24 November 2017

AS Bicara Batu Bara di Konferensi Perubahan Iklim Diprotes, 100 Aktivis Walk Out

KONFRONTASI -  Upaya pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengangkat keutamaan batu bara dalam konferensi iklim global ditanggapi dengan kritik beberapa panelis serta sejumlah pemrotes yang meninggalkan ruangan konferensi.

Dilansir Bloomberg, lebih dari 100 aktivis menyela diskusi panel dalam konferensi negara-negara anggota Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFCCC) yang berlangsung di Bonn, Jerman, pada Senin (13/11) waktu setempat.

Mereka menyanyikan lagu anti-batu bara dengan nada lagu 'God Bless the USA' sebelum beramai-ramai meninggalkan ruangan tersebut.

Protes itu dilancarkan beberapa saat setelah penasihat iklim dari Gedung Putih George David Banks terdengar mengagung-agungkan keutamaan pembangkit listrik bertenaga batu bara demi memastikan akses dunia terhadap listrik.

Pada saat yang sama, beberapa panelis mengkritik keputusan pemerintah AS untuk keluar dari kesepakatan iklim Paris. Keputusan Presiden Donald Trump untuk menarik AS dari kesepakatan tersebut telah pun membayangi agenda diskusi perubahan iklim tahunan PBB tersebut.

Akhir pekan lalu, sekumpulan pejabat eksekutif, gubernur, walikota, dan aktivis mendiskusikan cara memenuhi tujuan iklim AS tanpa dukungan federal, sedangkan sejumlah pemrotes menentang kebijakan lingkungan pemerintah.

“Rasanya seperti berargumentasi dengan orang yang mengklaim bahwa dunia itu flat,” ujar Jean Su, asssociate conservation director di Tucson, salah satu dari pemrotes yang keluar meninggalkan ruangan konferensi tersebut.

Beberapa panelis kembali menyoroti keputusan yang diambil Trump dan mengatakan bahwa AS harus tetap menjadi bagian dari kesepakatan Paris.

Beberapa panelis lainnya juga mengkritik pemrotes yang menolak berargumentasi tentang kebutuhan atas bahan bakar fosil yang lebih bersih.

“Kita hanya akan dapat bergerak maju jika kita benar-benar menjalani diskusi semacam ini dan mendengarkan satu sama lain,” ujar Amos Hochstein, yang pernah berperan sebagai utusan khusus untuk Presiden Barack Obama.

Meski demikian, tidak semua panelis menginginkan AS untuk tetap menjadi bagian dari kesepakatan Paris.

Barry Worthington, executive director US Energy Association serta kepala Clean Electricity Production, menyatakan bahwa proyek bahan bakar fosil berdampak pada perusahaan-perusahaan finansial, dan oleh karenanya mendukung keputusan Trump.

Sementara itu Banks, berargumen untuk bertahan pada keputusan Presiden Trump yang ditetapkan awal tahun ini dan menolak mengungkapkan pandangan pribadinya.

“Kami percaya ada cara rasional yang tidak memaksa negara-negara untuk memilih antara mitigasi, pengembangan, dan keamanan energi,” tutur Banks, seperti dikutip dari Boomberg, Selasa (14/11/2017).(Jft/Bisnis)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...