9 December 2019

PM Tony Abbott Mainkan Isu Eksekusi Mati untuk Kepentingan Politik

KONFRONTASI- Australia bersikap ambivalen dan standar ganda terhadap Repubiik Indonesia dalam menyikapi eksekusi mati atas dua warga Australia, yakni Myuran Sukumaran dan Andrew Chan, yang menjalani eksekusi hukuman mati di Nusakambangan. 

''Australia tidak bersikap arogan dan sinis ketika warganya dihukum mati di Singapura atas kejahatan narkoba. Namun kepada Indonesia, dengan menarik Dubesnya dari Jakarta, Canberra memperlihatkan arogansi dan superioritasnya sebagai negara Barat. Canberra tampak meremehkan dan merendahkan Indonesia dalam kasus eksekusi mati warganya yang terlibat kejahatan Narkoba. Namun Australia tidak demikian terhadap Singapura,  sesama anggota Persemakmuran dan  Canberra tampak berhitung terhadap Singapura yang relatif negara kaya/maju dibanding RI,'' kata Herdi Sahrasad, peneliti senior Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina, Kamis ini (30/4/15)

Menurut Herdi Sahrasad, pengamat politik Universitas Paramadina, PM  Tony Abbot seyogianya bisa menerima alasan dan kebijakan pemerintahan Jokowi untuk menghukum mati penjahat Narkoba karena sudah menjadi masalah sangat serius di Indonesia. ''Abbott tak perlu merasa kebakaran jenggot, bagaimanapun ini urusan domestik RI dalam upaya penegakan hukum tanpa pandang bulu. Abbott mencoba memainkan isu ini untuk mencari simpati dan dukungan di dalam negeri Australia sendiri, demi kepentingan politiknya sendiri, '' kata Herdi, dosen ilmu sosial-politik Sekolah Pasca Sarjana Universitas paramadina

Ini adalah kali pertama Australia memanggil pulang duta besarnya di sebuah negara terkait warganya yang dieksekusi mati karena kasus narkotik. Canberra tak pernah memilih opsi ini meski warganya pernah dieksekusi mati juga di Singapura tahun 2005 serta di Malaysia pada 1986 dan 1993. 

Tahun 2005, saat Nguyen Tuong Van, 25 tahun, ditangkap karena narkoba dan kemudian menjalani eksekusi mati di Singapura, Desember 2005, Australia tak menarik duta besarnya meski sempat tegang. Nguyen tertangkap di Bandara Changi, Singapura, pada 2002 karena membawa 392,2 gram heroin dari Kamboja. Jumlah heroin Nguyen 26 kali lebih banyak dibanding jumlah minimal dalam undang-undang Singapura. Sesuai undang-undang anti-narkoba Singapura, siapa pun yang memiliki heroin minimal 15 gram diancam hukuman mati.

Perdana Menteri Australia Tony Abbott pada Rabu, 29 April 2015 memutuskan untuk memanggil Paul Grigson, Duta Besar Australia di Jakarta, setelah dua warga Australia, yakni Myuran Sukumaran dan Andrew Chan, menjalani eksekusi hukuman mati di Nusakambangan. 

"Kami menghargai kedaulatan Indonesia, tapi eksekusi mati ini bukan hal sederhana yang bisa dilupakan begitu saja," kata Abbot dalam konferensi pers di kantornya, seperti yang dilansir Sydney Morning Herald, Rabu, 29 April 2015.

Menurut Abbot, Duta Besar Australia untuk Indonesia Paul Grigson akan dipulangkan untuk berkonsultasi dengan pemerintah Australia soal hubungan bilateral kedua negara. Penarikan duta besar ini juga dilakukan untuk menghargai nyawa dua warga negara Australia yang ditembak timah panas oleh jaksa eksekutor di Nusa Kambangan. "Eksekusi mati itu kejam, seharusnya itu tak perlu dilakukan," kata dia.

Pengadilan Singapura menjatuhkan hukuman mati pada Nguyen pada 20 Maret 2004. Nguyen ajukan banding dan kalah. Pengadilan Banding Singapura memutus Nguyen pada 20 Oktober 2004 tetap menjalani eksekusi hukuman mati dengan cara digantung pada 2 Desember 2005. Eksekusi Nguyen berlangsung diam-diam dan saat itu sedang berlangsung KTT APEC di Korea Selatan.

Sebelum eksekusi, John Howard, Perdana Menteri Australia saat itu, mengajukan permohonan terakhir untuk menyelamatkan nyawa Nguyen. Howard minta kepada Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong untuk menghentikan eksekusi. Permohonan ditolak dan eksekusi tetap dilakukan.

Howard mengatakan kecewa dengan proses eksekusi karena Singapura tak memberitahu kapan hari eksekusi Nguyen, padahal keduanya sempat bertemu. Menteri Luar Negeri Singapura George Yeo pun menyampaikan permintaan maaf kepada Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer. Namun setelah itu hubungan membaik. Australia tak pernah mengancam atau menarik dubesnya dari Singapura.

Dalam jumpa pers pada Rabu, 29 April 2015 pagi, Abbot beralasan eksekusi mati terhadap kedua warganya itu kejam dan tak diperlukan. Ia menyebut saat ini adalah masa-masa gelap hubungan diplomatik antara Indonesia dan Australia. "Saya ingin menekankan bahwa hubungan Australia tercederai atas apa yang terjadi dalam beberapa jam terakhir," kata Abbot. 

Andrew Chan dan Myuran Sukumaran masuk dalam gelombang kedua pelaksanaan eksekusi mati dinihari tadi. Selain dua anggota Bali Nine, ada enam terpidana mati lainnya yang dieksekusi, yakni Martin Anderson, Raheem Agbaje, Rodrigo Gularte, Sylvester Obiekwe Nwolise, Okwudili Oyatanze, dan warga negara Indonesia Zainal Abidin. Jenazah duo Bali Nine ini akan disemayamkan di Kedutaan Besar Australia sebelum dipulangkan ke negara asal mereka.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...