13 November 2018

Jerman Minta Rusia Hormati "Kesatuan Ukraina"

Konfrontasi - Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier, Senin (3/11), meminta Rusia menghormati "kesatuan Ukraina" sehubungan dengan pemilihan umum oleh pemberontak di Ukraina timur.

"Kami akan menilai Rusia dan Presiden (Vladimir) Putin terhadap laporan mereka bahwa kesatuan Ukraina tidak dapat dipertanyakan," kata Steinmeier dalam pesan Twitter.

Dia mengatakan pemilihan telah "berlangsung bertentangan dengan surat dan semangat Perjanjian Minsk" yang ditujukan untuk membawa perdamaian ke Ukraina timur.

Moskow mengesahkan kemenangan telak untuk kepemimpinan pemberontak Ukraina pro-Moskow setelah pemungutan suara pada Minggu yang Uni Eropa kecam sebagai "hambatan baru" bagi perdamaian.

Kanselir Jerman mengatakan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin bahwa Uni Eropa tidak akan mengakui pemungutan suara di bagian timur Ukraina yang rencananya akan digelar pada Ahad, demikian keterangan juru bicara pemerintah Berlin menurut laporan Reuters.

Merkel menyampaikan pernyataan tersebut dalam pembicaraan telepon bersama Putin, Presiden Prancis Francois Hollande dan pemimpin Ukraina Petro Poroshenko, kata juru bicara kanselir, Georg Streiter, Jumat.

"Merkel dan Hollande menegaskan bahwa hanya ada satu pemungutan suara yang sah dalam undang-undang di Ukraina," kata dia.

"Pemerintah Jerman tidak akan mengakui pemilihan umum yang tidak sah ini," kata Streiter.

Ukraina timur saat ini tengah dilanda konflik antara gerilyawan pro-Moskow dengan pasukan pemerintah dan telah menewaskan lebih dari 3.700 orang. Sebelumnya gencatan senjata tercapai pada September namun sejumlah insiden tembak-menembak tetap terjadi.

Pemilu pada Sabtu di Ukraina timur bertujuan untuk memilih presiden dan parlemen di wilayah merdeka.

Sementara pemerintah Ukraina sendiri berencana untuk menggelar pemilihan umum di wilayah tersebut pada Desember untuk memberi otonomi khusus dan menangkal tuntutan kemerdekaan.

Menteri Luar Negeri Ukraina Pavlo Kimlin mengecam "pemungutan suara palsu dan tidak sah untuk memilih presiden di wilayah Donets dan Luhansk serta parlemennya." "Rusia harus mendesak teroris tersebut untuk membatalkan pemilihan umum karena hanya akan memperparah konflik," kata Kimlin.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada Selasa mengatakan bahwa Moskow akan mengakui hasil pemilu. Namun pada Jumat, Kremlin tidak menyebut adanya pembicaraan mengenai pemungutan suara di Ukraina dalam pembicaraan telephon yang melibatkan empat pemimpin negara.

"Rusia menyuarakan pentingnya pembangunan dialog berkelanjutan antara pemerintah pusat Ukraina dengan perwakilan Donets dan Luhansk yang hingga kini berkontribusi besar bagi terciptanya stabilisasi keamanan," kata Kremlin dalam pernyataan tertulis.

Di Washington, juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih Bernadette Meehan mengatakan bahwa Amerika Serikat juga tidak akan mengakui apapun hasil pemilihan umum di Ukraina timur.(rol/ar)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...