21 February 2020

Kondisi Ekonomi China dan Implikasinya ke Indonesia

KONFRONTASI-Perekonomian Tiongkok atau RRC alias China kini menjadi perhatian dunia, termasuk Indonesia, karena perekonomian nomor dua dunia itu tengah mengalami pelemahan pertumbuhan ekonomi.

Indonesia berkepentingan dengan kondisi di Tiongkok tersebut karena negara itu merupakan mitra utama perdagangan nasional.

Bank Pembangunan Asia (ADB), Kamis (16/7/2015), memangkas perkiraan pertumbuhan untuk Tiongkok dan negara berkembang di Asia tahun ini serta berikutnya, karena pelemahan ekonomi negara tersebut.

Sementara Bank Dunia pada awal Juli mendesak Tiongkok untuk mempercepat reformasi sektor keuangannya yang didominasi negara. Bank itu memperingatkan bahwa kegagalan dalam mengatasi masalah ini bisa mengakhiri "tiga dekade kinerja bintang" bagi perekonomian terbesar kedua dunia itu.

Penurunan harga saham Tiongkok pada awal Juli cukup mengejutkan. Harga-harga saham di Tiongkok terus anjlok pada Rabu (8/7).

Indeks Shanghai Composite turun hampir 7 persen dan indeks harga saham Shenzhen turun 4 persen. Hal itu merupakan lanjutan penurunan yang telah melenyapkan 30 persen nilai pasar sejak pertengahan Juni.

Untuk melindungi diri dari penjualan besar-besaran, ratusan perusahaan Tiongkok mengajukan penghentian jual beli sahamnya. Secara keseluruhan, lebih dari 1.300 perusahaan di Tiongkok daratan, atau sedikitnya 40 persen dari pasar, telah menghentikan jual beli saham.

Biro Statistik Nasional (NBS) mengungkapkan bahwa ekonomi Tiongkok membukukan pertumbuhan tujuh persen tahun ke tahun pada kuartal kedua 2015, tidak berubah dari tujuh persen pada kuartal pertama.

Tingkat pertumbuhan terbukti lebih optimistis daripada perkiraan pasar rata-rata 6,9 persen untuk kuartal kedua, karena otoritas mengutip "tanda-tanda positif" terbaru dalam perekonomian.

Pada semester pertama tahun ini, produk domestik bruto (PDB) mencapai 29,7 triliun yuan (4,9 triliun dolar AS), naik tujuh persen tahun ke tahun, menurut data NBS.

Perekonomian nasional telah tinggal "di kisaran yang tepat" di paruh pertama karena indikator-indikator ekonomi utama berangsur-angsur pulih, menunjukkan stabilisasi dan perbaikan.

Selama paruh pertama, output industri tumbuh 6,3 persen tahun ke tahun dan investasi aset tetap naik 11,4 persen. Investasi properti tumbuh 4,6 persen tahun ke tahun, sementara penjualan ritel barang konsumsi naik 10,4 persen.

Perkuat ekonomi Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, jatuhnya saham Tiongkok cukup berdampak terhadap ekonomi Indonesia namun perlu dijaga dengan memperkuat ekonomi nasional.

Agar ekonomi Indonesia tidak ikut jatuh, menurut Wapres, harus menjaga ekonomi dalam negeri, memperkuat ekonomi nasional agar perusahaan-perusahaan dalam negeri berjalan dengan baik.

"Ya menjaga saja, karena imbasnya tentu ada, pengaruhnya itu ialah perusahaan-perusahaan Tiongkok itu ekspansinya pasti menurun," tambah Wapres.

Sementara Bank Indonesia (BI) menyatakan pihaknya mewaspadai dampak dari penurunan harga saham di bursa Tiongkok terhadap Indonesia karena negara tersebut merupakan negara pendorong pertumbuhan ekonomi dunia dan merupakan salah satu mitra utama perdagangan Indonesia.

