28 February 2020

Hizbullah: Arab Saudi Meminta Israel Serang Libanon

Konfrontasi - Pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah menuduh Arab Saudi telah meminta Israel untuk meluncurkan serangan ke Libanon. Tuduhan terbaru ini semakin memanaskan ketegangan antara Riyadh dan Teheran sebagai sekutu utama Hizbullah.

”Hal yang paling berbahaya adalah menghasut Israel untuk menyerang Libanon,” kata Nasrallah dalam pidatonya hari Jumat yang disiarkan stasiun televisi di Beirut.

”Saya berbicara tentang informasi bahwa Arab Saudi telah meminta Israel untuk menyerang Libanon,” lanjut Nasrallah, seperti dikutip dari Times of Israel, Sabtu (11/11/2017).

Tapi, menurut Nasrallah, perang dengan Israel tidak mungkin terjadi. Dia mengatakan bahwa Hizbullah, wakil Iran yang berusaha untuk menghancurkan Israel, mengawasi dengan seksama upaya Israel untuk memanfaatkan krisis ini yang dimulai dengan pengunduran diri Perdana Menteri (PM) Libanon Saad al-Hariri pekan lalu.

Israel sendiri telah menekankan bahwa mereka tidak melakukan perang dengan Hizbullah di Libanon, namun telah berulang kali mencegah senjata-senjata yang dipasok Iran jatuh ke tangan faksi militer terkuat di Libanon tersebut.

Baca juga: Menteri Saudi: Libanon Nyatakan Perang Melawan Arab Saudi

Komentar Nasrallah ini muncul di tengah kegelisahan publik Timur Tengah menyusul eskalasi antara Arab Saudi dan kelompok-kelompok yang dianggap didukung Iran, termasuk Hizbullah dan Houthi Yaman. Nasrallah sebelumnya menuding Saudi sebagai penulis pidato pengunduran diri PM Hariri.

Israel dan Hizbullah pernah terlibat perang yang menghancurkan pada tahun 2006. Nasrallah memperingatkan Israel agar tidak “salah perhitungan” atau mengambil keuntungan dari krisis ini.

”Hari ini kita lebih percaya diri dan merasa lebih kuat dalam menghadapi ancaman apapun," kata Nasrallah. Dia juga menuduh Arab Saudi menahan Hariri.

”Kepala pemerintah Libanon ditahan di Arab Saudi, dia dilarang kembali ke Libanon sampai sekarang,” ujar Nasrallah dalam sebuah pidato tak lama setelah Hariri mengumumkan pengunduran dirinya.

Hariri, yang lahir di Arab Saudi, tidak mengatakan kapan dia akan kembali ke Libanon, di mana Presiden Michel Aoun belum secara resmi menerima pengunduran dirinya.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Jumat setelah bertemu dengan utusan Saudi untuk Libanon, Aoun bersikeras bahwa Hariri harus kembali ke negaranya.

”Presiden Aoun bertemu dengan pengusaha Arab Saudi Walid Bukhari dan memberitahukan kepadanya bahwa keadaan di mana pengunduran diri Hariri tidak dapat diterima,” bunyi pernyataan tersebut kantor Presiden Aoun. (sndo/mg)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...