbicara terjemahan secara tekstual, belum kontekstual. Ini masih bicara alih bahasa, belum alih makna.

Ketiga, persoalan penafsir. Pada masa kejayaan Islam, sedikitnya ada tiga golongan utama dalam dunia pemikiran Islam, yaitu fiqih, filsafat, dan tasawuf. Ketiganya berkembangan dan terus bersaing. Setiap golongan memiliki tafsir sendiri terhadap Alquran dan Hadis. Parahnya, ketiganya sulit dipertemukan. Dalam sejarahnya, setiap golongan berusaha menjadi yang paling unggul.

Para ilmuan Muslim sudah berusaha menyatukan ketiga golongan tersebut, tapi faktanya masih sangat rumit. Kita bisa mengingat bagaimana upaya Ibn Arabi atau Mulla Shadra berusaha menyatukan pandangan teologi antara filsuf dengan tawasuf. Eh, malah pada umur 38 tahun, Mulla Shadra dibunuh oleh golongan fuqoha'. Ulama tasawuf pun seringkali bersinggungan dengan para filsuf. Coba diingat bagaimana Imam Al-Gazali melancarkan serangan kepada para filsuf. Beberapa dekade kemudian, Ibnu Rusyd balik mengkritik Imam Al-Gazali.

Keempat, saya ingin lebih menyempitkan lagi sehingga semakin dekat pada kehidupan saat ini. Kalau tadi saya mengulas tiga golongan besar, sekarang saya ingin mengambil perbedaan yang terjadi dalam satu golongan saja. Di sini saya ingin mengambil perbedaan pada ulama fiqih saja. Sebab kalau diambil perbedaan pada semua golongan, saya kesel yang mau nulis. Hehe.

Para ulama fiqih bersusah payah berijtihad untuk menemukan hukum-hukum dalam Islam. Landasan mereka adalah Alquran dan Hadis. Mereka adalah para ulama yang wara' dan diakui dunia. Ilmu mereka teruji dan tidak diragukan lagi. Alhasil, muncullah lima ulama fiqih terkenal, yaitu Imam Syaifi'i, Imam Hambali, Imam Hanafi, Imam Maliki, dan Imam Jakfar.

Perlu diingat, mereka semua kredibel dan berlandaskan Alquran dan Hadis. Tapi, pertanyaannya, kalau landasan mereka sama, kenapa hukum yang dihasilkan berbeda? Terhadap satu persoalan yang sama sekalipun, ada yang menghukumi haram, halal, mubah, dan sebagainya. Apakah di antara mereka ada yang salah atau ada yang benar? Wallahu a'lam. Saya tidak tahu. Tapi, saya yakin, mereka memiliki kebenaran dan kesalahannya masing-masing. Sehingga tak heran bila kemudian Imam Syafi'i dengan rendah hati mengatakan bahwa bisa jadi pendapatnya benar tapi belum tentu pendapat orang lain salah, dan sebaliknya.

Kelima, dari tadi saya belum mempertimbangkan letak geografis dan era para penafsir. Sejauh pengetahuan saya, letak geografis dan era setiap ulama sangat menentukan tafsir setiap ulama. Coba ambil tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dan bandingkan dengan tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab. Dua ulama tersebut sama-sama orang Indonesia tapi ada beberapa perbedaan dalam kitab tafsir yang dikarangnya.

Ah, mungkin orang akan mengatakan karena beda orang sehingga sangat memungkinkan terjadi perbedaan. Sekarang ambil yang satu orang saja sebagai contoh. Imam Syafi'i, misalnya. Beliau memiliki dua kitab fiqih yang terkenal yang kemudian direvisi sehingga lahirlah qaul qadim dan qaul jadid. Jadi, satu orang pun bisa berubah-ubah sesuai situasi dan kondisi.

Lantas bagaimana cara "kembali ke Alquran dan Hadis" sebagaimana yang dimaksud pada statemen di atas?.[***]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...
Minggu, 19 May 2019 - 20:59
Minggu, 19 May 2019 - 20:58
Minggu, 19 May 2019 - 20:55
Minggu, 19 May 2019 - 20:51
Minggu, 19 May 2019 - 20:42
Minggu, 19 May 2019 - 20:35
Minggu, 19 May 2019 - 20:28
Minggu, 19 May 2019 - 20:24
Minggu, 19 May 2019 - 20:21
Minggu, 19 May 2019 - 20:12
Minggu, 19 May 2019 - 20:05
Minggu, 19 May 2019 - 19:54