21 September 2019

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (57

Bagian Kedua

Episode 40

 

Melawan Belanda Hitam

 

Bagian Kedua

 40

 

Sudah dari zaman kaphe-kaphe Belanda, banyak warga Hindia Belanda (Indonesia) menjadi ‘tangan kanan asing’. Mereka dengan sangat tega menjual dan menggadaikan negerinya kepada pihak asing. Itulah, mengapa dalam setiap penjajahan senantiasa  ada saja dari orang-orang pribumi  yang membantu serta melayani penjajah kaphe-kaphe Belanda. Bahkan sampai detik ini pun masih terjadi, para komprador , para pengkhianat, para cuak, para musang berbulu ayam atau serigala berbulu domba dari bangsa Aceh sendiri, berkeliaran di tengah kecamuk perang Sabil sejak bulan Maret,  tahun 1873. Dan kini, para pengkhianat  atau serigala berbulu domba dari bangsa Indonesia sendiri berkeliaran di tengah bangsa ini dimana mereka ingin menimbulkan kekacauan sosial, keterpecahan bangsa dan mengadu-domba sesama anak bangsa agar kekuatan penjajah asing atas nama PBB datang menyelesaikan masalahnya, tapi dari perspektif  penjajah, bukan perspektif anak negeri dan ini telah terjadi di Timor Timur dan negeri ini jika  perang saudara terjadi.  

Belanda Hitam atau Landa Ireng  (Londho Ireng) adalah satu kebijakan kaphe-kaphe Belanda yang didasarkan kepada Nationaliteitsregelingen (peraturan kewarganegaraan).  Secara kewarganegaraan termasuk kategori warga berkebangsaan Belanda, itulah sebabnya  mereka disebut  Belanda Hitam (zwarte Nederlander), orang Aceh menyebut kaphe-kaphe Belanda Hitam.

Sejak berakhirnya Perang Diponegoro (1825-1830), 43 tahun sebelum meletusnya Perang Aceh,kaphe-kaphe Belanda  saat melawan pemberontakan Jawa yang dipimpin oleh Pangeran DIponegoro, menyebabkan 8000 tentara kaphe-kaphe  Belanda tewas dan seluruhnya tentara berkulit putih. Mereka tewas samawa dalam pertempuran atau karena digerogoti  penyakit tropis seperti malaria, demam berdarah, disentri, diare, sampai penyakit berat lainnya. Akhirnya pemerintah kaphe-kaphe Belanda meniru pemnerintah kaphe Inggris  dan Perancis yang membawa paksa budak-budak dari Afrika ke Negara-negara jajahan seperti Malaysia, Vietnam, Hindia Belanda, India dslb.

Maka pemerintah kaphe-kaphe Belanda yang waktu itu penduduknya sangat sedikit  dibanding Perancis dan Inggris, mencoba mencari jalan keluar bagaimana tentara mereka bukan dari kulit putih, tetapi dari bangsa yang kesetiaan dan jiwa mereka disembah-sujudkan kepada pemerintah kaphe-kaphe Belanda.  Dari sinilah munculnya para komprador-komprador (asal mulanya adalah buda-budak yang dibeli kaphe-kaphe Belanda dan harus memenuhi kewajiban mereka untuk menjadi kaki tangan kaphe-kaphe Belanda sebagai tuan besar). Secara ontologis (keilmuan) komprador adalah  pengantara bangsa pribumi yang dipakai oleh perusahaan atau perwakilan asing (penjajah)  dalam hubungannya dengan orang-orang pribumi. Atau arti ini lebih lengkap: Komprador adalah  anak bangsa yang tega serta rela  menjual seluruh kepentingan bangsa dan rakyatnya (ekonomi, politik, budaya bahkan agama) untuk  kepentingan pribadi dan keluarganya. Rakyat dan bangsanya dibiarkan (rela) diperas dan dijajah bangsa asing, sementara komprador (anak bangsa yang menjadi pengantara itu) hidup kaya dari hasil menjual kepentingan-kepentingan tersebut.

Melihat  betapa sedikitnya rakyat kaphe-kaphe Belanda untuk bisa menyumbangkan tenaganya untuk kepentingan Negaranya, maka dikuatirkan seluruh bangsa kulit putih kaphe-kaphe Belanda akan musnah  dalam beberapa tahun saja karena dikerahkan ke medan tempur di Hindia Belanda dan tano Aceh. Di sinilah kecerdasan otak licik kaphe-kaphe Belanda, jika nanti pecah  peperangan  di berbagai daerah jajahan di Hindia Belanda,  maka tenaga manusia yang melimpah dari wilayah lain seperti Ambon, Manado, Madura, Jawa akan direkrut untuk menjadi  tentara kaphe-kaphe Belanda. Untuk menyelamatkan agar tidak musnahnya bangsa-bangsa kulit putih dalam waktu singkat dan cepat, pemerintah kaphe-kaphe Belanda mengeluarkan peraturan terkait warga kulit putih dimana akan dikenakan biaya yang sangat  tinggi jika mendaftar  menjadi tentara bayaran  baik untuk negara kaphe Belanda sendiri maupun negara tetangga seperti Perancis, Inggris , Italia, Denmark dlsb.

