24 November 2017

Dunia Tengah Menghadapi Bukan Hanya Ketakpastian, Tapi Juga Kekacauan, Sebut Din Syamsuddin

KONFRONTASI -  Utusan Khusus Presiden utk Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban Prof. Din Syamsuddin menjadi pembicara pada The 9th World Chinese Economic Summit (Pertemuan Puncak Ekonomi China) di Hongkong, 13/11. Pertemuan Puncak tsb merupakan agenda tahunan para Tionghoa diaspora dari seluruh dunia, dan telah berkangsung sejak 2008.

Pertemuan ke-9, yg berkangsung di Hongkong, 13-14 Nopember 2917,  dihadiri sekitar 350an tokoh Tionghoa diaspora, yg mayoritas terdiri dari para pengusaha. Pertemuan kali ini mengangkat tema "Managing Global Uncertainty, Exploring Opportunities" atau "Mengelola Ketakpastian Dunia, Mengungkap Peluang-peluang". Din Syamsuddin, yg diundang dalam kapasitas sebagai Utusan Khusus Presiden, mendapat giliran menjadi salah seorang panelis pada Sesi Pertama ttg Amerika Serikat, China, dan Optimisme Menghadapi ketakpastian dunia. Dalam presentasinya Din Syamsuddin mengatakan bhw memang dunia tengah menghadapi bukan hanya ketakpastian, tapi juga kekacauan, dan kerusakan akumulatif. Menurutnya, hal ini sebenarnya berpangkal pada Sistem Dunia (World System) yg rancu. Kerancuan itu, tandas Din Syamsuddin, menurunkan sub-sub sistem dalam bidang ekonomi, politik, dan budaya yg juga mengandung kerancuan. Hal inilah yg memunculkan "ketiadaan damai" (the absence of peace) dlm bentuk kemiskinan, kebodohan, kesenjangan, ketakdilan, kekerasan dlm berbagai bentuknya, hingga kerusakan lingkungan hidup.

Solusi thd kerusakan peradaban dunia tsb, menurut Din Syamsuddin, adalah dgn mengubah Sistem Dunia itu sendiri. Selama ini Sistem Dunia terlalu berwajah antroposentristik (menjadikan manusia sbg pusat kesadaran), dan kurang berwajah teosentristik (Tuhan sbg pusat kesadaran). Akibatnya, peradaban dunia kering-kerontang dari nilai-nilai etika dan moral. Dalam bidang ekonomi terjadi yg kaya semakin kaya dan yg miskin semakin miskin yg kemudian menciptakan kesenjangan serta ketakadilan. Dalam bidang politik terjadi proses zero sum game, yakni kecenderungan saling menafikan dan mendominasi yg sering menimbulkan konflik. Begitu pula dalam bidang budaya merajalela budaya liberal dan hedonis.

Ketika ditanya moderator, negara mana yg tepat dan selama dua dasawarsa terakhir menerapkan kekuatan lembut (soft power) dlm menanggulangi kerusakan peradaban dunia itu, Din secara spontan menyebut Indonesia, yg langsung disambut tawa dan tepuk tangan sebagian peserta yg memenuhi ballroom Shangrila Hotel, Hongkong. Dalam jawabannya, Din Syamsuddin yg adalah Guru Besar Politik Islam Global Fascasarjana UIN Jakarta ini menjelaskan bhw utk menanggulangi kerusakan dunia yg bersifat akumulatif, diperlukan peran negara atau koalisi negara-negara dgn posisi tengahan (median position). Indonesia, dalam hal ini, merupakan negara dgn posisi tengahan dan orientasi jalan tengah (the middle way). Negara-negara dgn watak dan corak seperti ini akan dapat tampil sbg problem solver atau penyelesai masalah2 dunia.

Dalam kaitan kebangkitan China dewasa ini, Din Syamsuddin menegaskan bhw kebangkitan itu harus diselenggarakan dalam suatu wawasan kawasan Asia Timur dan lewat mekanisme internasional. Jika tidak demikian, yakni China tampil agresif apalagi penetratif thd negara-negara lain,  tandas Din, kebangkitan China dgn ambisi One Belt One Road (OBOR) akan potensial menimbulkan ketegangan dunia, krn China hanya melanjutkan perilaku Amerika Serikat yg hegemonik selama ini.

Maka oleh karena itu, Din Syamsuddin menyerukan agar dikembangkan  budaya hubungan internasional yg  berlangsung atas semangat dialog dan kerjasama yg saling menguntungkan, dan berorientasi pada kesadaran mondial akan Satu Kemanusiaan, Satu Tujuan, dan Satu Tanggung Jawab (One Humanity, One Destiny, One Responsibility). Trims.(KONF/MENARA62.COM)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...