26 August 2019

Kapal Kargo Korsel Disandera Bajak Laut, Selat Malaka Kembali Beriak

Konfrontasi - Perairan internasional Asia Tenggara kembali beriak. Kemarin, Senin (22/7/2019) sebuah kapal kargo dari Korea Selatan (Korsel) menjadi korban bajak laut setelah baru saja bertolak dari pelabuhan Singapura. Pembajakan itu mengingatkan dunia bahwa ancaman perompak di Selat Malaka dan sekitarnya belum hilang.

Kantor berita Yonhap merilis kabar tersebut dari informasi Kementerian Kelautan dan Perikanan Korsel. Kapal bernama CK Bluebell itu diserang pada pukul 04.25 waktu setempat. Saat itu kapal baru saja bertolak dari titik transit di Singapura.

"Kapal (CK Bluebell) berlayar dengan kecepatan wajar di bawah 15 knot. Perompak mengejar kapal tersebut dengan speedboat berkecepatan 20 knot ke atas." Begitu penjelasan salah seorang pejabat kementerian.

Dalam kapal itu, terdapat 22 kru kapal yang terdiri atas 4 warga Korsel dan 18 warga negara Indonesia. Namun, mereka mengangkut 68 ribu ton jagung Brasil tanpa personel bersenjata. Karena itu, mereka akhirnya menyerah setelah berusaha melawan.

Tujuh perompak bersenjata tersebut berhasil menjarah uang USD 13 ribu (Rp 181 juta) dan beberapa barang berharga milik anak buah kapal (ABK). Namun, tidak ada korban luka berat akibat pembajakan tersebut. Hanya kapten kapal dan perwira navigasi yang mengalami lebam karena melawan.

"Mereka men-duduki kapal selama sekitar 30 menit," ujar pejabat kementerian.

Saat ini kapal kargo itu melanjutkan perjalanan sesuai dengan jadwal. Namun, mereka sudah diminta mengamankan sidik jari pelaku oleh otoritas Singapura. CK Bluebell dijadwalkan tiba di Pelabuhan Incheon, Korsel, pada 30 Juli nanti.

Maritime and Port Authority (MPA) Singapura menjelaskan, lokasi kapal saat itu berada sekitar 161 kilometer arah timur laut Selat Malaka.

"Pembajakan itu tak terjadi di perairan kami, tetapi di perairan Laut Tiongkok Selatan dekat Pulau Anambas," jelas juru bicara MPA menurut Channel News Asia.

Perairan Asia Tenggara, terutama Selat Malaka, merupakan salah satu wilayah maritim terpenting bagi dunia. Layaknya Selat Hormuz, selat tersebut menjadi jalur utama kapal kargo dan tanker asal Timur Tengah dan Afrika menuju konsumen di Asia. Karena itu, kapal tersebut sering menjadi sasaran empuk perompak dari Malaysia, Indonesia, atau Filipina.

Beberapa tahun terakhir, otoritas dari negara sekitar memperketat penjagaan. Namun, masih banyak yang waswas dengan keadaan di perairan tersebut. Awal Juli, Tiongkok pun sempat menaikkan level siaga di perairan Asia Tenggara menjadi tiga. Padahal, saat kapal tanker di Selat Hormuz menjadi korban sabotase, Tiongkok hanya menaikkan level siaga menjadi dua. (jp/mg)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...