24 July 2019

China Penjarakan Empat Aktivis Pro Demokrasi Hong Kong

KONFRONTASI-Pengadilan China memvonis empat aktivis Hong Kong dengan hukuman 16 bulan penjara atas peran mereka dalam demonstrasi prodemokrasi yang dikenal dengan “Gerakan Payung” (Umbrella Movement).

Keempat aktivis tersebut merupakan bagian dari sembilan aktivis yang dinyatakan bersalah awal bulan ini atas keterlibatan mereka dalam Gerakan Payung. Empat aktivis lainnya menerima hukuman percobaan pada Rabu, sementara hukuman bagi seorang lainnya ditunda hingga Juni.

Demonstran dalam unjuk rasa massal tersebut melumpuhkan Hong Kong pada 2014 ketika mereka menuntut hak wilayah untuk memilih pemimpinnya sendiri.

Diwartakan BBC, Rabu (24/4/2019), Hakim Johnny Chan menjatuhkan hukuman di Pengadilan Hakim Kowloon Barat pada Rabu pagi, mengutip "ketidaknyamanan dan penderitaan yang berlebihan" yang disebabkan oleh gerakan itu sebagai dasar dijatuhkannya hukuman.

Dua aktivis, Profesor Sosiologi Chan Kin-man, 60 tahun dan Profesor Hukum Benny Tai, 54 tahun yang membantu mendirikan kelompok Occupy Central menerima hukuman penjara 16 bulan. Pensiunan Pendeta Baptis berusia 75 tahun Chu Yiu-ming, anggota ketiga dari apa yang disebut sebagai "trio Pendudukan", juga menerima hukuman 16 bulan, tetapi hukuman itu ditangguhkan selama dua tahun.

Ketiganya dipandang sebagai pendiri gerakan yang menguatkan para pengunjuk rasa dalam kampanye pembangkangan sipil mereka terhadap pemerintah China.

Dari enam terpidana yang tersisa awal bulan ini, Raphael Wong dan Shiu Ka-chun menerima hukuman penjara delapan bulan, Eason Chun dan Lee Wing-tat menerima hukuman percobaan delapan bulan, sementara Tommy Cheung diberi 200 jam pelayanan masyarakat.

Tanya Chan mendapat penundaan hukumannya hingga Juni dan jaminannya diperpanjang sehingga dia bisa menjalani operasi otak.

Gerakan Occupy Central bermula sebagai reaksi atas keputusan China untuk mengizinkan pemilihan langsung pada 2017 hanya dengan kandidat yang telah disetujui oleh Beijing.

Pada 2014, ketiga aktivis menyerukan pembangkangan sipil tanpa kekerasan bergabung dengan protes yang dipimpin mahasiswa dan mengepung demonstrasi besar-besaran. Puluhan ribu orang berkemah di jalan-jalan dan menuntut hak untuk pemilihan kepemimpinan yang sepenuhnya bebas.

Demonstrasi tersebut kemudian dikenal dengan nama Gerakan Payung yang diambil dari payung yang digunakan para pengunjuk rasa untuk melindungi diri mereka dari semprotan merica yang ditembakkan polisi untuk membubarkan massa.

Setelah berlangsung selama beberapa pekan, jumlah pengunjuk rasa mulai berkurang dan pada akhirnya gagal mencapai tujuan mereka untuk menekan pemerintah China.[mr/okz]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...