Selain daerah yang telah disebutkan di atas )Ambon, Manado dst-, maka dari luar  Hindia Belanda , pemerintah kaphe-kaphe Belanda yang saat itu dipimpin oleh Gubernur Jendral Van den Bosch, mengeluarkan peraturan untuk mengambil  tentara bayaran yang  berasal dari Ghana dan Burkina Faso (dulu  dikenal sebagai Negara Afrika Barat).   Selain orang Ambon, Manado, Madura dan Jawa, orang-orang Afrika dikenal  pemberani dalam medan perang. Mereka juga  lebih tahan menghadapi penyakit di wilayah-wilayah  tropis dan panasnya iklim di Negara-negara dimana mereka ditugaskan.  Gubernur Jenderal van den Bosch mengeluarkan keputusan yang dinamakan "Algemeene Orders voor het Nederlandsch-Oost-Indische leger" pada titimangsa  4 Desember 1830. Bosch menetapkan pembentukan suatu organisasi ketentaraan yang baru untuk wilayah jajahannya Hindia-Belanda, dengan nama  "Oost-Indische Leger"  atau Tentara India Timur). Pada titimangsa 1836, predikat "Koninklijk" disematkan oleh  Raja Willem I yang berkedudukan di Negeri Belanda. Inilah raja penjajah kaphe-kaphe Belanda yang duduk di singgasananya di Nedherlandsch, sebagai raja yang menikmati hasil perampokan anak buahnya di Hindia Belanda.

Tetapi hanya sedikit orang Arika yang sampai ke Aceh, dan itupun karena dipaksa untuk ikut perang ke tano Aceh. Dari orang-orang yang menjadi kaki tangan kaphe-kaphe Belanda inilah munculnya borjuis komprador. Mereka adalah bagian dari kelas menengah pribumiyang kompak bersekutu dengan kaphe-kaphe Belanda atau Amerika (sekarang disebut investor asing, atau perusahaan multi-nasional, termasuk juga mereka yang bekerja sebagai bankir, dan menyediakan dirinya untuk kepentingan militer Negara majikan mereka.

Sebagai tentara bayaran yang berstatus budak, mereka digaji setengah dari gaji tentara kulit putih. Dan tambahan kewajiban bagimereka adalah bayaran tambahan,  mereka wajib menebus  status mereka sebagai  budak kaphe-kaphe Belanda sebanyak f 100 (seratus Gulden) yang dipotong dari gaji mereka yang banyaknya 20 Gulden setiap bulan (separo dari gaji tentara kaphe-kaphe Belanda kulit putih). Tentu saja, pembayaran berdasarkan potongan gaji mereka setiap bulan sampai terkumpul 100  gulden. Kaphe-kaphe Belanda Hitam ini menjadi tentara yang tangguh dan sangat berharga bagi kaphe-kaphe Belanda, kaphe-kaphe  Belanda menurunkan peraturan  keuangan dimana pemerintah kaphe-kaphe Belanda tidak menalami kerugian (karena mereka juga tidak mau dirugikan). Sebenarnya kaphe-kaphe Belanda hitam  ini telah berjasa sangat banyak dalam mempertahankan kekuasaan kaphe-kaphe Belanda  di Hindia Belanda.

Mengapa semua ini, penjajahan, adanya bangsa pribumi yang menjadi penjilat (komprador) penjajah asing dan segala bentuk pemerasan itu bisa terjadi?  Ternyata sumber dari segala kekacau-balauan ini adalah adanya keinginan bangsa-bangsa  Eropa untuk menguasai sumber daya alam (SDA). Sumber daya alam adalah potensi sumber daya yang terkandung di dalam bumi, air, maupun di udara baik  di Aceh maupun di seluruh Hindia Belanda. Bagaimana motif negara-negara penjajah seperti  kaphe-kaphe Belanda, ditambah  kaphe-kaphe Spanyol, Portugis, Perancis, Inggris dan terakhir  kaphe-kaphe yang lebih jahat dari semua kaphe adalah Kaphe Amerika Serikat untuk menjajah Negara-negara miskin dan sebagian bangsanya dibodohkan, sebagian dijadikan kaki tangan untuk mengabadikan ketergantungan bangsa tersebut untuk tuan-tuan penjajah mereka?

Semua ini adalah hasil dari  dendam agama yang mereka sebut sebagai motif ideologis yaitu  perang salib, negara-negara  penjajah itu  melakukan segala cara untuk menguasai daerah-daerah kaya Sumber Daya Alam yang mereka temui lewat penelitian geologi, menemui mineral dan logam untuk dieksploitasi dan dihisap.

