24 October 2019

Imigran Afrika Terlantar di Perbatasan AS

KONFRONTASI-Perbatasan Meksiko-AS kini tidak hanya dikuasai imigran dari negara-negara Amerika Tengah. Ada wajah baru yang mencolok. Orang-orang kulit hitam dari negara-negara Afrika. Mereka mendirikan sebuah desa temporer di dekat pusat detensi Century XXI di Tapachula. Kian hari, jumlah imigran Afrika kian banyak.

Mereka yang sudah menyeberangi lautan dan daratan untuk sampai di Meksiko tak mau menjadi imigran ilegal dengan menyeberang sungai atau cara lain untuk masuk AS. Imigran asal Afrika itu lebih memilih untuk bersabar menanti proses suaka.

Mereka menjual makanan dan melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil lainnya untuk memenuhi kebutuhan. Kendala bahasa tak menghalangi mereka untuk bertahan. ''AS membantu Kongo. Mereka tahu Kongo sedang perang,'' ujar Moises Bumba, salah seorang imigran asal Kongo.

Dia tiba Maret lalu bersama istri dan putranya setelah menempuh perjalanan selama enam bulan lewat Brasil. Selama di Meksiko, mereka tidur di pinggir jalan. Mereka menunggu dokumen dari pemerintah Meksiko sebagai pelengkap untuk pengajuan suaka. ''Kami tak menginginkan yang lain,'' tambahnya.

Pemerintah Meksiko memang memberikan visa regional kepada sebagian imigran, baik dari negara-negara Amerika Tengah maupun Afrika. Dengan begitu, mereka bisa bekerja dan tinggal sementara di Meksiko.

Tapi, Kepala Otoritas Migrasi Meksiko Francisco Garduno menyatakan bahwa kebijakan itu akan segera dihentikan. Sebab, banyak imigran yang menyalahgunakannya untuk melakukan perjalanan ke perbatasan AS. ''Itu membuat kami dalam masalah. Jadi, tak mungkin untuk melanjutkan kebijakan tersebut,'' tegasnya. (mr/jpn)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...