10 December 2018

Kulit Pisang Ternyata Bisa Bantu Atasi Depresi

KONFRONTASI-Kulit pisang yang selama kini oleh sebagian orang dianggap limbah pangan, ternyata memiliki kandungan serat tinggi dan berefek meningkatkan kadar serotonin sehingga berpotensi sebagai agen anti-depresan, menurut sebuah studi. 

Dalam studi itu para peneliti dari Universitas Gadjah Mada menguji efek pemberian kulit pisang kepok kuning asal Sleman pada tikus objek percobaan selama beberapa waktu. 

"Kami lakukan analisis proximat pada kulit pisang kepok kuning di tahun-tahun pertama. Lalu kami temukan serotonin atau ramuan bahagia atau anti stres dan depresan," kata salah satu peneliti, Andreanyta Meliala dalam acara Awarding Nutrifood Research Grant (NRC) 2018 di Jakarta, Kamis. 

"Kami ambil serotnoninnya dan diikat pada tikus. Ternyata, antara serotonin dari kulit pisang dan dari bahan kimia, memiliki dampak yang sama," sambung dia yang juga berprofesi sebagai dokter umum itu. 

Selanjutnya, tim peneliti meningkatkan kadar gula darah pada tikus dan memberi mereka flake kulit pisang. Mereka lalu mengukur kadar stres melalui mobility time tikus saat mencoba melepaskan diri dari ikatan. 

"Hasilnya, tikus dengan kulit pisang sudah sanggup untuk menunjukkan perbedaan bermakna dengan yang tidak, memiliki mobility time signifikan ketimbang yang tidak diberikan," papar Andreanyta. 

Pada manusia, mereka yang memiliki kadar gula darah tinggi rentan mengalami stres dan orang yang stres kadar gula darahnya semakin tinggi. 

Temuan studi ini diharapkan bisa menjadi cara membantu orang-orang mengendalikan kadar stres dan dengan begitu kadar gula darah juga lebih mereka kendalikan. 

Selain itu, Andreanyta dan tim berharap ada tindak lanjut dari pihak industri untuk memproduksi makanan menggunakan kulit pisang sebagai bahan utamanya, misalnya dalam bentuk biskuit dan sereal. 

"Flake kulit pisang bisa jadi biskuit, sereal. Giliran industri melihat minat pasar," tutur dia. (mr/tar)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...