21 November 2017

Demonstran Hongkong Bentrok dengan Polisi

 Konfrontasi - Ribuan pegiat pro-demokrasi menutup paksa kantor pemerintahan Hongkong, Senin (1/12), setelah mereka bentrok dengan polisi di luar kompleks, menentang perintah mundur setelah lebih dari dua bulan unjuk rasa.

Bentrokan pecah saat pelaju berangkat kerja, dengan ratusan pengunjuk rasa mengepung Admiralty Centre, tempat perkantoran dan pertokoan, dan berhadapan dengan polisi.

Kantor pemerintahan dan parlemen serta sejumlah toko dipaksa tutup sejak pagi.

Bentrokan tersebut, dimana polisi menggunakan semprotan lada dan pentungan, menjadi penanda meningkatnya gerakan pembangkangan sipil.

Bentrokan tersebut juga menunjukkan keputusasaan pengunjuk rasa terkait penolakan Beijing untuk mengalah soal reformasi pemilu dan memberikan demokrasi lebih luas bagi bekas koloni Inggris itu.

"Atmosfir di Admiralty sangat berbeda sekarang setelah bentrokan malam tadi," kata Jessica Lam (20) yang kembali ke lokasi unjuk rasa pada Senin pagi, "Situasinya menjadi sangat tegang, seperti hari-hari awal saat protes dimulai." Gerakan demokrasi tersebut mewakili salah satu ancaman terbesar bagi kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok sejak insiden berdarah 1989 dalam unjuk rasa pro-demokrasi mahasiswa di dalam dan sekitar Lapangan Tiananmen.

Ratusan polisi anti huru-hara memecah massa dalam beberapa kali bentrokan semalam, memaksa pendemo mundur dengan semprotan lada dan pentungan saat beberapa diantara mereka mencoba memanjat dinding dari jalan raya di luar gedung pemerintahan.

Sejumlah sukarelawan medis membantu para mahasiswa yang cidera, ada yang pingsan maupun luka di kepala.

Polisi menyatakan menahan sekitar 40 orang.

Kepala Eksekutif Hongkong Leung Chun-ying mengatakan polisi sudah sangat toleran namun sekarang ini akan mengambil "tindakan tegas".

"Beberapa pihak menyalahartikan toleransi polisi itu sebagai kelemahan," katanya.

"Saya imbau para mahasiswa yang berencana kembali ke lokasi pendudukan malam ini untuk tidak melakukannya," kata Leung yang tidak merespon pertanyaan apakah polisi akan membersihkan lokasi tersebut Senin malam.

Sementara polisi menghadapi situasi di Admiralty, ketegangan juga meningkat di pelabuhan di distrik Mongkok, yang menyaksikan beberapa kali bentrokan dalam beberapa pekan terakhir sebelum pembersihan lokasi pendudukan di jalanan utama pada Rabu.

Kerusuhan mulai terjadi saat legislator Inggris mengatakan mereka diberitahu Kedutaan Besar Tiongkok bahwa mereka tidak diizinkan memasuki Hongkong sebagai bagian dari penyelidikan atas hubungan Inggris dengan bekas koloninya serta kemajuan menuju demokrasi.

Pengunjuk rasa menuntut pemiliha umum bebas untuk menentukan pemimpin masa depan mereka pada 2017, bukan hanya melibatkan kandidat yang sudah disetujui oleh Beijing sebelumnya.

Bentrokan tersebut terjadi setelah pemimpin mahassiwa meminta para pegiat untuk meningkatkan aksi protes dan mengepung kantor-kantor pusat pemerintahan, mendorong para pendemo bergerak menuju Admiralty, bersebelahan dengan pusat bisnis Hongkong dan beberapa pemukiman mewah termahal dunia.

Perwakilan mahasiswa Nathan Law mendesak para pengunjuk rasa untuk melanjutkan gerakan pembangkangan yang dimulai pada September tersebut, dan menyebutnya sebagai "perjalanan panjang".

Meski beberapa kali dibubarkan, para pengunjuk rasa yang mengenakan kacamata dan pelindung badan, menolak meninggalkan kawasan protes dan terus menekan garis polisi seraya meneriakkan "Kami ingin hak pilih universal!". Mereka melemparkan botol, helm, dan payung ke arah polisi saat ketegangan semakin meningkat.

Sejumlah pendemo memegang payung yang menjadi simbol gerakan pro-demokrasi, untuk melindungi diri dari semprotan lada dan pentungan.

Bentrokan terbaru itu mempertegas tantangan yang dihadapi pihak berwenang karena generasi muda melawan cengkeraman Beijing atas pusat keuangan tersebut dan menuntut demokrasi yang lebih luas.

Unjuk rasa Hongkong menarik perhatian lebih dari 100 ribu pendukung saat puncak aksi jalanan mereka. Jumlah tersebut semakin berkurang dan dukungan publik terhadap gerakan itu juga semakin memudar. (akl/ar)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...