20 September 2019

AS dan Iran Nyatakan Kesepakatan Nuklir Belum Capai Tahap Akhir

Konfrontasi - Amerika Serikat (AS) dan Iran menyatakan belum mencapai kesepakatan akhir terkait program nuklir di negeri Persia itu dan harus "menyepakati beberapa soal rumit", walaupun menganggap pembicaraan tersebut mengalami kemajuan, kata pejabat pemerintah AS, Senin (23/2).

"Iran dan AS membuat beberapa kemajuan terkait perundingan nuklir, namun perjalanan masih panjang. Kami harus menyepakati beberapa masalah rumit sebelum menghasilkan resolusi," kata pejabat tinggi AS kepada wartawan.

Hal sama disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, yang menyatakan pembicaraan tentang nuklir masih jauh dari selesai.

"Kami sungguh-sungguh berunding dengan perwakilan P5+1, khususnya dengan AS dalam tiga hari belakangan. Namun, pertemuan itu masih jauh dari keputusan akhir," kata Zarif kepada kantor berita Iran Fars.

Menteri Luar Negeri AS John Kerry dan Zarif menghelat pertemuan selama dua hari di Geneva, membicarakan program nuklir Iran.

Dialog ini juga dihadiri Menteri Energi AS Ernest Moniz, Kepala Nuklir Iran Ali Akbar Salehi dan Direktur Politik Luar Negeri Uni Eropa Helga Schmid.

Pejabat AS mengatakan para perunding dari Iran dan negara P5+1 (AS, Rusia, Tiongkok, Inggris, Prancis dan Jerman) sepakat untuk melanjutkan dialog nuklir pada Senin (2/3) di tempat yang belum ditentukan, kata pejabat AS.

Negara-negara P5+1 khawatir negeri Persia mengembangkan teknologi senjata nuklir, tudingan yang selalu ditolak oleh Iran.

Para perunding berharap hingga kesepakatan politik awal dapat dicapai pada tenggat waktu 31 Maret. Namun pejabat pemerintah AS mengatakan "tidak akan terburu-buru dalam menghasilkan kesepakatan yang tidak sesuai dengan petunjuk presiden".

Menurut pejabat AS, tujuan dari dialog adalah untuk memastikan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir. "Ini bukan tentang tenggat waktu, ini tentang apa yang ingin dicapai," tambah pejabat AS tersebut.

Iran sendiri menolak semua tudingan bahwa negaranya mengembangkan senjata nuklir dan berharap kesepakatan yang nantinya akan dicapai bisa meringankan sanksi internasional.

Sementara itu, para diplomat mengatakan keenam negara P5+1 menginginkan kesepakatan nuklir yang akan dicapai untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir akan berlangsung selama 10 tahun.

Namun Iran sendiri bisa memproduksi uranium yang diperkaya untuk satu bom nuklir dalam satu tahun.

"Dan akan ada jeda selama setahun untuk memulai kesepakatan tersebut," kata pejabat senior AS, Senin.

Pendekatan AS tersebut membuat negari Paman Sam dikritik oleh Israel dan menyebut perundingan tersebut "berbahaya" dan "mengherankan".

Saat menanggapi hal tersebut, AS menuding Israel memutarbalikkan posisi Washington terhadap Iran.

"Kesepakatan yang sedang berlangsung berbahaya untuk perdamaian negara-negara Barat dan ancaman terhadap keamanan Israel," kata Menteri Pertahanan Israel Moshe Ya'alon.

Ya'alon mengatakan kesepakatan akhir akan membebaskan sanksi ekonomi atas Iran yang bisa melanjutkan program pengayaan uranium. Dia juga menyatakan Iran merupakan "rezim paing berbahaya" dan faktor utama ketidakstabilan di Timur Tengah.

Israel, satu-satunya negara di Timur Tengah memiliki gudang senjata nuklir, mengancam akan menyerang Iran jika Tehran terbukti menyalahgunakan program nuklirnya.(akl/ar)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...
Jumat, 20 Sep 2019 - 14:14
Jumat, 20 Sep 2019 - 10:38
Jumat, 20 Sep 2019 - 10:26
Jumat, 20 Sep 2019 - 10:10
Jumat, 20 Sep 2019 - 10:05
Jumat, 20 Sep 2019 - 10:02
Jumat, 20 Sep 2019 - 09:58
Jumat, 20 Sep 2019 - 09:50
Jumat, 20 Sep 2019 - 09:49
Jumat, 20 Sep 2019 - 09:45
Jumat, 20 Sep 2019 - 09:45
Jumat, 20 Sep 2019 - 09:12