23 October 2019

Catatan KH Achmad Fathony: Geliat Ulama yang Terus Memandu Ummat

Alhamdulillah, saya tadi siang hingga sore ikut hadir dalam pertemuan para Habaib, Kyai, Cendekiawan dan para profesional di Pondok Pesantren Riyadhul Jannah, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur.

Beberapa Habaib dari Jakarta dan Solo hadir. Para kyai dan pengasuh pesantren dari berbagai daerah di Jawa Timur juga hadir. Tampak antusiasme para ulama itu untuk terus berkesinambungan peduli krisis kebangsaan akhir-akhir ini.

O, iya, dari kalangan cendekiawan juga ikut hadir, seperti Prof. M. Nuh, mantan Mendiknas, dan Prof. Bisri, rektor UB Malang, dan Ketua Forum Rektor Indonesia. Dan, master dalam pertemuan tadi dengan pikiran-pikiran bernasnya adalah : Kyai Ma'ruf Amin, Ketua MUI, semoga Allah selalu menjaganya.

Usai sholat dhuhur berjamaah, Kyai Mahfudz selaku tuan rumah menyambut para tamu dengan tembang jowo khas pondokan. Isinya sarat sindiran terhadap kondisi krisis moral yang sedang dialami bangsa kita. Kemudian menyebut beberapa tokoh yang sudah hadir sekaligus memperkenalkannya kepada hadirin.

Kemudian berturut-turut menyampaikan sambutannya adalah : K.H. Bashori Alwi (Malang), Prof. Bisri, Habib Sholeh Al Jufri (Solo), Prof. M. Nuh, Gus Sholah, Kyai Qosim, Habib Muhsin (Jkt).

Kesimpulan dan rangkuman dari pandangan beliau-beliau adalah:
1. Saat ini tengah terjadi multi krisis di Indonesia.
2. Pemerintah sedang mengalami kepanikan yang timbul sebagai akibat dari hal-hal yang diciptakannya sendiri.
3. Saat ini bahkan telah terjadi perang, dimana ummat Islam harus membuat strategi yang tidak hanya berdasarkan fikiran-pikiran linear.
4. Potensi ummat Islam yang besar harus dipandu dan dikordinasikan oleh para ulama, cendekiawan dan profesional agar mewujud sebagai kekuatan yang efektif.
5. Sekarang adalah saatnya kebangkitan para ulama untuk yang kedua kalinya. Kebangkitan yang pertama terjadi pada akhir abad 19 yang menginspirasi kemerdekaan Republik Indonesia.
6. Jika kebangkitan ulama yang pertama dulu adalah untuk merebut kemerdekaan, maka kali ini kebangkitan ulama adalah untuk menyelamatkan bangsa agar tidak diperhamba oleh asing dan anti Islam.

Sambutan dan tausiyah Kyai Ma'ruf Amin, Ketua MUI di acara kemarin, menambah gairah kesadaran kejuangan para hadirin. Beliau juga mengutip kembali beberapa pernyataan para pembicara sebelumnya.

Saya kira beliau adalah seorang Kyai yang kalem dan suka mengalah saja demi harmonisasi, tapi ternyata bukan begitu. Saat menyinggung tentang perlunya kedaulatan ekonomi ummat yang harus segera dimulai dengan kerjasama antar pondok-pondok pesantren, beliau bilang, "Kita akan berjalan seiring dengan mereka (pelaku bisnis non muslim) dlm kompetisi yg sehat. Tapi jika tidak bisa dan harus berhadapan head to head, ya kita akan perang", kata beliau yg langsung disambut takbir para hadirin.

Kyai juga bercerita bahaw beliau sudah mengusulkan langsung kepada Jokowi agar dilakukan dialog nasional untuk mencari solusi dari berbagai masalah kebangsaan. "Jika tidak dilakukan, ya nanti MUI yang akan mengadakan dialog nasional. Kita libatkan juga dewan-dewan agama (lain). Lalu kita deklarasikan bahwa kita semua memiliki komitmen terhadap Pancasila. Tidak boleh ada lagi yang menyebut bahwa jika tidak mendukung seorang calon gubernur kok dikatakan tidak Pancasila, tidak Bhinneka Tunggal Ika", begitu pemaparan beliau.

Masih ada lagi hal-hal lain yang disampaikan Kyai Ma'ruf Amin.

Mengenang tausiyah beliau kemarin sore dan menuliskannya saat ini, hati saya bergemuruh rasa syukur. Alhamdulillah kita masih memiliki ulama-ulama yang tidak bisa dibeli dan layak menjadi panutan. Air mata saya menggenang, dan jatuh sebutir demi sebutir.

Sesaat saya terhenyak saat Kyai Ma'ruf Amin bilang begini, "Para Kyai jangan hanya melulu tinggal di pesantren. Sekarang saatnya keluar untuk melaksanakan tanggung jawab keummatan". Konteks dhawuh beliau adalah terkait keadaan kebangsaan yang menurutnya mengalami banyak krisis.

Makanya beliau ajukan saran agar presiden bikin Dialog Nasional itu. Walaupun toh jika presiden tidak menuruti sarannya, MUI tetap akan menggelar Dialog Nasional. Lanjutnya, "Kita para ulama para kyai, sudah biasa merumuskan makhorij fiqhiyyah ketika membahas soal2 fiqih yang tidak kita temukan dasar tekstualnya. Maka kitapun juga bisa memberikan makhorij wathoniyah terhadap krisis kebangsaan kita saat ini".

Saya kira, Kyai Ma'ruf Amin dan para ulama kita kemarin telah melantangkan pesan yang tegas untuk kita semua. Bagi ummat Islam : tetaplah waspadai rongrongan kedaulatan negeri ini melalui penistaan Islam dan pendzaliman terhadap ulama. Bagi ummat munafiq dan non muslim : jangan remehkan kekuatan Islam manakala ia telah bangkit dan bersatu.

Yang paling hebat adalah, acara kemarin jelas merupakan mata rantai dari spirit Bela Islam akhir tahun lalu. Makanya sejak awal semangatnya bukan sekedar kumpul-kumpul berparade ceramah dan berembug doang. "Harus ada yang riil yang kita hasilkan hari ini," tegas Habib Shaleh al Jufri dari Solo.

Benar saja, akhirnya acara kemarin alhamdulillah sukses membentuk sebuah Dewan Tinggi Ekonomi Umat yang terdiri dari para kyai pengasuh pesantren bergandeng dengan para pengusaha dan profesional. Suatu gerakan pemberdayaan ekonomi yang berbasis pesantren. (*)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...