16 November 2019

Perang Dagang AS vs China Makin Sengit

KONFRONTASI-Amerika Serikat dan Cina terus terlibat perang dagang yang semakin meningkat setelah kedua negara menerapkan kenaikan tarif impor tahap kedua sebesar 25 persen untuk jumlah impor sebesar US$16 miliar atau sekitar Rp234 triliun.

Ini terjadi di tengah proses pembicaraan pejabat level menengah kedua negara di Washington untuk mencari solusi soal perang dagang, yang dimulai pada awal Juli 2018 itu.

Pemerintah AS mengenakan sanksi ini untuk 279 produk impor asal Cina seperti semikonduktor, bahan kimia, plastik, sepeda motor, dan scooter listrik.

“Cina melakukan retaliasi dengan mengenakan kenaikan tarif serupa untuk sejumlah produk impor asal AS dengan jumlah yang sama,” begitu dilansir CNBC pada Kamis, 23 Agustus 2018 waktu setempat.

Cina Membalas

Cina mengenakan kenaikan tarif baru ini untuk 333 produk seperti batu bara, tembaga, bahan bakar minyak, baja, mobil, dan perlengkapan medis. Media resmi Cina, Xinhua, mengatakan penerapan tarif ini berlangsung bersamaan pada Kamis waktu setempat.

“Cina sangat menolak kenaikan tarif terbaru dari AS dan akan melawan balik,” begitu dilansir kementerian Perdagangan Cina dalam pernyataan di situs online. Kementerian ini juga menambahkan akan melaporkan tarif terbaru AS ini ke Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO.

Kenaikan tarif AS ini membuat sejumlah importir negara itu meningkatkan jumlah pesanan dari Cina sebelum tarif baru berlaku. Kenaikan tarif tahap pertama berlaku pada awal Juli 2018 untuk US$34 miliar atau sekitar Rp498 triliun.

Direktur Operasional untuk Asia di Flexport, Henry Ko, mengatakan kenaikan tarif impor tahap pertama meningkatkan tarif biaya angkut udara dan laut serta biaya gudang di AS. “Jika perang dagang ini terus berlangsung, harga-harga produk dari sejumlah industri akan naik,” kata Ko kepada CNBC.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...