28 February 2020

Ini Etika Dalam Menerima Takdir

KONFRONTASI -  Tanya : “Jodoh (pasangan hidup)kan  adalah takdir,  Mengapa mesti ada perceraian? Bukankah berarti jodoh itu sebagai takdir yang tidak jadi? Atau adakah takdir yang tidak jadi?”

Syekh : “Jika takdir dikaitkan dengan tindakan manusia unik, beragam dan kompleks sebagaimana yang telah disebutkan. Masalah tersebut memang sederhana dan lumrah dalam kehidupan. Orang menikah disebut sebagai takdir dari Allah tapi mengapa cerai juga? “

“Perlu kita perhatikan terlebih dahulu masalah ini. Manakah yang dirayakan dari dua peristiwa tersebut, apakah pernikahannya atau perceraiannya? Apakah acara perceraian dirayakan dengan sebuah resepsi dengan mengundang mubaligh, qari, tamu undangan banyak, dengan jamuan makan? Kita sepakat di antara dua peristiwa tersebut yang mengandung kenikmatan adalah pernikahan. Nikah dipandang sebagai nikmat dan cerai dipandang sebagai musibah. Keduanya memang merupakan takdir Allah secara hakikat.”

“Namun sebelum mencapai ke sana, Allah mengajarkan kepada kita etika maa ashoobaka min hasanatin faminallah [Apa yang menimpa kepadamu berupa kebaikan maka itu berasal dari Allah] Jika anaknya berprestasi juara I, maka hendaknya dikmbalikan sumbernya kepada Allah nikmat tersebut (mengucapkan Alhamdulillah), bukan kepada dirinya (berkata ‘siapa dulu bapaknya!’).  Allah mengajarkan etika tersebut agar kita tidak merasa sombong, karena sifat tersebut berbahaya. “

“Sebaliknya wa maa ashoobaka min sayyi-atin famin nafsika [Apa yg menimpamu berupa keburukan maka itu berasal dari dirimu sendiri] (Lihat Q.S. An Nisa: 79). Allah mengajarkan etika tersebut agar kita pandai introspeksi diri (muhasabah) sehingga dapat diketahui kekurangan2 di balik peristiwa yang menimpanya itu.”

“Semua kejadian memang merupakan takdir Allah. Tapi Allah mengajarkan etika kepada kita apabila datang kejadian yang membwa nikmat hendaknya dikembalikan kepada-Nya agar tidak sombong. Dan apabila datang suatu musibah maka hal itu dikembalikan kepada dirinya agar mampu introspksi kekurangan-kekurangan diri. “

“Jadi pernikahan maupun perceraian adalah pasti merupakan takdir Allah.  Adapun perceraian sebagai suatu peristiwa yang buruk, mesti dijadikan bahan introspksi diri bagi kedua pasangan tersebut. Sehingga pada saat keduanya menjalani proses tersebut sebagai bagian dari takdir Allah keduanya bisa memperbaikinya di masa mendatang.”

“Sebuah kisah yang menunjukkan adanya instrumen/faktor yang tidak kita ketahui tertentu di balik usaha keras (kesungguhan) seseorang dalam menggapai apa yang diinginkannya. Walaupun ia telah maksimal menempuhnya lewat kemampuan ilmu, manajemen yang ia miliki, ada faktor x yang menyebabkan terhambatnya kesuksesan yang ia idam-idamkan.”

“Di Ceritakan pada masa lalu, ada seorang tokoh sufi besar yang bernama Abu Yazid al Busthami yang merasakan kegelisahan suatu hari ia merasa ibadahnya tidak menyambung dengan hatinya, sujud terasa hampa, matanya kering dari tetesan air mata taubat. Ia mencurigai dirinya sendiri. Ia selidiki apakah ada makanan atau minuman yang tidak halal yang pernah ia makan. Karena menurutnya makanan yang haram akan menimbulkan hati seorang akan mati. Setelah ia periksa dalam catatan kejujurannya tidak ia jumpai . Kemudian ia tanyakan kepada ibunya , apakah ketika kecil pernah memakan makanan yang tidak halal. Ibunya kaget ditanya tentang masalah tersebut. Namun setelah di ingat-ingat ibunya bercerita bahwa dulu ia pernah memakan sepotong roti di saat ia sedang lapar sekali. Roti tersebut diambil tanpa izin tetangganya yang kebetulan pintunya sedang terbukan. Waktu itu abu Yazid masih dalam kandungannya.”

