26 April 2018

Bahagia dalam Peradaban Hak Asasi Manusia dan Spirit La Ilaha Illallah

Oleh: Denny JA

Negara yang paling mampu membuat penduduknya bahagia, juga adalah negara yang paling mengapresiasi prinsip hak asasi manusia.

Itulah hasil riset dari begitu banyak lembaga internasional dengan metodelogi yang terukur. Lembaga SDSN dari PBB misalnya membuat list tahunan dengan indeksnya untuk mengukur kebahagiaan warga negara. Selalu yang menjadi rangking 12 besar umumnya negara seperti Swedia, Denmark, Norwegia, Canada, Australia, dan sebagainya.

Riset dibuat pula untuk mengukur rangking negara yang dianggap paling mengapresiasi hak asasi manusia. Lembaga yang melakukannya antara lain, BAV Consulting dan Wharton School dari University of Pensylvinia, Amerika Serikat. Top 12 rangkingnya juga negara yang relatif sama.

Tak bisa kita berspekulasi yang mana sebab yang mana akibat.  Apakah hidup bahagia cenderung membuat kita menghargai hak asasi manusia? Atau karena hak asasi manusa dijamin penuh, warga negara lebih bahagia?

Yang bisa kita simpulkan, negara yang paling menghargai hak asasi manusia juga termasuk negara yang paling mampu membuat warga negaranya bahagia. Kebahagiaan dan apresiasi atas hak asasi manusia itu hadir bersama, berkolerasi, dan bersinerji.

Peradaban digital era google sudah sampai di titik ini. Tapi apakah ini puncak pencapaian manusia? Inikah titik akhir peradaban? Sisa sejarah apakah hanya tinggal universalisasi prinsip ini kepada negara dan komunitas lain yang belum mencapainya?  Inikah  “the End of History?”

-000-

Saya berpandangan, peradaban hak asasi manusia hanyalah syarat minimal ruang publik untuk hidup bersama. Itu syarat miminal agar warga negara mengalami kebahagian puncak.

Keberagaman warga negara hanya bisa dilayani maksimal dengan menciptakan ruang bersama yang menghargai hak asasi warga negara.

Tapi sekali lagi, itu hanya syarat minimal. Di luar itu adalah filsafat hidup masing masing individu warga negara. Syarat minimal? Apakah ada yang maksimal?

Yang maksimal itu terpulang pada pilihan seni hidup masing masing pribadi. Saya meyakini dunia spiritual menyediakan samudra bagi kebahagian puncak.

Tentu pilihan pribadi saya tak bisa menjadi patokan atau “general rule” untuk publik luas. Namun selalu baik saja jika kita sharing pengalaman dan gagasan.

Bagi saya, peradaban hak asasi manusia itu hanya beroperasi untuk  mengapresiasi hak manusia. Sedangkan spirit La Ilaha Illalah filsafat hidup yang memuliakan manusia. Untuk memuliakan manusia diperlukan sarana lain diluar daftar hak asasi semata.

Yang dimaksud dengan peradaban hak asasi adalah tumbuhnya kebijakan pemerintah dan kultur warga negara untuk mengapresiasi hak asasi manusia, seperti yang sudah diputuskan oleh UNO atau PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa). Daftar apa yang menjadi hak asasi manusia itu pertarungan dan kulminasi puncak peradaban modern.

Sedangkan spirit La Ilaha Illallah adalah sikap hidup yang menolak menyembah yang lain kecuali Allah. Para pejuang hak asasipun bisa juga menyembah uang, kuasa, pemimpin, guru suci, ideologi, negara, partai politik. Menyembah hal itu juga merupakan hak asasi manusia. Menyembah dalam hal ini bisa diartikan hidupnya didedikasikan dan berorientasi bahkan didominasi oleh yang mereka sembah itu.

Tapi spirit La Ilaha Illallah menolak menyembah semua yang duniawi di atas. Uang, harta, partai, pemimpin, negara, ideologi, bahkan guru suci, itu semua hanyalah tuhan kecil. Jangan membuat mereka mendominasi hidup pribadi. Spirit La Illah Illallah membebaskan pikiran dan jiwa manusia dari semua sembahan itu untuk berorientasi pada Allah semata.

Tapi apakah Allah itu? Tak pula kita mampu mendefinisikannya. Jika ia bisa didefinisikan, ia bukan Allah lagi. Namun untuk kepentingan praktis, Allah itu dapat didekati dengan proksi saja. Ia adalah imajinasi terjauh dari kesempurnaan dan kebenaran. Ia adalah pusat dari sinar cinta dan kasih.

Dengan peradaban hak asasi manusia, kita sediakan ruang publik bersama untuk mengapresiasi keunikan dan pilihan individu. Mereka bebas memilih life style hidupnya sejauh tidak melakukan  kriminal, kekerasan dan paksaan kepada pihak lain.

Namun spirit La Ilaha Illallah menjadi filsafat hidup pribadi untuk terus membebaskan diri dari orientasi menyembah tuhan kecil (harta, kuasa, pemimpin, ideologi, negara, bahkan guru suci). Upaya pembebasan diri itu sebuah perjalanan menuju kesempurnaan, kebenaran, dan hidup penuh cinta kasih.

Manusia sebagai mahluk sosial dapat ikut menciptakan ruang publik bersama dengan ikut menciptakan peradaban hak asasi manusia. Namun manusia sebagai individu punya perjalanan batin yang lebih panjang hingga ajal menjemput. Itulah perjalanan untuk terus mendekati prinsip La Ilaha Illallah.*

Tags: 
Category: 
loading...

Related Terms