19 August 2019

Iduladha Bukan Hanya Ibadah Ritual

GURU Besar UPI Karim Suryadi berbicara pada Diskusi Kurban, Solidarits Sosial, dan Kesejahteraan Umat yang digelar oleh DKM Masjid Alfurqan Universitas Pendidikan Indpnesia di Aula Pikiran Rakyat, Rabu 7 Agustus 2019. ADE BAYU/"PR"

 

KONFRONTASI -  Kurban bisa menjadi momentum untuk menggalang solidaritas sosial. Sudah saatnya kurban tidak hanya menjadi ritual, tetapi berperan mengangkat kesejahteraan masyarakat.

Demikian benang merah Diskusi Kelompok Terpumpun "Korban, Solidaritas Sosial, dan Kesejahrteraan Umat" yang diselenggarakan DKM Alfurqon Universitas Pendidikan Indonesia di Aula Pikiran Rakyat Jalan Asia Afrika 77 Kota Bandung, Rabu 7 Agustus 2019. Hadir sebagai pembicara KH Muchtar Kholid dari Pesantren Babussalam Ciburial Kota Bandung, Prof Dr Atip Latiful Hayat (Guru Besar Unpad), Dr Edi Suresman, MA (UPI), dan Prof Dr Karim Suryadi (Guru Besar UPI) dengan moderator Erwin Kustiman (Pikiran Rakyat). FGD dibuka Ketua Umum DKM Alfurqan Prof Dr Syihabudin dan penasihat DKM Alfurqan Prof Dr Juntika Nurihsan.


K.H. Mukhtar Kholid mengatakan, kurban merupakan salah satu ibadah sosial. Islam mengenal banyak ibadah sosial, seperti aqiqah, infak,beasiswa, dan lain-lain. "Seolah-olah sudah lunas kalau sudah kurban, padahal ada banyak ibadah sosial itu," katanya saat menjadi pembicara dalam Diskusi Kurba, Solidarits Sosial, dan Kesejahteraan Umat yang digelar oleh DKM Masjid Alfurqon Universitas Pendidikan Indpnesia di Aula Pikiran Rakyat, Rabu (7/8/2019).

Menurut dia, agar kurbn mempunyai dampak yang signifikan, sebiknya manajemen kurban dibuat permanen. Dengan begitu, penyalurannya akan lebih jelas dan berdampak.

"Kalau perlu ada zonasi supaya jelas penyalurannya. Kalau perlu ada desa garapan, desa ini sudah digarap oleh masjid mana," katanya.

Guru Besar Universitas Padjadjaran Atip Latipulhayat mengatakan, ibadah kurban tidak hanya mempunyai dimensi ritual, melainkan substansial. "Dengan dimensi seperti ini, tidak fokus pada ritualnya," kata Atip. 

Ia mengatakan, ditilik dari historisnya, pengorbanan Ibrahim itu berbasis pada perintah Allah. Bukan semata-mata dari nalar pribadi untuk membangun peradaban. Pengorbanan itu mengandung nilai kemanusiaan. "Kita eksis ini karena ada pengorbanan orang lain," ujarnya.

Ia mencontohkan, para politisi kini bisa memegang jabatan di legislatif dan eksekutif karena ada pengorbanan masyarakat sebagai pemilih. "Karena masyarakat mau mencoblos, kalau mereka sepakat tidak mau (mencoblos), tidak akan jadi," katanya.

Ritual kurban saat Iduladha menjadi pesan simbolik yang universal. Pesan yang mudah dipahami oleh semua lapisan masyarakat. Selanjutnya,menjadi tugas kalangan terpelajar untuk menggali pesan di balik itu.

Iduladha harus menjadi momentum untuk menggalang solidaritas sosial. Dari masyarakat terkecil, hingga komunitas internasional. "Semangat kurban individual ini harus dingkat menjadi ke level negara bahkan internasional," katanya.

Misalnya saja bagaimana kurban bisa dikelola secara baik bahkan sampai ke tingkat nasional dan internasional.

Pengurus DKM Masjid Alfurqon UPI Edi Suresman mengatakan, semangat berkurban yang menggebu kerap meredup setelah Iduladha berlalu. Hal itulah yang membuat kurban belum bisa membuat masyarakat sejahtera. 

"Tiap tahun hewan kurban naik, tapi masyarakat tak juga sejahtera. Karena spirit kurban tidak dilanjutkan.Bukan dagingnya yang akan membuat sejahtera, tapi spirit kurbannya," katanya. 

Guru Besar UPI Karim Suryadi mengatakan, kurban mengandung pesan agar tak terjebak konsumerisme dan gaya hidup boros. B.J Thomas dalam lagunya "Using Things and Loving People" mendeskripsikan bagaimana hidup seharusnya, yaitu menggunakan barang dan mencintai manusia.

"Tapi sekarang, banyak orang mencintai barang dan memanfaatkan orang lain. Akhirnya yang didapat hanya kehampaan," tuturnya.

Kurban juga menyiratkan pesan akan hubungan vertikal, antara pemimpin dan yang dipimpin. Bagaimana seorang pemimpin menggunakan Alquran, apakah sebagai dalil atu dalih. "Kalau dalih itu penguasa membuat kebijakan yng salah tapi dijustifiksi dengan ayar Alquran, maka tidak akan ada yang berani menentangnya," tuturnya. (Jft/PR)

 

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...