“Ini dia penyebabnya!”, kata abu Yazid. Akhirnya abu Yazid memohon kepada ibunya agar meminta kehalalannya kepada tetangga tersebut. Setelah itu menjadi terang benderanglah hati abu Yazid sehingga menyambung kembali hatinya dalam beribadah kepada Allah.”

“Ini suatu contoh yang membuktikan faktor lain di sekeliling kita di balik usaha maksimal sehingga menentukan takdir yang kita peroleh.”

 

Penanya : “ Ada banyak orang yang mencari takdir pekerjaan yang lebih baik ( karena lokasi, penghasilan, kenyamanan, dll). Bagaimana menyikapi hal ini sebagai keyakinan kepada suatu takdir?”.

Syekh : “ Hidup adalah pilihan. Tidak memilih pun termasuk sebuah pilihan juga. Manusia berjalan dari satu takdir ke takdir berikutnya. Yang harus diperhatikan dalam rangka mengabdi kepada Allah adalah bagaimana dalam menjalankan proses sesuai bimbingan agama.”

“Misalnya jika dalam pekerjaan tidak nyaman untuk menjalankan ibadah, maka perlu mencari pekerjaan yang kondusif. Kita penting mencari pekerjaan yang dapat mendukung etos kerja, meningkatkan ibadah-ibadah kita. Pindah dari satu pekerjaan kepada pekerjaan yang lain adalah dalam rangka mencari keridhoan Allah.”

“Mesti kita lihat niat dan prosesnya. Selanjutnya Allah akan mentakdirkannya dengan kebaikan dan kebijaksaanNya. Perpindahan demi perpindahan itu menjadi nilai ibadah disisi Allah, karena ia ingin bekerja di tempat yang dapat mengembangkan potensi kebaikan dan menekan potensi keburukannya. Ini merupakan suatu langkah yang baik dalam pandangan agama.”

“Kutu loncat seperti itu dinilai positif, karena disamping banyak pengalaman akan mendapatkan Ridha Allah. Sebab selain berusaha maksimal ia iringi dengan cita-cita dan niat yang lurus ikhlas. Usaha dan pekerjaan itu adalah alat bukan tujuan. Banyak orang terjebak karena menganggap pekerjaan itu sebagai tujuan. Betapa lelah dan ruginya mereka karena apa yang mereka peroleh? Pekerjaan mesti dijadikan media atau saran untuk memperoleh tujuan. Tujuannya adalah keselamatan dan kebahagiaan yang hakiki dari dunia hingga akhirat. Jangan hanya memilih pekerjaan hanya dari sudur gaji yang besar, fasilitas yang lengkap. Tapi niatkan keinginan untuk meraih bahagia, selamat dan menjalankan ibadah dengan sebaik-baiknya.”

“Pada saat pekerjaan dijadikan sebagai alat atau sarana bukan sebagai tujuan, maka inilah yang menjadi penilaian Allah atasnya”.

 

Penanya: “ Apakah dalam berusaha kita tidak boleh berharap mencapai hasil yang besar?”.

Syekh : “ Jika kita ingin arif dan bijaksana mesti dilihat dari 2 sudut pandang, tidak hanya lahiriyah saja. Ketika seseorang membangun sebuah toko dengan harapan sukses dengan niat semata-mata  mengabdi kepada Allah lalu kemudia mengalami kebangkrutan (gagal), maka gunakanlah 2 standar dalam menganalisanya. Lahiriyahnya memang terlihat gagal, tapi secara batin belum tentu dinilai gagal. Seseorang yang mengalami kegagalan usaha kemudian ia intropeksi diri memperbaiki kesalahan-kesalahan itu dan mengembalikan semuanya kepada Allah , maka kegagalan itu adalah sukses dalam pandangan Allah. Gagal secara lahiriyah namun hakikatnya sukses”.

