23 November 2017

Hidup Berulangkali Melalui Film

Oleh Denny JA

 

Jika kau ingin hidup berkali kali, dengan pribadi yang berbeda dan pengalaman yang beragam, tontonlah dan hayatilah banyak film. Alami dalam imajinasi dan renungkan aneka kisahnya seolah dirimu hidup di dalamnya.

Demikialah sabda dari Robert Altman, seorang raksasa film maker yang mendedikasikan hidup pada dunia film.

Saya pribadi merasakan benarnya kutipan itu. Sejak kelas dua SMA, Saya menjadi kutu buku, dan senang berjumpa dengan begitu banyak jenis manusia. Kegiatan ini sudah saya lakukan sampai 2017: 40 tahun.

Namun sejak tahun 2007, 10 tahun lalu, saya sangat hobi mengkoleksi dan menonton film.  Ternyata pengalaman menonton banyak film selama 10 tahun jauh lebih banyak mengajarkan saya soal hidup dibandingkan 40 tahun pengalaman membaca ribuan buku dan jumpa ratusan manusia.

Dengan menonton film yang bagus, seolah saya  mengalami peristiwa yang lain, menyelam, masuk ke dalam film. Saya berinteraksi dengan aneka peran di film itu, merasakan kisah kedalaman atau kepalsuan cinta, perjuangan, persahabatan, sukses, atau kegagalan, penghianatan dan tragedi yang disajikan.

Film selesai, keluar pula saya dari film itu, namun dengan pribadi yang sudah diperkaya oleh peristiwa orang lain. Pengalaman kisah sepenggal waktu, atau mungkin puluhan tahun aneka peran di film itu sampai ke saya hanya dalam waktu 90- 180 menit, sesuai dengan durasi film.

Menonton film lain, kembali saya masuk ke sana berjumpa dengan pengalaman yang berbeda, sesuai dengan tokoh utama dan perannya. Menonton ratusan film, bagi saya sama dengan hidup ratusan kali dengan dunia yang beragam. Kadang saya seolah hidup dengan peran dan waktu yang mustahil saya jangkau di dunia saya yang nyata, kini dan di sini.

Misalnya ketika menonton film Rabbit Proof Fence (2002). Seolah saya masuk ke tahun 1940an, menjadi saksi dua gadis cilik campuran suku aborigin dan kulit putih, yang kabur lari  ribuan kilometer. Seolah dua gadis itu bercerita kepada saya tentang hidupnya yang celaka, hanya karena separuh kulit putih separuh aborigin. Mereka iburu untuk masuk camp agar dididik kembali menjadi murni kulit putih.

Jelaslah mustahil saya mengalami dialog dengan dua gadis aborigin tahun 1940an dalam kondisi saya hidup di era hak asasi manusia 2017.

-000-

Sejak 2007, ada harta yang sangat saya banggakan. Kepada banyak teman dekat, saya  bercerita. Harta itu koleksi lebih dari 1000 film yang disimpan dalam sebuah software.

Dibantu oleh ahli programer, selama 6 bulan,  saya mendapatkan semua film yang menang Festival Film Oscar sejak tahun pertama, festival Film Cannes sejak tahun pertama, Festival Film Berlin sejak tahun pertama.

Koleksi ditambah lagi oleh 100 film terbaik sepanjang sejarah pilihan AFI (American Film Institute) baik untuk kategori umum, ataupun yang dibagi lagi kedalam aneka genre.

Diperkaya dan diupdate lagi koleksi saya setiap tahun oleh top 100 movie of the year pilihan para kritikus di Rotten Tomatoes. Di kantor dan di rumah, sayapun membuat bioskop mini untuk menikmatinya.

Setiap minggu saya menonton 3-10 film, tergantung kegiatan lain. Teman yang tahu keasyikan saya soal film, mengatakan konsultan politik atau bisnis adalah pekerjaan sampingan saya. Tapi pekerjaan utama saya menonton film.

Namun tak semua film yang saya tonton menggerakkan tangan untuk menuliskan kesan. Kesadaran menulis baru muncul kembali empat tahun belakangan ini, setelah saya hijrah ke dunia bisnis dan konsultan politik.

Ketika mereview film, tak pula saya membahas teknikalitis soal aneka pandangan sinematografis. Saya tidak mereview film dengan aneka teori akademik seperti yang ada dalam buku Signs and Meaning in Cinema karya Peter Wollen misalnya.  Atau seperti buku Hitchcook’s Film karya Robin Wood.

Saya memilih mencari gagasan utama film itu yang inspiratif, atau informatif. Yaitu gagasan yang bersentuhan dengan drama manusia, perubahan karakter atau sisi perjuangan yang membuat kita merenung tentang hal ihwal soal hidup yang tak kunjung selesai.