"Kita harus antisipasi karena Tiongkok jadi pusat pertumbuhan ekonomi regional dan dunia. Kalau koreksinya tajam itu bisa ada dampak dan harus diantisipasi karena ada risiko interconnected antara negara," kata Gubernur BI Agus DW Martowardojo.

Agus mengatakan, pertumbuhan pasar modal di Tiongkok sangat mengagumkan dan bisa dikatakan tumbuhnya sudah sangat tinggi sehingga apabila tergerus sampai 30 persen sejak 12 Juni 2015 lalu, jika dibandingkan pertumbuhan selama setahun terakhir, relatif akan masih tinggi.

Namun, lanjut Agus, yang perlu diperhatikan hal tersebut akan berdampak ke pertumbuhan ekonomi Tiongkok itu sendiri karena akan berpengaruh besar terhadap Indonesia dan dunia seperti yang ditunjukkan dengan melemahnya harga komoditas dunia karena menurunnya permintaan dari Tiongkok.

Agus sendiri masih optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia akan lebih baik pada semester dua mendatang, namun kondisi ekonomi yang terjadi di Tiongkok perlu diperhatikan agar lebih berhati-hati.

"Studi kita kalau pertumbuhan ekonomi Tiongkok sampai tergerus 1 persen, dampak ke pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa 0,4-0,6 persen. Jadi kita betul-betul harus perhatikan," kata Agus.

Pangkas pertumbuhan Merupakan hal yang wajar jika perekonomian Tiongkok kini menjadi perhatian Indonesia. Sejumlah lembaga internasional memangkas pertumbuhan ekonomi Tiongkok .

Menurut ADB, setelah melambat di paruh pertama, produk domestik bruto (PDB) di Tiongkok diperkirakan 7,0 persen pada tahun ini dan 6,8 persen tahun depan. Itu dibandingkan dengan perkiraan Maret sebesar 7,2 persen pada 2015 dan 7,0 persen pada tahun depan.

"Pertumbuhan lambat di Tiongkok cenderung memiliki efek yang nyata pada negara lainnya di Asia karena ukuran dan hubungan dekat dengan negara-negara lain di kawasan itu," kata kepala ekonom ADB Wei Shang-Jin.

Permintaan eksternal yang lebih lemah dari perkiraan, penurunan populasi usia kerja dan meningkatnya upah adalah faktor-faktor dalam pelambatan pertumbuhan kekuatan utama ekonomi Asia (Tiongkok), tambahnya.

Sementara Bank Dunia menjelaskan, Partai Komunis yang berkuasa telah menjanjikan berbagai reformasi ekonomi dan lembaga yang berbasis di Washington itu mengatakan pengurangan "peran negara yang unik dan terdistorsi" di sektor perbankan dan keuangan yang lebih luas sangat penting.

"Investasi boros, kelebihan utang, dan regulasi lemah sistem shadow-banking," harus diatasi agar agenda yang lebih luas berhasil," katanya. Komentar dalam "China Economic Update" luar biasa terus terang untuk Bank Dunia.

"Tidak seperti negara-negara lain, di Tiongkok negara masih mempertahankan kepemilikan meluas dan kontrol pada bank-bank dan lembaga keuangan lainnya," katanya, termasuk dengan komite internal Partai Komunis yang kuat dan pemerintah mengangkat serta memberhentikan eksekutif puncak.

"Negara memiliki kepemilikan formal 65 persen dari aset bank komersial dan kontrol de facto dari 95 persen dari aset tersebut, menjadikannya jauh dari standar internasional." Dalam beberapa kasus, tambahnya, pemerintah secara bersamaan adalah pemilik, regulator dan nasabah bank.

Bank Dunia mempertahankan perkiraan pertumbuhan ekonomi untuk Tiongkok tahun ini sebesar 7,1 persen. Bank Dunia juga mempertahankan perkiraan pertumbuhan PDB untuk tahun depan di Tiongkok pada 7,0 persen dan 6,9 persen pada 2017. [tar]
 

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...