25 March 2019

Ini Sop Buntut Depot Sari, Tidak Amis dan Bebas Lemak

KONFRONTASI - Tempat kuliner ini sudah hadir cukup lama di kawasan Surabaya Utara. Bahkan, sangat populer.

Setidaknya, terlihat dari foto-foto yang terpampang di dinding. Ada pejabat, artis lokal, dan tentunya, selebritis ibukota.

Sederhana sekali namanya. Hanya satu kata : Sari. Konsepnya depot, yang mencitrakan sebuah warung kecil sederhana. Tidak lebih besar dari sebuah resto seperti yang ada sekarang ini.

Depot Sari berada di pojok antara Jl Karet dengan Jl Kembang Jepun, Surabaya.

Bagi yang kurang tahu arah jalan, atau bukan pelanggan, cukup sulit untuk menemukannya.

Normalnya, memang, orang cenderung lebih memperhatikan mencari jalur di sisi kiri dan naik ke Jembatan Merah menuju Jl Veteran atau belok kanan masuk Jl Kembang Jepun.

Membaca menu yang cukup beragam membuat waktu memilih lebih panjang, dengan harga Rp 36.000 hingga Rp 45.000 per porsi.

Hampir bersaing dengan harga menu di restoran hotel bintang atau di mal menengah ke atas.

Ada rawon, sop buntut, sop ayam, sop sum-sum, buntut goreng, rawon merah, rawon buntut, bakmoy udang.

"Coba menu sop buntut atau rawon merah saya. Ditanggung tidak kecewa," kata pria yang memperkenalkan diri sebagai Hanny Hartono, pemilik Depot Sari.

Akhirnya, Surya memilih rawon merah, yang menurut si empunya depot, berasal dari ramuan lombok merah besar (tidak pedas) berpadu dengan lombok merah kecil.

Rawon merah tidak menggunakan kluwak, tidak pakai bubuk bumbu instan, dan MSG.

Rawon merah berisi daging tebal, lebih dari 10 potong. Bumbu merah kental dan terasa gurih. Pedasnya pas. Kalau kurang, boleh tambah sambal gratis.

Begitu pula menu sop buntut goreng. Tidak amis, tidak lengket lemak.

Kuah beningnya segar, gurih, dan saat disantap, meski dingin, tidak ada lemak yang menempel di piring, sendok, atau di sekitar kuah.

Resep Warisan

Hanny Hartono memilih bahan-bahan asli sebagai bumbu, mulai bawang merah, bawang putih, ketumbar, merica.

Semua bumbu dibeli utuh, dan diolah di dapur depot yang punya jargon 'Spesialis Sop Buntut' ini secara langsung. Tidak ada bumbu instan seperti yang banyak ditawarkan oleh banyak perusahaan pengolah.

"Sesuai warisan dari ayah dan kakek saya, tidak boleh pakai bumbu instan," papar Hanny yang mengelola Depot Sari sejak 1991 bersama istri, dibantu beberapa pegawai.

Alumnus Teknik Elektro Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya tahun 1983 ini lantas bercerita, bila Depot Sari ini, dulunya bernama Depot Badjoel (bahasa jawa : buaya). Dikelola oleh almarhum kakeknya, Sam Djojo Prajitno sejak 1930.

Awalnya, depot ini cukup luas, sampai depan Jl Karet, menghadap Jembatan Merah yang masih kayu. Tidak berbalut besi seperti sekarang ini.

Sang kakek mengelola Depot Badjoel hingga 1970 kemudian diteruskan ayah Hanny, Bing Slamet Prajitno.

Ayahnyalah yang mengubah nama depot menjadi Depot Sari. Alasannya, ingin memberikan rasa yang nikmat sebagai sari sebuah menu makanan. Menu juga bertambah.

Hanny menyebutkan, kare ayam, ayam bumbu rujak, Bali bandeng, bali daging, empal goreng sayur asem, ayam goreng kalasan, nasi campur, nasi pecel, gule kambing, sayur asem, sate ayam, sate kambing, sate ginjal sapi, sate sum-sum, dan lain sebagainya.

"Saya tetap mengikuti arahan kakek dan ayah saya, bumbu harus asli. Itulah yang membuat menu makanan di sini sedikit lebih mahal. Kami juga memasaknya dengan hati sehingga terasa bedanya," pungkasnya.(Juft/Surya)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...