21 November 2017

Santapan Kambing Ini Diolah Ibu Desa Mendira Jadi Menu Bernutrisi

KONFRONTASI-Sebagian orang menganggapnya sebagai hama, makanan kambing, atau makanan orang miskin. Tapi di tangan ibu-ibu di Dusun Mendira, tanaman liar dibudidayakan dan diolah menjadi menu-menu bernutrisi di meja makan.

Dusun Mendira dikenal sebagai salah satu dusun paling miskin di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Letaknya yang berada di atas bukit, dengan jalan menanjak yang rusak, rumah-rumah kayu, serta pekerjaan warga yang tak menentu di kebun, membuat orang-orang di luar dusun kerap mencibir.

“Dulu itu kita itu dikata-katain, itu loh anak gunung,” kata Anti Suparni, 44, ibu dua anak yang tinggal di Desa Mendira.

“Karena ini dulu dipelosok sekali, hutan lebat semua, hewan-hewan pun masih suka ke desa, makanya dibilang dusun miskin. Kita semua cari makan di hutan.”

Sebutan-sebutan itu masih melekat di Dusun Mendira ketika Hayu Dyah Patria, 35, seorang peneliti tanaman liar, berkunjung ke sana tiga tahun silam.

Tapi bagi Hayu apa yang dilihatnya di dusun itu jauh dari kesan miskin.

Mereka punya air segar tak terbatas yang mengalir dari gunung, tanahnya gembur, dan tanaman-tanaman liar tumbuh sendirinya lebat di kebun. Di hutan, yang letaknya begitu dekat dari rumah, segala keanekaragaman hayati menunggu untuk dimanfaatkan.

“Saya justru tidak melihat kemiskinan sama sekali. Jika kemudian definisi miskin adalah berarti rumah tidak beralas semen atau keramik, menurut saya itu bukan esensinya. Ini adalah daerah yang sangat kaya,” katanya.

Dari kunjungan itu, Hayu mulai mengenal ibu-ibu, yang dengan semangat luar biasa, ingin memajukan tempat tinggalnya. Lantas, dimulailah kegiatan berkebun dengan memanfaatkan tanaman-tanaman liar, yang biasa mereka sepelekan.

“Saya tanya ke ibu-ibu: sebutkan apapun tanaman yang bisa dimakan. Dari situ kemudian, ibu-ibu ini langsung menyebut, 'oh ada Sintrong, Pegagan, Bayam Banci, Suwek, Gadung…'”

"Dan itu jumlahnya bisa 100 jenis tanaman, disebut dalam waktu satu jam. Mereka seakan mengeluarkan semua isi di kepala. Saya tulis semua dan saya tempelkan di dinding dan dari situ, ibu-ibu bisa melihat ternyata banyak sekali yang bisa dikembangkan, tidak hanya alpukat atau durian."

"Mereka mulai sedikit berubah cara berpikirnya, 'kita bukan orang miskin sebetulnya'.”

Berkebun dan meneliti nutrisi

Delapan ibu-ibu di Dusun Mendira lalu menanami 40 jenis tanaman pangan liar di kebun seluas 3.000 meter persegi setahap demi setahap. Hasilnya, dibagi-bagi untuk dapur mereka sendiri dan sisanya dijual di pasar organik di Surabaya satu bulan sekali.

Mereka tak peduli ketika orang sesama dusun mencibir atau memandang dengan geli. Banyak orang berpikir, ibu-ibu ini harusnya menanam cokelat, cengkeh, kemiri, atau durian yang bisa dijual di pasar, bukan tanaman-tanaman yang biasa dibuang itu.

"Buat apa itu? Buat makan kambing sama sapi? Kok ditanam?" kata Iin Suparni, 42, menirukan perkataan tetangga-tetangganya.

Tapi apa yang tidak diketahui oleh warga dusun lain adalah fakta bahwa tanaman sepele itu punya nutrisi yang tidak kalah dengan kangkung, wortel, atau tomat yang sering dijual di pasar.

Krokot misalnya, yang tumbuh liar dan biasa untuk makan ayam atau jangkrik, ternyata kaya dengan vitamin C dan A, kata Hayu. "Terutama asam lemak omega 3 yang bagus untuk jantung. Ini bagus juga untuk anak-anak yang punya keterbelakangan mental."

Di kota besar macam Jakarta, krokot juga banyak ditemukan di sela-sela trotoar yang diinjak-injak pejalan kaki.

