26 May 2019

Hamas Siap Perang Jika Trump Akui Yerusalem Jadi Ibu Kota Israel

Konfrontasi - Organisasi perjuangan Palestina, Hamas, turut mengecam rencana Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, hendak menyatakan Kota Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel pada pekan depan, atau memindahkan kedutaan besar mereka ke kota itu. Bahkan mereka memperingatkan jika hal itu terjadi maka bakal terjadi perang.

Dalam pernyataan pers, Hamas mendesak supaya Trump mengurungkan niatnya. Menurut mereka, jika salah satu terjadi, maka dianggap pemerintah Amerika Serikat memicu perang dan memuluskan jalan bagi Israel menguasai Yerusalem, dan mengusir seluruh warga Palestina dari sana.

"Kami memperingatkan jangan main-main soal status Yerusalem, atau kami akan membangkitkan rakyat Palestina untuk intifada," tulis Hamas dalam pernyataannya, dilansir dari laman AFP, Minggu (3/12/2017).

Kecaman juga disampaikan oleh Penasihat Presiden Palestina, Mahmud Habash. Habash menyatakan, jika Trump tetap nekat ingin mengakui Kota Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, maka sama sama merusak perundingan damai dibangun selama ini.

"Dunia akan membayar harganya jika status Yerusalem berubah," kata Habash, dilansir dari laman Associated Press.

Sekretaris Jenderal Liga Arab, Ahmad Abul Ghait, juga tidak terima dengan rencana Trump itu. Dia mewanti kalau niat Trump terlaksana maka bisa dipastikan pertumpahan darah tak bakal bisa dihindarkan.

"Kalau nekat melakukan hal itu, maka sama saja tidak mendamaikan, tetapi memicu ekstremisme dan kekerasan. Rencana itu cuma menguntungkan Israel, dan membahayakan perdamaian," kata Abul Ghait, dilansir dari Reuters.

Israel sampai saat ini berkeras hendak mengklaim Yerusalem sebagai Ibu Kota, dan bukan Tel Aviv. Namun, dunia tidak mengakuinya kota suci bagi umat Islam, Nasrani, dan Yahudi itu. Mereka mendesak negara Zionis itu terlebih dulu menyelesaikan perundingan damai dengan Palestina.

Sedangkan Palestina juga berharap Yerusalem bakal menjadi Ibu Kota mereka di masa mendatang, jika perundingan damai tercapai dan diakui sebagai negara berdaulat secara hukum dan faktual.

Sejak 1995, Kongres Amerika Serikat sudah mengesahkan peraturan supaya memindahkan kedutaan besar mereka di Tel Aviv ke Yerusalem. Namun, setiap pergantian presiden AS mereka selalu menangguhkan pemindahan itu selama enam bulan dan terus diperpanjang.

Trump sudah sekali meneken perjanjian itu. Namun, dia juga kepalang berjanji kepada pendukungnya yang merupakan kalangan Yahudi-Amerika buat mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Kabarnya, tenggat buat persoalan itu adalah Senin pekan depan. Trump diminta bersikap sebelum Wakil Presiden Mike Pence melawat ke Yerusalem.

Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat dikabarkan juga sudah bersiap mengantisipasi reaksi berupa unjuk rasa atau hal lain, jika rencana Trump buat memindahkan kedutaan besar di Israel, atau mengakui Yerusalem sebagai ibu kota negara Zionis itu terwujud. Menurut mereka, satuan pengamanan (DSS) di masing-masing kedutaan besar atau konsulat jenderal AS di manapun mulai mengetatkan penjagaan.

"Memang tidak ada perintah untuk hal itu, tetapi menjadi perhatian kami. Jika timbul protes, maka kami akan mengambil keputusan jika situasi memanas," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri AS. (mrdk/mg)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...