-000-

Separuh dari review yang dimuat di buku ini film  kisah sejati. Drama kongkret manusia dipindahkan ke  layar lebar.

Bagaimana misalnya kisah cinta yang begitu diperjuangkan melawan resistensi keluarga besar, dan masyarakat. Namun kisah cinta itu akhirnya mengubah sistem pemerintahan (A United Kingdom).

Atau kisah  cinta yang membuat mereka masuk penjara karena itu terjadi antara kulit putih dan kulit hitam di satu masa. Namun mereka bersikeras pertahankan cinta itu.  Mereka melawan hukum yang tak adil hingga ke tingkat Mahkamah Agung. Upaya mereka dengan aneka penderitaan akhirnya mengubah hukum nasional sebuah negara (loving).

Ada pula kisah sejati soal keterbatasan fisik (disabel). Pribadi yang besar tak terhalangi oleh keterbatasan fisik meraih puncak (Ray, My Left Foot, the Diving Bell and Butterfly).

Bagaimana Ray Charles menjadi buta mata sejak kecil. Lalu ia kembangkan daya dengar telinga dan kemampuan menyanyi. Sepanjang karirnya, ia berjumpa pengusaha yang acapkali menipu dirinya dan memanfaatkan matanya yang buta.

Sejak kecil ia selalu ingat ibu yang mendidiknya secara keras: jangan pernah kau berharap belas kasihan orang lain karena kau buta. Kau harus berjuang untuk dirimu sendiri. Ia bahkan berjuang mengalahkan kecanduan narkoba pelariannya dari dunia nyata. Kini Ray Charles tercatat penyanyi paling berpengaruh no 2 dalam sejarah.

Atau film dari serial TV: House of Cards. Saya menonton 65 serialnya yang menghabiskan waktu 60 jam. Ketika menonton film ini saya mengalami flow: lupa waktu, hilang intens dalam tontonan.

Dari serial film House of Cards, saya tuliskan enam serial kisah perjuangan suami istri menggapai puncak kekuasaan di White House. Menonton 65 serial ini bahkan mengajarkan saya soal politik lebih dalam dan hidup dibandingkan sekolah Ph.D saya di Amerika Serikat bidang political science.

Itulah hebatnya film yang bagus.

-000-

Saya memang merencanakan ingin menerbitkan buku review film. Tapi saya menunggu lebih banyak lagi film yang sudah direview. Juga saya perlu menyusun review atas pilihan film secara lebih sistematis dan kategoris.

Namun di era digital ini, memungkinkan kita menerbitkan buku dengan konsep tumbuh melalui  eBook. Tak apa buku diterbitkan berdasarkan apa yang ada dulu. Ketika ada bahan tambahan, bahan itu tinggal dicangkokkan saja dalam buku, dengan mengeditnya kembali secara digital.

Selama bukunya eBook, mudah saja menerbitkan buku dengan konsep buku tumbuh. Ini analog dengan rumah tumbuh, rumah yang sudah kita siapkan design akhirnya. Tapi kita sudah bisa membangun dan tinggal di rumah itu yang baru dibangun sebagian saja dulu.

-000-

Sampai hari ini sudah menjadi habit saya untuk selalu menonton film. Berpindahnya bioskop dari Mall ke internet sungguh menjadi peristiwa besar. Aneka film baru yang belum muncul di bioskop sudah bisa ditonton di internet.

List 5 film terbaik nominasi Oscar yang terbaru misalnya. Tak satupun dari nominasi itu yang sudah masuk ke Indonesia. Tapi saya sudah menonton semuanya melalui internet.

Bukan kepuasan menonton film terbaru itu benar yang menggugah saya. Tapi film itu membuat saya seolah melakukan perjalanan batin masuk ke dalam suasana dan peristiwa di film itu. Batin saya sungguh diperkaya. Kadang sambil menonton film, sendirian saya tertawa, marah, terdiam, tercekam dan teteskan air mata.

Saya teringat ucapan Richard Nixon ketika ia berkata. Jika anda ingin memdalami politik, jangan baca buku ilmu politik, tapi bacalah agama, filsafat dan sastra.

Berdasarkan pengalaman pribadi, kutipan Nixon itu perlu direvisi dan diperluas. Jika anda ingin mendalami jiwa dan karakter manusia, tontonlah film yang bagus. Merenunglah dan hiduplah seolah anda ikut terlibat dalam peristiwa di film itu.*

 

November 2017

 

(Pengantar Buku “Wanita di Balik Lelaki Berkuasa: Memahami Manusia Melalui Film.” Buku kumpulan review 30 film, karya Denny JA).

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...