24 July 2019

Setelah lama Cekcok, kini ada Titik Balik Hubungan Turki-Israel ?

Konfrontasi - Turki dan Israel tengah berupaya membicarakan kesepakatan pemulihan hubungan.

Sebagai negara anggota pakta pertahanan Atlantik utara atau NATO, Turki sebelumnya adalah sekutu utama Israel di kawasan itu.

Namun, kedua negara tersebut berselisih karena serbuan mematikan pasukan komando Israel pada 2010 terhadap kapal bantuan Turki, Mavi Marmara, yang menuju Gaza.

Ketegangan di antara kedua negara kini sedikit mengendur menyusul pemberitahuan pada Desember 2015 bahwa kedua pihak membuat kemajuan dalam pembicaraan rahasia untuk mencapai pemulihan hubungan.

"Israel membutuhkan negara seperti Turki di kawasan ini, dan kami juga harus mengaku bahwa kami membutuhkan Israel. Ini kenyataan," kata Erdogan kepada wartawan Turki seperti dikutip koran lokal terbitan Sabtu (2/1/2016).

"Jika langkah bersama diterapkan berdasarkan ketulusan, maka normalisasi hubungan akan tercipta," kata dia.

Para duta besar ditarik dari masing-masing negara seiring timbulnya krisis pada 2010. Erdogan mengatakan tiga syarat yang diajukan Turki untuk normalisasi sangat jelas yaitu pencabutan blokade Gaza, kompensasi bagi korban kapal Mavi Marmara, serta permintaan maaf atas insiden tersebut.

Israel meminta maaf dan perundingan sepertinya membuahkan kemajuan dalam hal ganti rugi, dan tinggal menyisakan pengucilan di Jalur Gaza, yang dikuasai Hamas, sebagai rintangan utama.

Dengan menunjukkan kemajuan dalam hal pengucilan, Erdogan menyatakan Israel mengusulkan mengizinkan barang dan bahan bangunan melintasi Gaza jika berasal dari Turki.

"Kami harus melihat teks tertulis untuk memastikan tidak ada penyimpangan kesepakatan," kata Erdogan.

Israel juga menginginkan Turki mencegah mata-mata Hamas, Salah Aruri, memasuki wilayahnya. Sejauh ini, Israel tidak pernah memastikan kehadiran Aruri di Turki.

Pada bulan lalu, Erdogan mengadakan pembicaraan tertutup dengan Kepala Hamas, Khaled Meshaal, namun isi pembicaraan antara presiden dan pemimpin pergerakan Islam Palestina itu tidak pernah terungkap.

Sebelumnya beberapa tahun lalu ,Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan “walk out” dari Forum ekonomi Dunia setelah adu mulut dengan Presiden Israel Shimon Peres mengenai konflik Gaza.

Seperti dilaporkan AFP, Erdogan “walk out” di depan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon dan peserta lain karena protes komentarnya soal Gaza diperpendek.

“Saya berpikiran tidak akan datang lagi ke Davos setelah kejadian ini karena Anda tidak membolehkan saya berbicara,” kata perdana menteri itu sambil keluar. Namun, pada Kamis malam dia mengatakan akan mempertimbangkan kembali hal tersebut.

Erdogan mengkritik hadirin yang terdiri dari pejabat internasional maupun swasta karena mereka memberi tepuk tangan atas pidato emosional Peres tentang serbuan ke Gaza yang menewaskan lebih dari 1300 warga Palestina.

Erdogan mengatakan Israel berlaku biadab di Gaza.

“Saya merasa sangat sedih karena orang-orang tepuk tangan atas ucapan anda padahal banyak orang tewas, ” teriaknya kepada Peres sebelum dihentikan oleh moderator, wartawan Washington Post David Ignatius.

Ia protes karena Peres diberikan 25 menit untuk berbicara dalam perdebatan sementara dirinya hanya 12 menit

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...