21 May 2019

Hakikat Puasa dalam Psikologi

Konfrontasi - Berpuasa hakikatnya tidak hanya menahan hawa nafsu makan dan minum semata, namun juga mengendalikan emosi.

Ketika mampu melakukan pengendalian emosi, orang yang berpuasa akan meraih manfaat yang lebih besar, yakni kondisi psikis yang lebih rileks dan tenang.

Sekjen Asosiasi Psikologi Positif Indonesia Abdul Rahman Shaleh mengungkapkan bahwa puasa memiliki beberapa manfaat yang dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang yang menjalankannya.

Pertama, pengendalian perilaku. Ketika orang menjalankan puasa, artinya sudah mempersiapkan diri untuk mampu menahan hawa nafsu, baik nafsu makan, minum, maupun amarah. Jadi, ada proses dimana seseorang yang berpuasa berusaha mengendalikan diri dan perilakunya.

“Dalam arti yang sesungguhnya, orang berpuasa menahan banyak hal keinginan. Dalam konteks psikologi, orang yang berpuasa melakukan apa yang disebut dengan regulasi diri, bahwa seseorang sedang belajar untuk mengatur perilakunya selama Ramadan,” katanya seperti dikutip dari Bisnis, Sabtu (11/5/2019).

Kedua, pengontrolan diri. Manfaat ini merupakan efek daripada pengendalian diri. Dalam ilmu psikologi, kontrol diri orang yang berpuasa menjadi lebih kuat karena pada saat itu melakukan pengendalian emosi, menahan amarah, dan tidak berlebihan untuk mudah tertarik pada sesuatu yang mengundang nafsunya.

Dia menjelaskan, orang yang bisa mengontrol diri biasanya lebih tenang dalam menghadapi kehidupan. Dengan ketenangan yang tercipta, orang tersebut akan terhindar dari gejala-gejala depresi atau tekanan yang berlebihan.

“Di samping itu pasti akan lebih sehat karena orang yang berpuasa kan malamnya tarawih, fungsi sosialnya meningkat karena bertemu dan berbicara dengan orang lain. Bahasa lainnya, puasa bukan sekedar diet untuk membakar kalori, tetapi membakar ego,” ungkapnya.

Kontrol diri pada saat bulan Ramadhan menjadi berbeda dibandingkan di luar Ramadan. Ini berkaitan dengan perbedaan kondisi lingkungan atau komunitas.

Jika berpuasa sendiri di luar Ramadan, suasana di lingkungan atau komunitas tidak begitu terasa karena hanya kepentingan diri. Karena itu, kontrol diri menjadi tidak terlalu kuat, bahkan jika membatalkan puasa secara seketika tidak jadi masalah.

Sementara ketika berpuasa di bulan Ramadan, tekanan bagi orang yang berpuasa lebih kuat. Pasalnya, pada saat Ramadan, seolah-olah dipaksa untuk posesif dengan semua orang. Hal ini menurutnya sangat memberi pengaruh terhadap kondisi psikis. (bsns/mg)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...