17 September 2019

Hijrah dan Ketaatan

Oleh: Nurwanasari Hamzah, S.Farm., Apt

Islam adalah agama yang lurus. Dan dengan kesempurnaan  ciptaan Allah, Dia menciptakan langit dan bumi beserta penentuan jumlah bulan di sisi-Nya. Ada 4 bulan yang sangat istimewa, diantaranya adalah muharam. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. (QS. At Taubah : 36).

Bulan muharam merupakan bulan pertama di tahun hijriyah. Bulan muharam yang artinya suci atau terlarang. Dinamakan muharam, karena sejak zaman dulu, pada bulan ini dilarang berperang dan membunuh. Larangan itu terus berlaku hingga masa Islam.

Ada yang menarik dari bulan muharam ini, yaitu fenomena hijrah. Kata hijrah di Indonesia menjadi sangat popular karena dimaknai sebagai pribadi yang mengalami perubahan diri dari kondisi kemaksiatan menuju kondisi islami. dari pribadi yang jauh menjadi pribadi yang dekat kepada Allah SWT.

Fenomena ini layaknya gerakan besar yang mengajak kaum muslimin untuk berpindah menjadi pribadi yang lebih baik dengan cara meningkatkan ketaatan dalam menjalankan syari’at agama.Sebagaimana telah terukir di mata umat islam dalam peristiwa  hijrahnya Rasulullah dari mekkah menuju madinah.

Singkatnya peristiwa hijrah memberikan  makna sebagai pemisah antara kebenaran – kebatilan, antara islam -kekufuran; serta antara darul islam - darul kufur. Di sisi lain, hijrah dapat bermakna sebagai awal kebangkitan Islam dan kaum Muslim yang  pertama kalinya. Dan kemudian menjadi tonggak berdirinya Daulah Islamiyah (negara islam)  untuk pertama kalinya di Madinah saat itu

Memaknai Hijrah

Sayangnya spirit hijrah ini nyaris tergerus sekalipun diperingati berulang-ulang di tiap tahunnya. Hal disebabkan karena pandangan akan peristiwa hijrah hanya sebatas peristiwa sejarah masa lalu yang tak ada hubungannya dengan masa depan. Bahkan tereduksi maknanya hanya sekadar urusan perubahan individual. Hijrah identik dengan perubahan. Dan perubahan tidak akan terjadi tanpa adanya muhasabah (instropeksi diri). Hijrah pula tidak dapat dimaknai hanya perubahan individu saja. Terbukti hijrah tidak hanya berdampak pada terbentuknya kembali Semenanjung Arab namun  juga berdampak pada peradaban di seluruh dunia.

Maka bercermin dari hijrahnya Rasulullah SAW dan para sahabat adalah sebuah keharusan bagi  kaum muslimin saat ini. Maka pergantian tahun ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan perubahan secara total, tidak hanya untuk pribadi namun juga perubahan masyarakat. Karena itu makna dan spirit hijrah itu penting untuk diresapi serta direalisasikan untuk menghela perubahan masyarakat saat ini. Dengan begitu akan terwujud kembali masyarakat Islam yang diliputi keberkahan dan keridhaan dari Allah SWT.

Umat harus sadar bahwa refleksi hijrah hari ini adalah meninggalkan kekufuran menuju keimanan; meninggalkan darul kufur menuju darul Islam; meninggalkan kekalahan menuju kemenangan dan kemuliaan Islam; dan mengubah penindasan menjadi tebaran kerahmatan. Kita tidak cukup untuk sekadar merenungi sejarah, ada kewajiban yang harus ditunaikan oleh umat Islam yaitu mewujudkan kembali tegaknya khilafah.  target hijrah ini mengarahkan kita untuk menerapkan islam secara sempurna.

Realitas Umat Yang Rusak Memustahilkan Hijrah Yang Sesungguhnya

Kerusakan sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan makin nyata dirasakan keburukannya oleh umat saat ini. Efek buruk yang melahirkan berbagai aturan yang jauh dari fitrah penciptaan manusia, alam dan kehidupan.  dominasi sistem saat ini akan terus berupaya menghentikan perjuangan syariat islam lewat kriminalisasi ajaran Islam, persekusi para pengemban dakwah, dan pembubaran ormas yang dianggap radikal. sistem ini bahkan telah nyata-nyata menjauhkan umat dari kemuliaan.

Predikat khairu ummah yang Allah sematkan bagi umat Islam, bahkan hanya tinggal sejarah. Itupun sekuat tenaga ditutup-tutupi kaum kuffar agar umat ini tak punya nyali untuk meraih kembali kebangkitan.. Berbeda dengan Islam, sejarah telah membuktikan bahwa kejayaan Islam justru tercapai ketika Islam tidak hanya diposisikan sebagai agama ritual tetapi juga sebagai aturan hidup yang mengatur seluruh aspek dalam kehidupan.

Oleh karena itu, sebagai seorang yang berusaha untuk melaksanakan semua aturan yang telah dibebankan oleh Allah SWT kepada kita, hendaknya kita tidak mengambil pandangan-pandangan yang tidak berasal dari Islam maupun memperjuangkannya, apalagi pandangan itu telah terbukti mudharatnya bagi kehidupan kita, agar kita dapat mempertanggungjawabkan perbuatan kita di akhirat nanti. Aturan-aturan Islam dalam masalah publik (negara) sejatinya justru harus dikembalikan lagi kepada umat islam, semua muslim di dunia ini harus faham bahwa sesunggunya akar permasalahan yang menyebabkan bangkitnya barat dan terpuruknya Islam adalah satu: sekular (memisahkan agama dari negara).

Dengan demikian kunci perwujudan masyarakat islami pasca hijrah tidak lain adalah mencampakkan sistem sekuler destruktif menuju penerapan syariah Islam secara kaffah atas semua warga negara di dalam Daulah Islam. Dan menjadikan bulan muharam sebagai tonggak kelahiran umat Islam yang memiliki negara yaitu Khilafah

Khilafah adalah janji Allah yang tidak mungkin diingkari. Maka dari itu, tegaknya khilafah adalah kebutuhan yang sangat penting dan mendesak. Saatnya meninggalkan aturan yang lahir dari akal pikir manusia yang lemah dan terbatas menuju sistem islam yang mampu menjangkau hakikat segala bentuk persoalan yang solutif dan komprehensif lewat penegakkan khilafah. Saatnya umat berjuang menyongsongnya dengan menggencarkan dakwah islam . Wallahu ‘alam bishowab[]

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...
Senin, 16 Sep 2019 - 20:09
Senin, 16 Sep 2019 - 20:05