24 May 2017

Ketika Seorang Perempuan Dapat Perlindungan dari Sunat Perempuan

KONFRONTASI -  Seorang wanita asal Inggris menjadi orang pertama yang diberikan penetapan pengadilan untuk melindunginya dari menikah paksa dan sunat perempuan. Dia menceritakan kisahnya.

“Saya berusia 17 tahun saat keluarga ayah saya di Asia selatan mulai memintanya agar mengingatkan saya untuk mulai berpikir untuk menikah,” jelas Zara –namanya disamarkan untuk menyembunyikan identitasnya.

“Di tahun yang sama saya dijodohkan. Saya setuju lelaki tersebut akan menjadi pasangan yang sesuai dan kami telah mengobrol di daring.

“Kami sedang memutuskan tanggal pernikahan ketika mendadak semuanya dibatalkan.”

Dia kemudian mengetahui alasannya adalah karena dia belum menjalani sunat perempuan – yang di Inggris dikenal dengan mutilasi alat kelamin perempuan (female genital mutilation/FGM)

    Sunat perempuan di Indonesia, tradisi atau ajaran agama?
    Tindik vagina digolongkan sunat perempuan
    Komnas kecam sunat perempuan
    Pro dan kontra sunat perempuan

Di adatnya, dia menjelaskan, sunat perempuan (FGM) dipandang sebagai hal yang lumrah, dan dia dianggap “tak terpuji, bukan Muslim” karena belum melakukan sunat.

Ayahnya juga mulai mendapatkan ancaman – termasuk dari anggota keluarga – yang berkata dia “tak melakukan tugasnya sebagai seorang ayah” karena mengizinkannya tak melakukan sunat.

Tekanan ini berkembang seiring waktu, dengan pernikahan-pernikahan lainnya yang gagal karena alasan yang sama. Ketakutan menjalani FGM ini membuat Zara mulai mengalami masalah kesehatan mental.

“Tiba di satu titik dimana saya berhenti makan. [Saya] tak memiliki harapan masa depan. Saya pingsan beberapa kali,” dia berkata.

“Keresahan saya tiba di puncaknya. Saya tak dapat berdiri tegak – saya akan bergoyang, jatuh.”

Di saat itu, pembicaraan terus menerus mengenai FGM di keluarganya membuat Zara memandang sunat sebagai “normal”, dan dia berpikir dia tak memiliki pilihan selain melakukannya jika dia ingin menikah.
Temukan selebihnya

Victoria Derbyshire programme disiarkan setiap hari kerja dari 09:00 – 11:00 di BBC Two dan BBC News Channel

Hasilnya, Zara membuat janji temu dengan dokter keluarganya awal tahun ini untuk membahas FGM, dan langsung diberitahu jika proses tersebut ilegal. Zara diminta untuk menghubungi organisasi perlindungan anak di Inggris, NSPCC, yang kemudian merujuknya ke Kepolisian West Midlands, tempatnya bermukim.

Zara memberitahu mereka jika ia percaya ayahnya sedang berusaha mengatur sebuah kawin paksa kepadanya – dan jika ia dapat dibawa ke luar negeri untuk menjalani FGM.

Satuan tersebut menempatkan dua pekerja kasus untuk Zara. Salah satunya, Jody Edwards, mendaftarkan kasus kawin paksa ini ke pengadilan perdata dan perintah perlindungan FGM - pertama kali terjadi untuk kasus seperti ini di Inggris – atas namanya, untuk memastikan keamanannya.

Ayah Zara ditanyai atas tuduhan FGM dan kawin paksa, meski dia tidak didakwa atas pelanggaran apapun.

Jody Edwards mendaftarkan kasus FGM ke pengadilan atas nama Zara.

“Saya menghubunginya lewat telepon setiap hari, untuk memantau keadaan dan memberi informasi terkini, meyakinkannya terus menerus... bahwa kita dapat mencegah terjadinya FGM,” dia berkata

“Zara berpikir dia harus berdiri di pengadilan [dan bersaksi melawan ayahnya]. Namun ketika saya menjelaskan saya yang akan melakukannya, mengambil semua informasi dan mendaftarkan ke pengadilan atas namanya dia telah [membuat perbedaan besar].”

Hanya dalam waktu sekitar seminggu, perintah perlindungan dikabulkan pengadilan. Perintah ini memastikan langkah-langkah praktis yang dapat melindungi Zara, seperti mengambil paspornya sehingga dia tak dapat dibawa ke luar negri untuk menjalani FGM.

Zara berkata ayahnya juga mengubah nomor teleponnya dan alamat surelnya untuk menhindari kontak dengan orang-orang yang ingin mempengaruhi pandangannya terhadap sunat perempuan.

    Pelaku sunat perempuan di Tanzania diadili
    Sunat perempuan berlanjut di Mesir
    HRW minta sunat perempuan dilarang di Kurdistan

Perintah perlindungan terhadap FGM seperti ini sudah hadir di Inggris, Wales dan Irlandia Utara sejak Juli lalu, diberikan ke 32 orang di akhir 2015, menurut catatan Departemen Kehakiman.

Angka ini dianggap terlalu rendah, dimana Pusat FGM Nasional Inggris meminta para profesional yang berhadapan dengan para perempuan yang berisiko agar “lebih berani’ menyatakan kasusnya.

Perintah perlindungan kawin paksa telah hadir sejak 2007, tahun lalu ada 217 perintah yang dikeluarkan.
Ketegangan besar

Seiring berjalannya waktu, dengan persetujuan Zara, polisi terus berusaha menjelaskan ke ayahnya jika di Inggris memaksa menikahkan seseorang atau FGM adalah ilegal.

Sunat perempuan (FGM) ilegal di Inggris.

Zara berkata proses ini berhasil, dia pun masih tinggal di rumah bersama ayahnya.

“Sempat canggung, namun saya tahu itu adalah hal yang benar,” dia berkata. “Itu menyebabkan ketegangan besar di keluarga saya, namun kami berusaha maju. [Ayah saya] cukup terguncang.

“Saya juga menjalani terapi. Saya menderita kecemasan tinggi.”

Namun Zara juga berkata – dengan senyum di wajahnya - jika ia “merasa aman, seperti mendapatkan hidup yang baru”.

Dia berharap kisahnya dapat mendorong perempuan lain untuk melapor ke polisi, dan meningkatkan kesadaran. “Saya ingin orang-orang tahu jika FGM tidak hanya ada di Afrika, ini terjadi dimana-mana.”(Juft/BBC)

Category: 

loading...


News Feed

Loading...