25 August 2019

Kenapa Israel Kalap Saat UNESCO Tetapkan Hebron Jadi Situs Warisan Dunia

Konfrontasi - Setelah Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menetapkan Kota Hebron di Tepi Barat sebagai situs warisan dunia, Israel seolah gelap mata. Negara Zionis itu langsung memangkas sumbangan buat UNESCO.

Dilansir dari laman Middle East Monitor, Sabtu (8/7/2017), Israel memotong sumbangan buat UNESCO sebesar USD 1 juta, atau setara Rp 13 miliar. Mereka beralasan duit itu bakal dipakai buat membangun museum di dalam daerah pemukim ilegal Yahudi di Kiryat Arbaa, di pusat Kota Hebron.

"Kami sudah melakukan yang kami bisa. Pemungutan suara itu merusak perjanjian kami dengan mereka dan malah menguntungkan bandit Arab," kata Duta Besar Israel buat UNESCO, Carmel Shama-Hacohen. 

Menteri Pertahanan Israel, Avigdor Lieberman, sangat kesal dengan keputusan UNESCO. Dia juga meminta Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, juga ikut memotong sumbangan buat UNESCO.

"UNESCO bias politik, memalukan, dan sebuah organisasi anti-Semit yang keputusannya membuat skandal. Saya berharap dengan bantuan kawan kami, Amerika Serikat, anggaran mereka akan dipotong," kata Lieberman.

Israel juga menolak menerbitkan visa buat anggota tim investigasi UNESCO bakal mengunjungi Kota Hebron Agustus mendatang. Tujuannya buat menentukan apakah situs warisan dunia itu terancam. Hasilnya bakal dilaporkan ke Majelis Monumen dan Situs Dunia (ICOMOS), yang bakal memberi saran ke UNESCO apakah sebuah situs dalam kondisi rentan atau tidak.

Palestina lebih dulu mengajukan daftar lokasi yang terancam oleh Israel, seperti Kota Tua Yerusalem dan Hebron. Mereka menyatakan warga Israel kerap mencoret-coret, merusak, dan melakukan hal-hal lain membahayakan keberlangsungan situs itu.

Hebron menjadi rebutan antara Israel dan Palestina sejak wilayah itu dicaplok negara zionis itu pada 1967. Salah satu situs penting berada di sana, Masjid Ibrahim atau Gua Ibrahim, menjadi lokasi disucikan bagi umat Islam dan kaum Yahudi.

Sejak itu, Israel selalu melakukan kekerasan terhadap umat Islam beribadah di sana. Contohnya pembantaian jemaah sedang salat pada 1994. Tentara Israel juga melarang warga muslim mengumandangkan azan dari masjid. Justru orang Yahudi menggunakan masjid itu buat tempat merayakan pesta pada hari raya Passover. Kini warga muslim juga dilarang melintas di sebagian jalanan di Hebron, utamanya Jalan Syuhada di mana dulu terjadi pertempuran antara pasukan Israel dan pejuang Palestina, dan hanya terbatas buat warga pemukim ilegal Yahudi.

Sedangkan pada pertemuan di Krakow, Polandia, sejak 2 hingga 12 Juli, UNESCO bakal memutuskan status Kota Tua Yerusalem. Mereka akan mempertimbangkan klausul menolak klaim Israel berdaulat atas Kota Tua Yerusalem, yang sebenarnya dicaplok pada 1980.

Sebagai sekongkol, Duta Besar Amerika Serikat buat PBB, Nikki Haley, juga menentang keputusan UNESCO. Dia berkomentar kalau keputusan itu tragis dan tidak sesuai sejarah. Dia juga beralasan kalau hal ini bakal menghambat perjanjian damai Palestina-Israel.

"AS akan menilai kembali keterlibatan dalam UNESCO dalam tingkat yang berbeda," kata Haley. (mrdk/mg)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...