24 August 2019

Islam, Agama yang Mengajarkan Harapan dan Optimisme

Oleh: Imam Shamsi Ali*

"Wahai hamba-hambaKu yang telah melampaui batas atas diri-diri mereka. Jangan pernah berputu asa dari kasih sayang Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa-doaa. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (S. Azzumar: 39).

Sesungguhnya agama Islam adalah agama optimisme. Jika kita dalami kembali ajaran ini, berdasarkan kepada petunjuk Kitab suciNya dan sunnah-sunnah rasulNya maka akan semakin jelas bahwa Islam itu adalah agama yag mengajarkan harapan dan optimisme.

Pertama karena hidup itu sendiri adalah rahmah dan ni'mat. Apapun warna kehidupan kita tidak mengurangi nilainya sebagai kristalisasi kasih sayang Allah. Sehingga dengan sendirinya hidup ini seharusnya menjadi sumber kenikmatan dan kenikmatan itu sendiri.

Kedua bagi seorang Muslim semua yang terkait dengan hidup duniawi adalah proses. Proses dan bukan hasil. Oleh karenanya setiap gerak pergerakan hidup itu menjadi kenikmatan karena berorientasi hasil positif (positif result oriented). Dan bagi seorang Mukmin proses itu merupakan kenikmatan (pemimpin). Hasil dari proses itu toh ada dalam geggaman Allah.

Ketiga bagi seorang Muslim apapun hasil yang nampak di akhir proses duniawi itu, juga belum sebagai akhir dari segalanya. Toh kata orang lain "at the end of that long tunnel there is a shining light". Bahwa di penghujung terowongan panjang itu selalu ada cahaya yang bersinar. Bahwa pada akhirnya kemenangan sejati dan tiada akhir ada di akhirat kelak. Ini yang menjadikan seorang Mukmin tidak pernah kehilangan harapan.

Dari kutipan ayat di atas, ada beberapa hal yang menarik untuk dipikirkan.

Pertama: "Wahai hamba-hambaKu yang telah melampaui batas atas diri-diri mereka"

Kata 'abd' dalam Al-Quran adalan panggilan mulia dan kasih. Rasulullah SAW beberapa kali diidentikkan dengan 'abd' seperti "subhanalladzi asra bi'abdihi". Juga pada ayat: "wa inkuntum fii raebin mimma nazzalna alaa abdinaa".

Maka ketika Allah memanggil hamba-hambaNya pada ayat ini dengan kata "yaa ibaadiya" sungguh sebuah sapaan atau panggilan yanh memuliakan, sekaligus penuh dengan sapaan kasih sayang.

Lebih menakjubkan lagi bahwa hamba-hamba yang dipanggil di sini adalah mereka yang telah melakukan "israaf" (melampaui batas atas diri mereka sendiri" (asrafuu alaa anfusihim). Mereka yang dipanggil di sini adalah mereka yang telah banyak melakukan dosa, dan khawatir karena dosa-dosa yang berlebihan itu mereka lalu menjadi putus harapan.

Sebuah pelajaran besar dan penting, khususnya para ulama dan da'i, bahwa selama manusia masih menghirup oksigen kehidupan hendaknya tetap diberikan ruang untuk kembali (taubat). Jangan karena kesalahan, lalu cepat mengambil keputusan (qadha). Bukankah memang kita adalah "juru da'wah (ajakan) dan bukan hakim (qadhi)?

Sayang, tidak jarang para ustadz, alim ulama dan da'i mengedepankan "judgmental attitude (karakter penghakiman) bahkan wal-iyadzu billah cenderung cepat mengkafirkan, memunafikkan, atau minimal mengfasikkan sesama Muslim.

Bahkan lebih sial ketika tuduhan kekafiran, kemunafikan atau kefasikan itu didasarkan kepada "ikhtilaf al-aaraa" (perbedaan pendapat) dalam masalah-masalah "furuu diniyah" (non ushuli) yang memang secara alami dibolehkan, bahkan terkadang didorong untuk hadirnya alternatif opini.

Sikap judgmental (menghakimi) ini menjadi salah satu faktor terpenting dalam perpecahan umat. Terkadang masalah sepele yang menjadi dipentingkan sehingga masalah mendasar dalam kehidupan umat terabaikan.

Kedua: kata "melampaui batas" (asrafu" penting untuk kita selami bersama. Apa dan kenapa hamba-hamba itu disebut "telah melampaui batas"?

Hal pertama yang harus kita ingat bahwa kehidupan itu semua sudah tertata dalam keseimbangan yang kokoh: "wassamaa rafa'aha wawadho'al mizaan". Maka seluruh sisi kehidupan itu saling seimbang antara satu dan lainnya.

Makan misalnya sudah diatus keseimbangannya. Tidur juga demikian. Antara tuntutan kehidupan materi sudah diatur sedemikian teratur sehingga tetap seimbanh dengan tuntutan kehidupan spiritual. Keduanya memerlukan keseimbangan dan tidak harus bertabrakan atau diperselisihkan.

Oleh karena Islam adalah agama kehidupan (diin al-hayaah) maka sisi-sisi ajaran Islam itu harus imbang (tawazun). Maka semua sisi ajaran Islam itu saling mengimbangi terhadap sisi lainnya. Perintah mencari rezeki yang halal terkadang harus ditinggalkan demi kebutuhan spiritual "wa dzarul bae'" (tinggalkan jual beli untuk datang ke sholat jumat).

Sebaliknya ketika pemenuhan kebutuhan spiritual telah dipenuhi maka tinggalkan masjid menuju kepada perjuangan memenuhi keperluan material duniawi kita: "fa idza qudhiyatis sholah fantasyiru fil ardh".

Perintah dan larangan juga demikian saling menjaga keseimbangan. Perintah bekerja keras diimbangi dengan larangan mencuri. Perintah untuk sukses diimbangi dengan larangan angkuh dan sombong. Perintah menikah diimbangi dengan larangan berzina. Perintah untuk kaya diimbangi dengan larangan terbuai dunia (lahwu). Dan seterusnya.

Oleh karenanya di saat manusia melanggar keseimbangan itu, apakah dengan meninggalkan perintah atau sebaliknya melakukan larangan, maka itulah yang disebut "melampaui batas" (asrafu) tadi.

Maka melakukan dosa dan kesalahan itu adalah melakukan pengrusakan kepada keseimbangan hidup manusia. Dan oleh karenanya dosa-dosa itu dikategorikan sebagai "kezaliman pada diri sendiri" (zhalamu anfusahum).

Ketika: "jangan berputus asa dari rahmat Allah" (bersambung...).

* Presiden Nusantara Foundation
** Jamaica Muslim Center

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...