23 May 2018

Presiden Filipina Akui Bunuh 3 Orang Dengan Tangannya Sendiri

KONFRONTASI - Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengukuhkan kepada BBC, bahwa ia membunuh tiga orang dengan tangannya sendiri saat menjabat sebagai walikota Davao.

Ia mengatakan: "Saya membunuh tiga orang... Saya tak tahu berapa peluru dari senjata saya yang menembus tubuh mereka. Itu memang terjadi dan saya tak bisa berdusta mengenai hal itu."

Pernyataan Duterte sekaligus membantah juru bicaranya sendiri yang beberapa jam sebelumnya berusaha melindunginya dengan mengatakan bahwa pengakuan Duterte soal membunuh sendiri tersangka penjahat harus diartikan tidak secara harfiah.

Pengakuan bahwa dia membunuh langsung ini diungkapkan Senin (12/12) sebelum melakukan lawatan ke Kamboja dan Singapura, namun baru diketahui khalayak umum belakangan.

Kepada sejumlah pemimpin dunia usaha yang datang di istana, ia mengatakan: "Di Davao saya pernah melakukannya (pembunuhan itu) secara pribadi. Sekadar untuk menunjukan orang-orang (polisi) bahwa jika saya saja bisa melakukannya, mengapa mereka tidak bisa."

"Dan saya juga biasanya mengenderai sepeda motor besar berkeliling Davao, melakukan patroli. Saya mencari masalah dan sengaja mengupayakan konfrontasi (dengan para tersangka penjahat) sehingga saya bisa membunuh (mereka)."

Duterte pernah menjabat sebagai walikota Davao selama dua periode, dan dikenal dengan reputasinya yang membasmi kejahatan dengan cara brutal, dan dituding mengerahkan pasukan pembunuh.

Di Singapura, menjawab BBC, ia berkilah tentang pembunuhan yang dilakukannya.

"Saya memang tak bisa berbohong soal itu. Tapi kalau dikatakan saya membunuh orang yang sudah berlutut, dengan tangan terikat di belakang, itu omong kosong," katanya.

Tahun 2015, dia juga mengatakan pernah membunuh sedikitnya tiga orang, yang dituduh melakukan penculikan dan pemerkosaan di Davao.

Pada masa kampanyenya, Duterte memang berjanji akan membunuh para pengedar narkotika dan sejak menjadi presiden Juni 2016, diperkirakan lebih dari 5.000 orang dibunuh tanpa proses hukum.

Namun dalam pidato untuk penyerahan penghargaan kepada warga Filipina terpilih, The Outstanding Filipino Awards 2016, dia menegaskan, "Saya bukan pembunuh."

 'Bukan pecandu'

 

Menjawab pertanyaan Karishma Vaswani dari BBC setelah konferensi pers, Duterte menyatakan akan terus mengobarkan perang melawan pengedar narkoba 'sampai hari terakhir masa jabatan saya.'

"Sampai semua (tersangka pengedar obat bius) terbunuh.

Hampir 6.000 orang dilaporkan telah tewas oleh polisi, warga dan tentara bayaran di Filipina sejak Duterte meluncurkan perang narkoba setelah terpilih pada bulan Mei lalu.

Para pengecamnya menuding ia mendorong polisi dan warga untuk menembak di tempat para tersangka pengedar dan pengguna narkoba.

Mereka juga menuding, bahwa Duterte sendiri adalah seorang pengguna narkoba.

Duterte membantah meskipun mengaku menggunakan Fantanyl, obat pembunuh rasa sakit dosis kuat.

"Saya bukan pecandu," katanya. "(Saya mengkonsumsinya) hanya setelah diresepkan dokter. Baru bisa disebut mengalami ketergantungan, jika dilakukan secara teratur, kawanku."

"Kecanduan itu adalah kalau orang ingin mengkonsumsinya terus menerus, dan kalau sudah mengkonsumsinya, dirasakan ada monyet bergelayut di punggungnya."

Duterte mengaku menggunakan obat itu karena ia menderita migrain dan gangguan tulang belakang.

Pengakuan presiden bahwa ia pernah membunuh dengan tangannya sendiri, mendorong para pemimpin oposisi dan kelompok-kelompok hak asasi manusia untuk menyerukan pemakzulan.(Juft/BBC)

Category: 
Loading...