19 May 2019

Pembunuhan Kim Jong-Nam, Korut Sering Gunakan Racun untuk Habisi Musuh

Konfrontasi - Semprotan beracun diduga digunakan dalam pembunuhan Kim Jong-Nam, kakak tiri pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-Un. Rezim Korut yang dicurigai berada di balik pembunuhan ini diketahui kerap menggunakan racun dalam aksi rahasia menghabisi musuh-musuh di luar negeri.

Kematian Jong-Nam di Malaysia pada Senin (13/2/2017) waktu setempat, memunculkan kecurigaan soal keterlibatan rezim Korut. Jong-Nam tiba-tiba jatuh sakit setelah merasa ada orang yang menyergapnya dari belakang, saat sedang menunggu penerbangan di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA).

Terlebih rekaman CCTV bandara, seperti dilaporkan media lokal New Straits Times (NST), menunjukkan Jong-Nam disergap oleh dua perempuan. Satu dari depan yang berusaha mengalihkan perhatian dan satu lagi berdiri yang di belakangnya, mengaitkan lengan ke leher Jong-Nam untuk memasukkan racun. 

Serangan itu, disebut NST, berlangsung hanya dalam waktu 5 detik. Adegan CCTV selanjutnya menunjukkan Jong-Nam bergegas ke toilet dan mendatangi meja informasi untuk minta bantuan sebelum akhirnya dibawa ke klinik bandara. CCTV juga menunjukkan Jong-Nam tergolek tak berdaya di kursi klinik. Matanya terpejam dan wajahnya menunjukkan ekspresi kesakitan. Dia menghembuskan napas terakhir saat dalam perjalanan ke rumah sakit. 

Cara racun dimasukkan ke tubuh Jong-Nam masih belum diketahui pasti. Namun laporan media Korea Selatan, The Korea Herald, seperti dilansir pada Jumat (17/2/2017), menyebut semprotan beracun (toxic spray) hampir dipastikan digunakan dalam pembunuhan Jong-Nam.

Meskipun bentuk dan isi semprotan beracun itu belum diketahui secara jelas. Namun diketahui bahwa rezim Korut dalam operasi rahasianya, sebut The Korea Herald, lebih suka menggunakan senjata kecil, semacam pena, yang diisi neostigmine bromide -- sejenis obat anestesi. Obat itu disebut memiliki efek lima kali lebih kuat dari racun mematikan potassium sianida.

Penggunaan neostigmine bromide oleh rezim Korut terungkap dalam percobaan pembunuhan aktivitas HAM Korsel, Park Sang-Hak tahun 2011 lalu. Park kerap menyebarkan brosur antikomunis ke wilayah Korut. Seorang mata-mata bernama Ahn ketahuan mendapat perintah membunuh Park dari seorang mata-mata Korut lainnya di Mongolia. 

Ahn ditangkap dengan membawa dua senjata beracun, yakni sebuah pena beracun yang ujungnya mengandung neostigmine bromide -- dosis 10 mg bisa membunuh korban -- dan sejumlah pil beracun yang bisa membunuh peminumnya dalam waktu 3 detik usai ditelan. Ahn ditangkap oleh intelijen Korsel pada 3 September setelah dia memanggil Park di stasiun kereta bawah tanah dekat Gangnam, Seoul, dan hendak menyerangnya dengan pena beracun.

Semprotan beracun yang digunakan pada Jong-Nam di KLIA bisa juga berisi zat lain. The Korea Herald juga menyebut kemungkinan semprotan beracun itu berisi gas syaraf VX. Seperti diketahui bahwa VX merupakan racun yang tidak berbau dan tidak berasa, yang sering digunakan dalam perang dan disebut 'lethal' atau mematikan. 

Jenis racun yang digunakan pada Jong-Nam baru bisa diketahui dari hasil autopsi terhadap jenazahnya. Otoritas Malaysia telah menyelesaikan autopsi post-mortem terhadap jenazah Jong-Nam pada Rabu (15/2) malam. Namun hasilnya baru akan diungkap ke publik paling lambat akhir pekan ini. 

Jong-Nam yang pernah dipandang akan menggantikan ayahnya, Kim Jong-Il, sebagai pemimpin Korut ini, hidup dalam ancaman pembunuhan selama lima tahun terakhir. Setelah mengasingkan diri, dia pernah menyuarakan pandangannya yang tidak menyukai sistem politik dinasti seperti yang berlaku di Korut. Dalam bukunya yang terbit tahun 2012, Jong-Nam bahkan menyebut adik tirinya, Kim Jong-Un, tidak memiliki kualitas seorang pemimpin. (dtk/mg)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...