23 April 2019

ISIS Diduga Gunakan Senjata Kimia Terhadap Pasukan Kurdi

KONFRONTASI-Kelompok Daulah Islam atau lebih dikenal dengan sebutan IS/ISIS menggunakan senjata kimia untuk membunuh pasukan suku Kurdi di Suriah dan Irak pada bulan lalu, kata sejumlah pakar pada Jumat.

Lembaga Conflict Armament Research (CAR) dan Sahar Research dalam pernyataan tertulis pada Jumat menyatakan bahwa IS menembakkan peluru berisi zat kimia dengan sasaran pasukan Kurdi "peshmerga" pada 21 hingga 22 Juni.

Dua lembaga itu juga mencatat dua serangan serupa terhadap pejuang Kurdi dari Satuan Perlindungan Rakyat (YPG) di Provinsi Hasakeh, Suriah, pada 28 Juni.

YPG menyatakan mendapat serangan tersebut di distrik Salhiya, Hasakeh, dan di kota selatan, Tel Brak.

"Saat mengenai target, proyektil itu mengeluarkan gas berwarna kuning dengan bau seperti bawang busuk," kata YPG dalam pernyataan tertulis pada Jumat.

Mereka menambahkan bahwa tanah yang terkena proyektil kemudian bernoda hijau namun berubah menjadi kuning saat terkena sinar matahari.

"Anggota kami yang menghirup gas itu menderita luka bakar di bagian tenggorokan, mata, dan hidung. Selain itu, mereka juga mengalami sakit kepala, otot, dan tidak bisa bergerak," tulis YPG.

YPG menambahkan bahwa insiden itu tidak menimbukan kematian karena para anggota yang menghirup gas kuning berhasil disembuhkan dari gejala-gejala di atas.

CAR dan Sahan Research, yang menggelar penelitian dengan koordinasi bersama pasukan Kurdi, menyatakan bahwa tujuh proyektil telah ditembakkan di kota Hasakeh dan 17 di dekat kota Tal Brak.

Dua lembaga itu menjelaskan bahwa contoh urine yang diambil dari korban serangan di Tal Brak telah terbukti positif mengandung zat-zat yang umum terdapat dalam pestisida pertanian.

Sementara itu, bahan kimia yang digunakan dalam serangan di Irak mempunyai karakteristik dan dapak klinis "yang sesuai dengan zat kimia klorin," kata CAR dan Sahan Research.

Mereka menambahkan bahwa tiga serangan di Suriah dan Irak tersebut merupakan "yang pertama tercatat digunakan oleh pasukan ISIS dengan menggunakan proyektil berisi bahan kimia terhadap pasukan Kurdi dan penduduk sipil." "Serangan ini nampak seperti uji coba. Kami memperkirakan bahwa kemampuan IS (untuk mengembangkan senjata kimia) akan terus berkembang dengan cepat karena mereka mempunyai peralatan eksplosif lain," kata kepala Sahan Research, Emmanuel Deisser.

IS pernah diduga menggunakan gas klorin terhadap pasukan Kurdi di Irak.

Pada Maret lalu, pemerintah otonom suku Kurdi di bagian utara Irak mengaku telah mempunyai bukti bahwa kelompok IS telah menggunakan zat klorin dalam serangan bom mobil pada 23 Januari.

Senjata kimia juga pernah beberapa kali digunakan dalam konflik di Suriah, meskipun oleh pihak yang berbeda. Insiden yang paling mematikan terjadi pada Agustus 2013 lalu, saat gas sarin menewaskan lebih dari 1.400 warga di kawasan sub-urban Damaskus.

Sejumlah pihak menuduh pemerintah Presiden Bashar al Assad sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Pihak pemerintah kemudian membantahnya meski di kemudian hari bersedia menyerahkan seluruh cadangan senjata kimianya.

Secara keseluruhan, konflik di Suriah telah menewaskan lebih dari 230.000 orang sejak dimulai pada Maret 2011 lalu.[mr/rol]

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...