Kandungan nutrisi inilah yang teliti oleh Hayu melalui organisasi nirlaba yang didirikannya Mantasa. Hasil riset kemurian selalu didiskusikan bersama ibu-ibu Dusun Mendira.

"Ini Jelatang Bu, kalau di sini namanya Lateng ya? kata Hayu kepada Saini saat mereka bertemu untuk berkegiatan di kebun.

"Kalau di sini dibuang aja, ini gak dimakan sama sekali," ujar Saini menanggapi. Bulu-bulu di bagian batang membuat kulit gatal jika tersentuh, katanya.

"Ini bernutrisi, terutama kalsiumnya, ada vitamin A juga. Satu genggam setara dengan satu wortel besar. Ada vitamin C dan vitamin D juga," ujar Hayu.

"Kalau sudah tahu, ya mungkin bisa dikonsumsi!" kata Saini dengan semangat.

Setiap kami mengajukan data penelitian, mereka selalu bilang ini tidak memiliki nilai ekonomi

Minim dana riset

Hingga saat ini, Mantasa telah mencatat lebih dari 400 jenis tanaman yang bisa dimakan, tetapi tidak semuanya dimanfaatkan karena sudah jarang ditemukan.

Sedangkan yang sudah diteliti kandungan nutrisinya ada sekitar 10 jenis makanan, seperti sintrong, rukem, dan sembukan - beberapa di antaranya masih dikonsumsi tetapi sudah mulai ditinggalkan.

Jumlah ini, diakui oleh Hayu, masih minim. Padahal, riset seperti ini sangat berguna untuk menggali potensi tanaman-tanaman tersebut.

"Sayangnya, semangat ibu-ibu di dusun tidak dibarengi dengan data ilmiah yang memadai, setiap kami mengajukan data penelitian, mereka selalu bilang ini tidak memiliki nilai ekonomi seperti produk hortikultura lain," kata Hayu Dyah.

Beberapa proposal penelitan yang diajukan pada para donor biasanya ditanggapi dingin dengan kalimat seadanya, "Nanti saja dulu."

Khas ibu-ibu

Sangat mengasyikan bertemu delapan ibu-ibu dusun dan mengamati kegiatan mereka. Di kebun, mereka gemar bercanda, menertawai diri sendiri, dan menggoda kawannya - yang ternyata baru menjadi pengantin baru.

Begitu sang suami - yang pulang dari hutan - melintas mengendarai motor dengan setumpuk ilalang makanan sapi di belakangnya, Saini, Anti, juga Tri sibuk menggoda Mistin yang tak berdaya merespons godaan itu, dan akhirnya hanya tersipu malu.

"Mereka lucu, hahaha," kata Hayu mengomentari pengalamannya bekerja dengan ibu-ibu dusun.

"Ngobrolnya itu gak karu-karuan ke mana-mana, tetapi pasti kembali lagi ke topik awal. Kalau rapat di kota (itu) kesannya tidak efektif banget. Tapi kalau dengan ibu-ibu ini, enggak membosankan buat saya."

"Pertemuan 15 menit bisa dua jam karena itu. Tapi saya belajar tidak terlalu kaku, saya belajar untuk berkompromi dengan cara-cara komunikasi mereka. Itu sih kenapa tidak pernah bosan," ujar peneliti kelahiran Gresik itu.

Variasi di meja makan

Upaya yang dilakukan delapan ibu dusun Mendira saat ini memang belum menghasilkan uang, tetapi perubahan sudah terjadi di meja makan.

Anti mengaku mulai mengerti kandungan nutrisi dari apa yang dia masak di dapur. "Semakin semangat untuk nanam, ngolah, makannya juga. Anak-anak juga diajari ini kandungan gizinya lebih banyak dibanding jajan-jajanan."

"Kita ingin nanti anak-anak kita juga meneruskan dan mengembangkan tanaman-tanaman yang tadinya liar, karena banyak manfaatnya. Kenapa kita susah-susah beli, kenapa enggak memanfaatkan yang ada, di hutan sudah disediakan," sambung Anti.

Bagi Hayu, harapannya untuk desa ini hanya satu.

"Saya berhadap ibu-ibunya bisa mandiri, bisa mengelola dusun ini, menjaga alam mereka, karena ibu-ibu inilah yang menjadi tulang punggung kedaulatan pangan sebuah bangsa," katanya.(Juft/BBC)

Tags: 
Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...