18 November 2019

Majalah The Economist Kosongkan Satu Halaman Demi Menjaga Keharmonisan Antar Agama

Konfrontasi - Pembaca majalah The Economist di Singapura akan menemukan halaman kosong dalam edisi terbaru majalah tersebut. Halaman ini dikhususkan untuk mempublikasikan gambar sampul terbaru majalah satir Prancis Charlie Hebdo, tetapi tim percetakan majalah itu menolak untuk melakukannya, kata media lokal melaporkan Jumat.

Halaman ke-22 majalah itu kosong melompong tak berisi apa-apa kecuali dua kata "Halaman Hilang", kata Lianhe Zaobao. The Economist menjelaskan bahwa itu karena percetakan lokal mereka di Singapura menolak untuk mencetak sampul terbaru dari Charlie Hebdo, yang menggambarkan Nabi Muhammad menumpahkan air mata dan memegang tanda bertuliskan "Je Suis Charlie" (Saya Charlie).

Printer Times, yang mencetak majalah itu, mengatakan dalam satu pernyataan kepada media pada hari yang sama bahwa The Economist mengatakan kepada mereka, telah memutuskan untuk tidak menerbitkan sampul terbaru dari Charlie Hebdo di edisi Inggris, Asia, Amerika Serikat dan Eropa, serta meminta percetakan untuk membiarkan mereka agar tahu jika pihaknya prihatin atas kasus itu, Strait Times melaporkan.

"Kami berkonsultasi dan mencatat keprihatinan kami dengan The Economist. Setelah musyawarah, The Economist mengirimkan halaman pengganti bagi kita sesuai yang telah kita cetak," kata pernyataan itu.

Yaacob Ibrahim, Menteri Komunikasi dan Informasi pada hari yang sama mengatakan bahwa ia menghargai keputusan percetakan itu.

"Tidak ada kebebasan berekspresi tanpa batas. .. Hak untuk berbicara secara bebas dan sensitif harus datang bersama-sama," kata Yaacob.

Media Development Authority (MDA) juga menyambut keputusan majalah tersebut. "Ini menunjukkan pemahaman industri kami dari kepekaan yang terlibat, serta rasa hormat mereka untuk keharmonisan ras dan agama di Singapura," katanya. (rol)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...