“Kegagalan itu merupakan soal (ujian) dari Allah, apakah ia menggerutu, menyalahkan orang lain, atau putus asa? Bukan hasil itu yang menjadi cita-cita tertinggi, tapi menggapai ridho Allah. Sebaliknya ketika usahanya sukses hendaknya ia jangan berbangga diri (sombong). Ia masih bersegera mengembalikan semuanya (bersyukur) kepada Allah. Sikap sabar dan syukur itulah yang menjadi pilihan Allah, bukan untung ruginya.”

“Inilah kunci penghayatan agama yang akan menghasilkan kebahagiaan. Bisa kita bayangkan bagaimana seseorang tetap bahagia meski ia gagal. Sebab ia selalu ia memiliki harapan, dan menganggap apa yang dialaminya sebagai ujian semata. Inilah sehebat-hebatnya sandaran keyakinan keimanan kepada Allah, termasuk kepada takdir.”

Penanya: “ Apa bedanya takdir dengan nasib?”

Syekh : “ Nasib itu berasal dari bahasa Arab نصيب yang berarti bagian. Nasib adalah tahapan-tahapan yang berakumulasi menuju takdir.Nasib adalah bagiannya dan takdir adalah ujungnya. Kumpulan usaha-usaha kita dan orang lain menjadikannya sebagai takdir. Oleh karenanya jangan lupa ketika sukses kepada do’a orang lain seperti Ibu, Bapak, saudara dan lainnya. Dan sebaliknya saat gagal jangan lupa akan dosa atau kesalahan kita, seperti pernah berlaku dzalim kepada orang lain”.

“ Hingga pencapaian takdir begitu banyak variabel, faktor yang berasal dari diri, keluarga dan lingkungan. Misalnya disebutkan dalam suatu riwayat bahwa di pagi hari Rosulullah SAW mendo’akan umatnya yang berharap kepada Allah dalam meraih rizky. Termasuk mereka yang bersedekah sebelum berangkat bekerja. Para malaikat pun mendo’akan mereka bersedekah di pagi hari. Sebaliknya mendo’akan kesusahan dan kebangkrutan bagi mereka yang kikir di pagi harinya. Orang yang didzalimi juga termasuk  mereka yang di ijabah do’anya oleh Allah. Kesemuanya merupakan bagian yang mempengaruhi proses ending suatu takdir kepada seseorang. Berapa luasnya ilmu Allah yang mengantarkan berbagai sebab-sebab kepada suatu takdir.”

Penutup

“Allah mengajarkan agama yang sempurna dengan ajaran yang wajib jita imani termasuk didalamnya iman kepada Qodar (takdir). Betapa penting ruang jiwa kita di isi dengan nilai yang sangat mahal, yakni percaya kepada Allah. Dalam kehidupan ini ada takdir-takdir Allah uang merupakan ujian dariNya, jika kita beriman kepada Allah maka kita dituntut percaya kepada ketetapanNya. Ketika kita percaya kepada takdir Allah maka jiwa akan merasakan nyaman dan damai. Kemanakah manusia akan lari dari kenyataan hidup yang meliputi 2 ujian takdir, baik dan buruk. Siapapun orangnya, baik seorang presiden maupun seorang yang miskin di dunia ini tidak lepas dari 2 macam takdir ini (sehat, sakit,senyum,sedih, untung,rugi). Takdir hanya akan berpisah di akhirat (syurga dan neraka). Jangan mimpi selama hidup didunia ini ingin mendapatkan sehat dan nikmat terus menerus.”

“Yang penting dalam menyikapi takdir adalah sikap kita berupa usaha maksimal dalam mencapai sesuatu (sebelum datang takdir) dan belajar untuk menerima ketetapanNya (sesudah datang takdir). Dengan mengimani dan ridha kepada takdirNya akan membuat kita menjadi orang yang bahagia. Selalu tunduk, nyaman, dan selalu bersandar kepada Allah.”

“Allah sang pencipta  adalah segala-galanya, yang memiliki sifat mutlak dan sempurna. Kita rasakan dalam kehidupan dan buktikan iman kepada Allah di alam nyata. Adanya ujian keimanan berupa takdir yang baik dan buruk adalah sebagai sarana (lab) untuk membuktikan keimanan seseorang dalam kehidupan ini. Semoga takdir buruk kita bisa terima dengan lapang dada dan intropeksi diri, dan ketika datang takdir baik kita mampu mensyukurinya. “ (Juft/Al-Idrisiyyah)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...