Bila di awal penjajahan bangsa Spanyol dan Portugis, bangsa yang tamak untuk menguasai daerah lumbung lada, cengkeh dan pala. Kini penjajah kaphe-kaphe Belanda, Inggris, Perancis dan Amerika menguasai Negara-negara yang menjadi lumbung (penghasil)  minyak terbesar di dunia. Bila suatu bangsa telah menguasai minyak, berarti mereka telah menguasai energy masa depan.  Itulah sebabnya wi;layah-wilayah yang sangat  kaya tambang minyak seperti Timur Tengah, Asia Tenggara sampai  Asia Tengah telah dan akan dijadikan  wilayah yang tak pernah henti  bergejolak dalam lumpur peperangan  akibat invasi dan cengkraman imperialisme Barat, terutama Amerika Serikat, Inggris, serta  Perancis.

Makaitulah sebabnya Syekh Ahmad  Al-Jabbar selalu menyerukan kepada setiap umat islam terutama di Aceh, patuhilah ulama! Patuhilah Ulama, karena ulama yang takut kepada Tuhan itulah yang mempersatukan umat Islam di wuilayah ini. Bila kalian semua bersatu untuk melawan mereka, tak ada satu kekuatanpun yang mampu mereka geser dari tano Aceh ini, kecuali mereka mati dan tewas dalam kehinaan dan kekenyangan disebabkan hubbuddunya dan takut mati. Namun jika kalian semua tak mau bersatu dan melemahkan persatuan dan keyakinan kalian kepada ulama sebagai pewaris nabi, maka kalianlah yang akan menjadi santapan mereka. Kalianlah yang akan menjadi “anjing diburu”. Kalian wahai umat islam, akan menjadi orang yang tewas dalam kehinaan dan kekenyangan karena hubbuddunya dan takut mati. Sebagaimana begitu hinanya anak manusia ini, nasib dan masa depannya sebagai pernah ditulis penyair Khairil Anwar dalam Catetan Tahun 1946. Saat seluruh rakyat  Indonesia (dahulu Hindia Belanda) termasuk bangsa Aceh secara keseluruhan sedang memperebutkan arti kemerdekaan dalam agresi pertama di penghujung 1946 menuju awal 1947. Lihat dan maknai puisi yang ditulis penyair yang juga ikut berjuang melawan kaphe-kaphe Belanda di belantara Jakarta: 

Ada tanganku, sekali akan jemu terkulai,
Mainan cahya di air hilang bentuk dalam kabut,
Dan suara yang kucintai ‘kan berhenti membelai.
Kupahat batu nisan sendiri dan kupagut.

Kita — anjing diburu — hanya melihat sebagian dari
sandiwara sekarang
Tidak tahu Romeo & Juliet berpeluk di kubur atau
di ranjang
Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu
Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat.

Dan kita nanti tiada sawan lagi diburu
Jika bedil sudah disimpan, cuma kenangan berdebu;
Kita memburu arti atau diserahkan kepada anak
lahir sempat.
Karena itu jangan mengerdip, tatap dan penamu
asah,
Tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering
sedikit mau basah!

Apa yang kalian mau tulis? Jika nasib kalian semua bagai anjing yang layak diburu,  ditombak dan dibunuh – karena hinanya derajat kalian, karena jauh dari ulama yang akan mempersatukan kalian menjadi satu umat yang kuat, mengabdi kepada Allah di bawah bimbingannya karena ulama selalu menghubungkan kekuatan kalian dengan kekuatan Allah Swt yang abadi? Sedangkan kekuatan kaphe-kaphe Belanda itu, hanyalah kekuatan yang sangat lemah karena bersandar kepada Iblis yang tak punya kekuatan apapun, kecuali berani berbuat zalim, berani menipu, mengadu domba sesama umat manusia untuk mepertahankan sifat hina dan keji mereka, meranpas, menghisap dan mengeskploitasi kalian di bawah kekuatan mereka yang sebenarnya sangat layak bagai nasib “anjing diburu”. Bukan kalian, tapi mereka, karena mereka berjalan di bawah jalan sesat yang nyata! Ujar Sykeh Ahmad al-Jabar.

Dan terakhir Syekh Ahmad Al-Jabbar menutup: kekuatan menipu, kekuatan mengadu domba, kekuatan merampok dan membunuh itu sajalah yang mereka miliki dari dulu sampai sekarang. Sementara kalian diajarkan untuk benar-benar kukuh dalam persatuan, berkata benar, jihad dan mempersembahkan seluruh harta, jiwa dan raga kalian untuk kemuliaan agama Allah di bawah pemerintahan khalifah yang adil dan berbuat baik kepada seluruh manusia, apapun bangsa dan agama manusia yang berada di bawah pemerintahannya. Sementara Iblis dan penjajah itu memisahkan kalian dari diri mereka, karena bangsa dan agama kalian berlainan dengan mereka.  (Bersambung)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...