27 May 2018

Dari Balik Penjara, Anwar Ibrahim Arahkan Pengikutnya Pilih Mahathir

KONFRONTASI-Pemimpin oposisi yang tengah menjalani hukuman penjara, Anwar Ibrahim mendorong pemilih Malaysia untuk memilih Mahathir Mohamad yang tidak lain adalah mantan perdana menteri yang juga bekas musuh politiknya.

Pernyataan itu disampaikan kurang dari 24 jam sebelum pemilihan umum dimulai di negara tersebut.

Perdana Menteri Najib Razak beserta koalisi Barisan Nasional (BN) yang telah menguasai Malaysia selama lebih dari enam dekade dihadapkan dengan duet Anwar dan Mahathir. Keduanya menyatukan suara untuk mengakhiri kekuasaan pemimpin negara terjerat skandal itu.

Koalisi pendukung Najib dihadapkan risiko yang jauh lebih besar ketimbang pemilu sebelumnya. Sejumlah analis memperingatkan performa buruk bisa memicu revolusi internal melawan lelaki berusia 64 tahun tersebut.

"Saya mendorong Anda sekalian untuk bergabung dengan gerakan masyarakat untuk menuntut perubahan," kata Anwar dalam pernyataan yang dikutip Reuters, Selasa (8/5). Meski masih menjalani masa hukuman penjara, Anwar selama bulan ini dirawat di rumah sakit. Dia mendekam di balik jeruji pada 2015 karena dinyatakan terbukti bersalah melakukan sodomi, sementara para pendukungnya menyebut kasus itu berlatar belakang politik.

Anwar pertama kali dipenjara setelah Mahathir memecatnya dari jabatan wakil perdana menteri pada 1998 silam. Dia kemudian memulai gerakan reformasi dengan tujuan untuk mengakhiri pemerintahan berbasis ras dan patronase BN.

Namun, langkah Anwar dijegal kasus sodomi dan penjara yang selama ini terus ia bantah meski sudah mendekam di penjara. Kedua pemimpin meninggalkan perselisihannya pada 2016 dan sepakat menggabungkan barisan untuk melengserkan Najib.
Anwar yang bakal dibebaskan pada 8 Juni ini menyatakan kemitraannya dengan Mahathir merupakan "kekhawatiran terbesar" partai penguasa.

"Mahathir telah membuktikan kegigihannya, menerima batasan-batasan di masa lalu, meminta maaf dan mengorbankan waktu dan energinya untuk membangkitkan martabat bangsa dan negara," kata Anwar.[mr/bns]

Category: 
Loading...