10 December 2019

Diskusi AIFIS: Meninjau Konflik Dalam Menjaga Situs Agama

KONFRONTASI- Situs suci agama yang menjadi  tempat beribadatan bagi lebih dari satu pemeluk agama, seringkali akan menimbulkan ketegangan antar pemeluk tersebut. Antar pemeluk agama akan mencoba meng-klaim bahwa situs suci tersebut merupakan situs suci agama tertentu. Hal ini terjadi pada Bodh Gaya Temple di India. Candi tersebut menjadi perebutan klaim atas dua pemeluk agama yang berbeda, yaitu Hindu dan Budha. Mayoritas penduduk wilayah Bodh Gaya yang beragama Hindu mencoba meng-klaim bahwa candi tersebut adalah Candi Hindu. Sedangkan warga Budha yang menjadi minoritas mencoba mencari dukungan dari luar wilayah itu untuk membantu meng-klaim bahwa candi tersebut adalah Candi Budha.

Hal ini disampaikan oleh Dr. Kelli Swazey dalam Diskusi Publik bertema Cultural and Religious Heritage yang diselenggarakan oleh Laboratorium Agama dan Budaya Lokal (LABEL) UIN Sunan Kalijaga bekerjasama dengan AIFIS (American Institute for Indonesian Studies), pada hari Rabu, 8 April 2015 di UIN Sunan Kalijaga. Swazey menyampaikan materi Touristification of the Sacred. Swazey menyelesaikan Program Ph.D. dari University of Hawaii, Amerika, yang kini menjadi dosen pada Program S2 Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) UGM.

Dalam kesempatan tersebut, lebih lanjut Swazey menjelaskan bahwa situs suci agama yang menjadi  tempat beribadatan bagi lebih dari satu pemeluk agama juga terjadi di Indonesia. Salah satunya adalah Pesarean Gunung Kawi yang menjadi tempat peribadatan (kunjungan) bagi kaum Muslim dan Tionghoa. Berbeda dengan kasus Bodh Gaya Temple di India yang menimbulkan konflik antar pemeluk Hidu dan Budha, Pesarean Gunung Kawi tidak menimbulkan konflik antara Muslim dan Tioghoa. Swazey menilai bahwa penamaan “Wisata Religi” bagi Pesarean Gunung Kawi berkontribusi atas ketidakmunculan konflik antar pemeluk agama yang berbeda yang menjadikan tempat tersebut sebagai tempat peribadatan.  

 Swazey juga menjelaskan bahwa setelah situs suci agama seperti Bodh Gaya Temple ditetapkan sebagai “Heritage” oleh UNESCO, masyarakat asli di sekitar situs suci tersebut biasanya akan tersingkir. Mereka sudah tidak memiliki kebebasan untuk ikut mengelola situs tersebut karena setelah ditetapkan sebagai Heritage, situs suci tersebut sudah bukan lagi menjadi milik warga setempat, namun menjadi milik dunia yang pengelolaannya diserahkan kepada pemerintah setempat. Kasus semacam ini, menurut Swazey, tampaknya juga terjadi pada situ-situs suci agama di Indonesia yang ditetapkan sebagai Heritage oleh UNESCO.

Ahmad Salehuddin, dosen UIN Sunan Kalijaga, yang menjadi pembicara lain dalam diskusi tersebut menyampaikan bahwa salah satu kegagalanReligious Tourism di Indonesia adalah bahwa masyarakat Indonesia hanya sebatas melihat situs suci agama namun gagal menyerap pengetahuan dan sejarah situs tersebut. Kegagalan yang lain adalah minimnya perlindungan terhadap situs suci agama yang menjadi tujuan wisata. Sebagai contoh, sebagian masyarakat yang mengunjungi Makam Sunan Drajat mengambil batu sebagai cinderamata atau azimat, padahal situs suci tersebut harusnya dilindungi dan benda-benda yang ada di dalamnya tidak boleh diambil.(K)

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...