19 November 2019

Muftia Tlaib: Semoga Tuhan Menghancurkan Trump

KONFRONTASI-Duduk di bawah pohon zaitun di Tepi Barat, wilayah Palestina yang diduduki Israel, Muftia Tlaib mencemooh perhatian yang baru saja ia terima dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald John Trump.

"Semoga Tuhan menghancurkannya," katanya.

Muftia Tlaib adalah nenek dari anggota Kongres AS Rashida Tlaib, salah satu politisi Partai Demokrat yang "dikeroyok" Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Pada hari Kamis, Israel—yang tunduk pada tekanan dari Trump—melarang kunjungan oleh Rashida Tlaib dan rekannya sesama politisi Demokrat; Ilhan Omar, ke Tepi Barat. Awalnya, rezim Zionis mengizinkan kunjungan kedua politisi pendukung gerakan boikot, divestasi dan sanksi (BDS) terhadap Israel.

Pada hari berikutnya, Israel mengatakan akan membiarkan Tlaib mengunjungi keluarganya di Tepi Barat dengan alasan kemanusiaan. Namun, Tlaib menolak tawaran itu dengan mengatakan bahwa Israel telah memberlakukan pembatasan yang dimaksudkan untuk mempermalukannya.

Pada Jumat malam, Trump menuliskan tweet; "(Anggota) Perwakilan Tlaib menulis surat kepada para pejabat Israel dengan putus asa ingin mengunjungi neneknya. Izin diberikan dengan cepat, di mana Tlaib dengan menjengkelkan menolak persetujuan, pengaturan yang lengkap. Satu-satunya pemenang nyata di sini adalah nenek Tlaib. Dia tidak harus melihatnya sekarang!"

Muftia Tlaib yang berusia 90, duduk di kebunnya di desa Beit Ur Al-Fauqa, tidak terkesan dengan komentar Trump. "Trump memberitahu saya bahwa saya seharusnya bahagia Rashida tidak datang," katanya. "Semoga Tuhan menghancurkannya," katanya lagi, mencemooh Trump, seperti dikutip Reuters, Minggu (18/8/2019) malam.

Putranya atau paman Rashida, Bassam Tlaib, mengatakan kedua perempuan itu tidak bertemu sejak tahun 2006.

"Dia (Muftia) akan menyembelih seekor domba ketika Rashida datang dan menyiapkan makanan kesukaannya, daun anggur isi," kata Bassam.

"Rashida melihat neneknya sebagai ibu kedua, dia selalu mendukungnya. Rashida mengatakan dia berutang kesuksesan kepada neneknya," ujar Bassam.

Rashida Tlaib tidak menguraikan kondisi apa yang ditekankan kepadanya sehingga Israel memberi izin untuknya berkunjung ke Tepi Barat. Namun, Media Israel melaporkan bahwa dia telah setuju untuk tidak mempromosikan boikot terhadap Israel sebagai bagian dari permintaannya kepada Kementerian Luar Negeri Israel.

Rashida Tlaib, seperti Ilhan Omar, telah menyuarakan dukungan untuk gerakan BDS pro-Palestina, yang menentang pendudukan dan kebijakan Israel terhadap Palestina di Tepi Barat dan Gaza. Pendukung BDS dapat ditolak masuk ke Israel oleh hukum rezim Zionis.

Kedua politisi Demokrat it adalah dua perempuan Muslim pertama yang terpilih menjadi anggota Kongres AS. Rashida Tlaib yang lahir di Detroit adalah anggota Kongres pertama Palestina-Amerika. Keduanya adalah anggota sayap progresif partai Demokrat dan pengkritik tajam Trump dan Israel.

Palestina ingin mendirikan negara dengan wilayah di Tepi Barat, Yerusalem Timur dan Jalur Gaza. Sebagian besar wilayah-wilayah itu direbut Israel dalam perang Timur Tengah 1967.

Israel telah mencaplok Yerusalem Timur dalam suatu langkah yang tidak diakui secara internasional; mempertahankan blokade Gaza, dan mengendalikan sebagian besar Tepi Barat, di mana Palestina memiliki pemerintahan sendiri yang terbatas.

Prospek penyelesaian konflik di bawah "solusi dua negara" yang telah memandu upaya penciptaan perdamaian selama bertahun-tahun telah meredup secara signifikan sejak Trump berkuasa. Sedangkan pemukiman Israel di tanah Palestina terus berkembang.

Pemerintahan Trump, yang sangat dekat dengan pemerintah Netanyahu, telah menggembar-gemborkan rencana perdamaiannya sendiri tetapi rinciannya masih kabur. Pemerintah Trump memicu kemarahan Palestina ketika mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada tahun 2017.

Trump telah berminggu-minggu menyerang Tlaib dan Omar, dan anggota Kongres lainnya; Alexandria Ocasio-Cortez dari New York dan Ayanna Pressley dari Massachusetts. Mereka semua adalah politisi perempuan kulit berwarna yang dikenal sebagai "Squad". Trump menuduh mereka bermusuhan dengan Israel dalam serangannya yang dikecam oleh para kritikus sebagai serangan rasis.

"Trump telah memberitahu Rashida dan Ilhan untuk kembali ke negara asal mereka. Betapa kontradiksinya, kemarin dia meminta mereka pergi dan hari ini dia meminta agar mereka tidak membiarkannya masuk," kata Bassam Tlaib.

Tetap saja, sang nenek menyampaikan harapannya. "Hati saya memberi tahu saya bahwa dia akan datang," ujar Muftia yang merindukan cucunya, Rashida Tlaib.(mr/snd)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...