25 November 2017

"Marah di Bumi Lambu", Perjuangan Masyarakat Melawan Pertambangan

KONFRONTASI-Film dokumenter "Marah di Bumi Lambu" yang bercerita tentang perjuangan masyarakat melawan pendirian pertambangan di beberapa wilayah di Bima, Nusa Tenggara Barat, diluncurkan kepada publik di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin malam.

"Cerita dokumenter ini diambil dari sebuah kejadian nyata yang menggambarkan bahwa dialog dapat menyelesaikan konflik meski harus ditempuh dengan perlawanan," kata Hafiz Rancajale, sutradara film dokumenter "Marah di Bumi Lambu" seusai pemutaran karya audio visual kerja sama Komnas HAM dan Forum Lenteng itu.

Hafiz mengatakan film dokumenter tersebut banyak mengedepankan sisi-sisi kemanusiaan dan pembelaan HAM.

"Film ini berupaya merekam kenangan masyarakat tentang rangkaian peristiwa tragedi itu sendiri. Rangkaian cerita-cerita kemanusiaan dan mimpi-mimpi mereka tentang tanah leluhurnya," kata dia.

Dia mengatakan dokumenter yang digarapnya tersebut berkisah tentang kenangan masyarakat Lambu pada peristiwa Tragedi Sape Lambu 2012. Dari insiden tersebut menelan tiga korban dari pihak warga yang saat itu sedang melakukan aksi massa melawan pembukaan tambang di kawasan itu.

Korban jiwa yang berjatuhan itu terjadi karena bentrok antara pengunjuk rasa dengan aparat kepolisian.

Pada tahun itu, Pemda Kabupaten Bima hendak mengubah area Lambu menjadi daerah pertambangan lewat izin usaha pertambangan kepada pemilik modal. Mengetahui hal itu memicu reaksi penolakan dari masyarakat karena mereka merasa berbagai sektor kehidupan masyarakat yang berbasis pertanian akan terengut.

Warga yang telah tinggal turun temurun di wilayah-wilayah Rato, Sumi, Sape dan Lambu itu mengetahui jika pertambangan hanya akan membawa kerugian lingkungan dan tidak memberi keuntungan bagi masyarakat sekitar layaknya di Sumbawa melalui perusahan tambang PT Newmont Nusa Tenggara.

Dalam film dokumenter berdurasi 92 menit itu juga menceritakan pergerakan massa yang diorganisir oleh empat orang mahasiswa dari daerah setempat.

Berdasarkan penuturan Hafiz, film dokumenter itu bisa disaksikan oleh publik melalui berbagai saluran salah satunya lewat situs berbagi video Youtube.

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...