16 December 2017

Fakta Unik Celana Jins yang Tak Banyak Diketahui

Konfrontasi - Siapa tak kenal dengan model celana denim yang bernama jins (jeans). Boleh jadi, celana ini adalah yang paling populer di dunia karena dapat digunakan untuk setiap aktivitas tanpa mengenal umur.

Selain modelnya yang sederhana, celana jins juga cocok dengan pakaian model apapun. Bahannya yang relatif kuat dan gampang perawatannya membuat celana jenis ini difavoritkan banyak orang.

Sebelum membahas lebih banyak, apa perbedaan denim dan jins? Seperti dikutip banyak sumber, denim adalah bahannya sedangkan jins adalah produknya.

Dalam sejarahnya, jins pertama kali dipakai oleh pelaut dan penambang emas dari California, Amerika Serikat. Denim sendiri berasal dari kata "Serge de Nimes" yang merupakan sebuah kota di Prancis. Sedangkan kata jins berasal dari "Genoese" yang merupakan sebutan bagi para pelaut dari Italia yang selalu memakai baju berwarna biru saat berlayar.

Meski telah umum digunakan, ada empat fakta tentang celana jins yang ternyata tak banyak diketahui orang. Berikut adalah fakta-fakta itu:

1. Bahan pewarna jins dari Indonesia

Warna biru dari jins merupakan hasil dye (celupan) dari tanaman indigofera, yang dipergunakan sejak 2.500 tahun sebelum Masehi. Nama indigovera sendiri berarti emas biru, dan Indonesia merupakan pemasok indigovera terbesar di dunia.

Di Indonesia, indigofera disebut juga dengan nama tanaman nila. Selain untuk pewarna, tanaman ini juga sering digunakan sebagai pakan ternak karena mengandung banyak nutrisi.

Perkebunan indigofera yang pertama di Indonesia adalah di Wonogiri dan di sekitar Ambarawa, Jawa Tengah. Pada tahun 1830, saat masa tanam paksa oleh penjajah kolonial, tanaman ini menjadi pilihan wajib setelah kopi, karet, tebu, dan teh.

2. Tidak boleh dicuci terlalu sering

Jika ada pakaian yang paling jarang dicuci, maka jins adalah salah satunya. Ternyata, hasil fading yang sangat cantik akan muncul bila jarang sekali mencuci jins. 

Fading artinya kepudaran atau garis-garis yang muncul dalam celana jins. Istilah yang umum digunakan adalah belel. 

Ternyata, fading ini dapat menjadi ciri khas bagi pemiliknya karena fading bisa terjadi karena adanya gesekan pada bagian-bagian tertentu.

Menurut Chip Bherg, CEO Levi Strauss, keseringan mencuci celana berbahan denim ini akan merusak materialnya. Alasannya, bahan ini idealnya akan bertahan baik jika tidak dicuci selama enam bulan. Kalaupun ada noda kotor yang melekat pada bahan ini, kata dia, cukup bilas dengan digosok oleh sikat gigi pada wilayah yang kotor.

3. Saku kecil pada celana jins

Hasil gambar untuk celana jeans

Saku kecil yang berada di celana jins ini ternyata memiliki fungsi. Seperti dikutip dari laman resmi Levi Strauss, saku kecil tersebut digunakan bagi para koboi untuk menyimpan jam saku mereka.

Seperti diketahui, dalam sejarahnya, produk pertama Levi's ini memang dikhususkan untuk para pekerja tambang emas. Fungsinya, untuk menyimpan butiran-butiran emas yang berukuran kecil.

Meski zaman jam saku dan penambangan emas telah berlalu, keberadaan saku kecil itu masih dipertahankan. Salah satu fungsi saku kecil itu sekarang adalah untuk menyimpan uang koin.

4. Jins mahal dan bersejarah

Semakin pudar suatu jins semakin mahal bila dijual. Tentu saja ini berlaku dengan syarat yang tidak boleh sering dicuci. Bukan hanya itu, merek dan lamanya pemakaian juga mempengaruhi nilai pada sebuah celana jins.

Ini terbukti saat pelelangan celana jins beremerek Levi’s seri 501 di situs Ebay pada tahun 2005. Pada pelelangan itu, celana jins tersebut terjual seharga Rp 625 juta kepada seorang kolektor jins asal Jepang yang tak mau disebutkan identitasnya.

Seri Levi’s yang dilelang itu adalah buatan tahun 1873. Kondisinya masih utuh meski banyak fading dan bolong di beberapa bagian. Meski demikian, jins ini dianggap memiliki nilai sejarah yang tinggi. (pkrnrkyt/mg)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...