23 August 2019

Mereka Menantang Maut Demi Harapan di Negeri Paman Sam

KONFRONTASI-Tingginya angka kemiskinan, pengangguran, dan kejahatan membuat penduduk negara-negara di Amerika Tengah mengungsi ke Amerika Serikat (AS). Sayang, perjalanan mereka ke tanah harapan tak semudah membalik telapak tangan.

Saily Yasmin Andino berlari mengejar kereta yang baru melaju di dekat Salto de Agua, Chiapas, Meksiko, Rabu (26/6). Mengenakan baju serbahitam dan sepatu tenis merah, dia berhasil naik ke atas gerbong. Andino tidak sendiri, masih ada puluhan imigran lain di kereta yang sama. Mereka semua punya satu tujuan, mencari suaka di Amerika Serikat (AS).

Selang beberapa jam kemudian, kereta itu berhenti di Tacotalpa, Tabasco. Gadis 19 tahun itu turun untuk membeli makanan. Ketika kereta kembali berjalan, dia bergegas naik. Entah kenapa kereta tiba-tiba berhenti dan mundur. Pegangan Andino terlepas, dia terjatuh di bawah kereta. Tubuh remaja berkulit cokelat itu terbelah menjadi dua sebelum akhirnya terseret sepanjang 90 meter. Orang-orang di atas kereta hanya bisa menjerit histeris.

''Orang-orang berteriak agar mesin kereta dimatikan. Tapi, ia justru melaju kian cepat,'' ujar Catalina Leon Munoz, salah seorang saksi mata, kepada NBC.

Andino yang berangkat dengan harapan tinggi untuk mengubah nasib tak pernah sampai di tanah harapan. Hidupnya berakhir di bawah kereta di Tacotalpa. Dia menambah daftar panjang kematian imigran asal Amerika Tengah yang ingin menginjakkan kaki di AS. Tiap tahun 300-an orang meninggal. Kalau dirata-rata, hampir tiap hari ada satu nyawa melayang.

Bagi para imigran, AS luar biasa menarik bila dibandingkan dengan negara mereka yang penuh dengan kejahatan, korupsi, pengangguran, dan perekonomian yang terpuruk. Sebut saja Honduras. Pada 2012 negara itu memecahkan rekor sebagai negara nonperang dengan angka pembunuhan tertinggi. Yaitu, mencapai 7.172 kasus.

Sebagian orang lagi bermigrasi karena gagal panen. Negara-negara Amerika Tengah seperti Honduras, Guatemala, dan El Salvador terkenal sebagai penghasil kopi. Namun, cuaca yang tak mendukung dan harga kopi yang anjlok membuat mereka jadi penganggur.(mr/jpn)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...