27 May 2019

Pejabat Inggris Serang Donald Trump di Twitter

Konfrontasi - Tidak hanya dengan para seteru Amerika Serikat (AS), Presiden Donald Trump pun pandai memancing masalah dengan sekutu-sekutunya. Lewat Twitter, tentu saja.

Kali ini giliran Inggris yang jadi sasaran. Akibatnya, taipan 71 tahun tersebut terlibat adu argumen dengan Perdana Menteri (PM) Theresa May di jagat maya.

Rabu (29/11) lalu, Trump mengunggah ulang tiga video yang sebelumnya diunggah Wakil Ketua Partai Britain First Jayda Fransen. Partai itu memang dikenal sangat antimuslim dan anti-imigran.

Tiga video tersebut berisi aktivitas tidak terpuji individu atau kelompok muslim. ’’Tidak seharusnya seorang presiden melakukan semua itu,’’ kata James Slack, kepala humas sekaligus jubir Downing Street 10. Dia mewakili May yang sedang melawat ke Timur Tengah.

Komentar Slack tersebut membuat Trump tersinggung. Presiden ke-45 AS yang tidak bisa lepas dari Twitter itu pun langsung berkomentar balik.

’’Jangan fokus kepada saya. Fokus saja pada terorisme Islam radikal yang destruktif dan mulai mengambil alih Inggris. Kami baik-baik saja dengan semua itu,’’ cuit ayah Ivanka tersebut.

Sayang, cuitan yang sarat sindiran itu Trump alamatkan ke akun @theresamay. Padahal, itu bukan akun resmi May. Saat ditelusuri, pemilik akun @theresamay adalah orang lain yang kebetulan punya nama depan dan tengah yang sama, sedangkan nama keluarga alias nama belakangnya berbeda.

Akun tersebut juga hanya punya enam follower. Begitu menyadari kesalahannya, Trump langsung menghapus cuitan itu.

Dia lantas mengirim ulang cuitannya tersebut ke @theresa_may yang merupakan akun resmi May. Dalam hitungan detik, cuitan itu dibaca sekitar 426.000 follower sang PM.

Termasuk Wali Kota London Sadiq Khan, Menteri Dalam Negeri Amber Rudd, dan sejumlah politisi pemerintah yang duduk di parlemen. Mereka tidak terima dengan penilaian Trump dan langsung menumpahkan amarah mereka di Twitter.

’’Setiap hari terjadi penembakan masal di negara Anda. Angka pembunuhan di sana berkali lipat lebih banyak daripada Inggris. Skema asuransi kesehatan di negeri Anda memalukan. Anda juga tidak berhasil meloloskan gagasan Anda di Kongres yang dikuasai partai Anda,’’ tulis Brendan Cox, suami Jo Cox, politikus Inggris yang dibunuh ekstremis sayap kanan pada 2016, lewat akun pribadinya.

Menteri Urusan Pemerintah dan Masyarakat Lokal Sajid Javid juga mengecam Trump lewat Twitter.

’’Jadi, POTUS (President of the United States) lebih mendukung ideologi organisasi rasis yang mendasarkan pandangannya pada kebencian dan permusuhan seperti itu. Mereka membenci saya dan kaum saya,’’ kata politikus muslim tersebut. Dia merasa terhina dan tidak akan diam saja.

Lebih ekstrem daripada Cox atau Javid, Khan mendesak May membatalkan undangan untuk Trump. ’’Setelah insiden ini, jadi lebih jelas bahwa Inggris tidak memerlukan kunjungan kenegaraan Presiden Trump,’’ tulis wali kota muslim pertama London itu di Twitter.

Dia lantas mengimbau May membatalkan undangan tersebut. Dia yakin sebagian besar publik Inggris sepakat dengan dirinya.

Ketua Partai Demokrat Liberal Vince Cable juga mendesak May bersikap tegas terhadap Trump. ’’Beliau harus bisa membuat Trump minta maaf secara terbuka kepada publik Inggris atas penghinaan yang dilakukannya itu,’’ ungkapnya.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...