25 March 2019

Cerai, Semudah Memencet Gawai

Oleh : Marwah*

Era kekinian, di mana kecanggihan teknologi begitu pesat, ternyata berdampak luas. Salah satunya fenomena perceraian yang trednya meningkat. Jika sebelumnya sebab perceraian banyak masalah ekonomi atau Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), dalam beberapa tahun terakhir justru dipicu kecemburuan di media sosial (Kompas.com).

Telepon pintar , justru membuat ruang-ruang komunikasi dan jarak temu suami istri semakin jauh. Mestinya kecanggihan gawai bisa mendekatkan yang jauh. Tapi yang terjadi malah ..menjauhkan yang dekat. Fakta yang tak bisa dihidari, karena terlalu sibuk dengan gawai sering membuat komunikasi suami istri menjadi buruk. Belum lagi adanya kecurigaan dan kecemburuan oleh pihak ketiga yang melontarkan kalimat pujian di media sosial. Hal itu membuat hati pasangan menjadi panas. Kemudian kecemburuan atau rasa iri melihat pasangan lain lebih romantis di media sosial juga membuat pasangan uring-uringan (Jawapos.com).

Lihat saja kasus perceraian di sejumlah daerah di tanah air mengalami yang mengalami kenaikan. Terutama daerah dengan populasi yang besar. Jawa Timur, misalnya . Badan Peradilan Agama (Badilag) Jawa Timur mencatat pada 2013 angka perceraian sudah sebanyak 83.201 perkara. Pada 2014 naik menjadi 87.473. Meski pada tahun 2015 turun menjadi 87.241 perkara, namum hingga September 2016 angka perceraian di Jatim sudah mencapai 51.000 perkara (Bisnis.com) .

Pergaulan laki-laki dan perempuan pada masa sekarang seperti tak terbatas ruang dan waktu. Kapan saja dan dimana saja, yang jauh bisa menjadi dekat dan yang dekat bisa menjadi jauh. Dengan dunia maya yang dihadirkan oleh gawai, semua menjadi lebih mungkin. Berawal dari kenalan, atau teman lama yang ditemukan di grup yang mengungkit masa lalu, akhirnya yang jauh menjadi dekat. Banyak orang yang menyalahgunakan gawainya. Dengan bermedia sosial mereka bebas berkenalan, saling memuji, saling memberi perhatian, bahkan menceritakan kekurangan pasangan masing-masing, kerap dilakukan. Yang berhubungan dengan teman lama juga tak kalah seru. Bernostalgia bersama dan menjadikan rasa lama bersemi kembali. Hal ini terjadi pada dunia maya. Pada genggaman gawai masing-masing seolah tanpa batas. Banyak juga yang akhirnya saling berjanji untuk melanjutkannya di dunia nyata.

Tidak sedikit yang melihat kemesraan pasangan lain yang diunggah di media sosial, membuat iri karena tidak begitu yang didapatkan dari pasangannya. Hal ini juga memicu adanya perselisihan antar pasangan karena ketidakpuasan pada pasangannya. Akhirnya banyak membandingkan dengan pasangan lain. Sungguh sebuah hubungan terlarang yang memicu pertengkaran, bahkan retaknya banyak rumah tangga belakangan ini.

Interaksi di dunia maya menurut Islam

Di dalam Islam, sudah sangat jelas aturan bagaimana semestinya pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya. Islam melarang laki-laki dan perempuan untuk berinteraksi dalam hal-hal yang tidak dibenarkan oleh syariat. Interaksi yang dibolehklan oleh syariat adalah dalam muamalah dan taawun (tolong menolong). Contohnya dalam pendidikan, berjual beli, kesehatan dll. Itu pun tetap terikat dengan hukum syariat Allah. Yakni saling menjaga pandangan, menutup aurat dengan sempurna, tidak berkhalwat dan bertingkah laku yang tidak melanggar syariat. Dan ini berlaku baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Di tempat umum (ruang publik), sudah seharusnya pasutri saling menjaga. Dengan tidak menampilkan kemesraan bersama pasangannya . Atau mengumbar aib pasangannya. Termasuk ketika bemedia sosial, yang bisa diakses secara luas. Sehingga , cukuplah perkara “rahasia” itu berada di ruang privat.

Sungguh pengaturan dalam Islam akan menjaga kehormatan kaum laki-laki maupun perempuan. Sebuah penjagaan total dari tergelincirnya terhadap dosa maksiat , bahkan zina. Serta menghindarkan dari fitnah. Dengan taat syariat, individu dan keutuhan keluarga akan terjaga martabatnya.

Memang ketika Islam tidak ditegakkan di masyarakat sebagai sebuah sistem formal, persoalan dalam interaksi dua jenis manusia, laki-laki dan perempuan akan selalu ada. Karena paham kebebasan (liberal) yang dianut masyarakat kekinian. Tak bisa menyalahkan media sosial atau kecanggihan teknologi, karena penggunanya lah yang menentukan akan dimanfaatkan untuk apa. Bisa negatif , merusak diri sendiri atau masyarakat. Atau penggunaan medsos yang berguna untuk kepentingan masyarakat banyak, misal kajian parenting, atau bahkan dakwah Islam. Di sisi lain negara tentulah tidak bisa hanya sebagai regulator semata , tapi wajib meriayah (mengatur) secara sempurna dengan upaya pencegahan (edukasi yang konsisten) dan pemberian sanksi yang tegas jika terjadi pelanggaran syariat, terkait pergaulan di tengah masyarakat. Tidak dibiarkan liar seperti kondisi sistem hari ini.

Karena Rasulullah SAW bersabda : ”Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya “ (HR al- Bukhari).

Sugguh hanya dengan sistem Islam, medsos justru akan sangat produktif untuk syiar Islam. Bukan kontra produktif justru merusak rumah tangga orang. Wallahu’alam bishshowab []

*penulis pengamat masalah sosial, tinggal di Malang.

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...