24 February 2018

Menlu Inggris Peringatkan Akan Ancaman Rusia

Konfrontasi - Menteri Luar Negeri Inggris Philip Hammond dalam pidato, Selasa (10/3), memperingatkan gerakan Rusia di Ukraina, yang merusak keamanan negara di Eropa Timur.

Pernyataan tersebut muncul seiring NATO menyiapkan pelatihan besar di negara Baltik -Latvia, Lituania dan Estonia-, tempat keterlibatan Rusia dalam perang 11 bulan di Ukraina "mengkhawatirkan".

"Kami berhadapan dengan Rusia, yang tidak tunduk pada pranata berasaskan aturan antarbangsa, yang menjaga perdamaian di antara bangsa, tapi justru menumbangkannya," kata Hammond pada Royal United Services Institute (RUSI) di London.

"Tindakan Presiden Putin, yang mencaplok Krimea secara tidak sah dan menggunakan pasukan Rusia untuk menggoyahkan Ukraina timur, pada dasarnya merusak keamanan negara berdaulat di Eropa Timur," kata Hammond.

Moskow membantah tuduhan Barat bahwa telah mendukung milisi separatis bersenjata melawan pasukan Kiev di timur Ukraina.

Presiden Rusia Vladimir Putin telah mengakui memerintahkan aneksasi Krimea dari Ukraina yang kemudian memicu kecaman internasional.

Kemellut di Ukraina telah menewaskan lebih dari 6.000 orang menurut PBB, dan perjanjian gencatan senjata yang rentan itu kembali tegang pada Senin karena Ukraina menuduh separatis menembaki posisi pemerintahan.

Mantan kepala tentara Inggris Peter Wall menuduh Inggris dan pemerintah Barat lainnya "tertangkap sedang tidur siang" di tengah ancaman dari Rusia dan ekstremis seperti Negara Islam (ISIS).

Wall mendesak pemerintah untuk memenuhi target anggaran pertahanan NATO sebesar dua persen dari PDB, dan mengkritik pemotongan belanja pertahanan yang menurut Wall didasarkan asumsi "lingkungan keamanan yang cukup tidak berbahaya dalam dekade ini".

"Kita sekarang dapat melihat konsekuensi yang keluar dari sikap diam kita untuk melawan ekspansi Rusia dan gangguannya di wilayah udara dan perairan lepas pantai kita," seru Wall.

Tanggapan tersebut menyusul laporan RUSI yang mengatakan anggaran pertahanan Inggris akan turun di bawah target dua persen karena langkah penghematan.

Laporan tersebut memperkirakan bahwa kekuatan militer dapat dikurangi sebanyak 30.000 personel, dan menyisakan 115.000 personel di angkatan bersenjata gabungan pada akhir dekade ini.

Pemerintah telah mengatakan bahwa pihaknya berkomitmen untuk menghabiskan dua persen dari PDB untuk pertahanan, dan dana pasukan bersenjata Inggris tidak harus "dikurangi dari jumlah yang sudah ada sekarang". (akl/ar)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...